Friday, 18 August 2017

Blogger itu...???

Bagi blogger mengisi deretan tulisan harian menjadi kewajiban yang mendekati fardhu a’in. Artinya sesuatu hal yang apabila ditinggalkan akan mempengaruhi eksistensinya sebagai blogger. Hitungan per klik per hari harus mencapai berapa ratus atau bahkan ribuan jumlah pengunjung menyebabkan ratingnya naik sehingga pendapatannya pun bertambah. Tipe blogger ini pemburu dollar yang memanfaatkan google adsense sebagai kontribusi karyanya.

Ada lagi yang memilih blog sebagai pengembangan diri atau mengeksplor kemampuan berfikir, serta menuliskan kembali ide-ide, berbagi pengalaman, mengajak ataupun lainya bersifat non profit. Lebih singkatnya blogger tersebut tidak mendaftarkan melalui adsense atau sudah keburu frustasi dari sekian pengajuan, berkali-kali pula mengalami penolakan. Para kumpulan user blog patah hati ini akhrinya harus meniti kata demi kata tanpa profit apapun yang disediakan oleh google.

Lalu tipe apa yang mendasari saya sebagai seorang blogger?
Lebih pantasnya tipe nomor 2 pemilihan blog sebagai ajang saling memberikan informasi, pengalaman atau hal-hal yang bersifat sebagai laporan kegiatan. Non profit artinya tidak mementingkan kontribusi karya yang dipublikasikan ke ranah publik.

Apa yang motivasi menjadi seorang blogger?
Semua itu tidak terlepas dari beberapa inspirasi tokoh orang-orang besar yang terlahir dari seorang wartawan. Pak Karni Ilyas misalnya, presenter Indonesian Lawyer Club yang mendapatkan julukan wartawan senior, Pak Dahlan Iskan, yang pernah memegang peranan penting di Jawa Pos, serta yang lebih esensi seorang sastra dan juga pernah berada pada keluarga besar harian Kedaulatan Rakyat yaitu Mbah Nun (Emha Ainun Nadjib). Beliau-beliau ini beberapa tokoh yang selalu membuat semangat untuk belajar tanpa henti. Bahkan Mbah Nun pernah berpesan, “Jadilah botol kosong saat bertemu dengan orang lain, dengan demikian maka akan mudah belajar dari pengalaman orang lain”.

Apa tujuan utama mempunyai blog?
Agar ketika meninggal anak serta keturunan saya mengerti buah karya yang bisa dinikmati secara online. Bisa lebih mudah mengakses tanpa harus kehilangan bukti fisik hard copy. Selain itu harapan besar bisa mencontoh sedikit kebisaan yang tidak lebih dari celotehan kata yang tidak penting namun bertanggung jawab atas kedaulatan hasil pemikirannya sendiri.

Hal-hal yang perlu diperhatikan ketika telah mempunyai blog?
Komitmen, kata yang enteng mudah dilakukan kalau dengan rasa cinta. Karena itu cinta dapat mengutarakan segenap ide-ide ataupun narasi, mengetahui batasan konsumsi SARA, ujaran kebenciian dan lain sebagainya. Yang diperlukan adalah nilai cinta kasih kepada sesama. Mengisinya tiap minggu agar hunian kamar blog tidak kosong tanpa deretan kata yang berjejer.

Virus blogger yang sering kambuh, benarkah itu terjadi?
Saya merasakan ada titik kejenuhan saat harus berlama-lama di depan komputer menuliskan minimal 400 kata untuk menghasilkan satu prosa. Belum lagi dengan target yang akan dibidik sesuai sasaran kalau sudah mendekati deadline kualitas sering dipertaruhkan. Lalu semuanya ada satu penyebab yaitu virus malas telah menjalar. Maka kembali lagi terhadap motivasi pertama bergabung dalam kebiasaan nge-blog dengan demikian semangat mengisi aktifitas blog akan muncul kembali.

Saya sudah merasa cukup beberapa kata yang telah saya susun beberapa paragraf di atas.  Secara langsung saya meyakini bahwa siapa saja kalau ingin mencoba kegiatan seorang blogger itu menyenangkan. Ada tantangan layaknya seorang redaktur harus mempublikasikan berita ke masyarakat umum, itu miniaturnya ada dalam aktifitas seorang blogger.


Thursday, 17 August 2017

Postingan Politik di Media Sosial

Di era serba digital baik informasi yang menyangkut perkembangan informasi, hiburan serta komunikasi terpaku pada peralatan canggih yang bernama smartphone. Ponsel nan sekaligus disematkan akses internet memudahkan menghubungkan dalam jejaring (keterkaitan) personal menjadi ruang publik yang bersifat maya yang tidak bertemu secara langsung. Media sosial menjadi sarana komunikasi bersama mengetahui segala macam yang di unggah menjadi konsumsi bersama tanpa hal batasan apapun apabila memang fasilitas privasi tidak diaktifkan oleh pemilik akun tersebut.

Saya termasuk salah satunya pengguna media sosial aktif. Jejaring pertemanan bernama facebook kerap saya kunjungi. Privasi tentang pekerjaan sudah saya aktifkan sehingga tidak semua menemukan informasi pekerjaan yang sedang saya jalani. Alasannya cukup simpel area pekerjaan tidak semuanya dapat dikonsumsi oleh publik.
Menilik lebih lama lagi  yaitu sekitar tahun 2006 saya telah resmi memiliki sebuah akun akun facebook. Alhamdulillah akun saya ini awet hingga sekarang meski tanpa diformalin. Memang, saat pertama menuliskan profil di kolom akun pekerjaan, lengkap sekali. Terlibat demam eksistensi diri, itu pasti. Meski kala itu status pekerjaannya masih berstatus sebagai pelajar atau mahasiswa, Entah korelasinya bagaimana antara pekerja, pelajar atau mahasiswa statusnya disamakan. Biarlah darah alay sedikit mengalir betapa komplitnya data-data tersebut saya sajikan layaknya mengisi Surat Izin Mengemudi.

Bertambahnya teman di dunia maya seiring dengan kegemaran saya bersepeda. Latar belakang dari berbagai strata tidak menyulutkan niatan bersepeda. Akhir pekan menjelang sore hari bermunculan unggahan foto bersepeda. Awalnya asyik-asyik saja, keadaan itu tidak bertahan berlangsul lama. Faktor x adalah penyebabnya. Yaitu keadaan politik merebak di media sosial yang menimbulkan kerancuan nasional dan para goweser pun turut  memberikan berbagai pandangan atau lebih seringnya membagikan berbagai informasi tokoh pendukungnya. Layaknya juru kampanye berorasi membanggakan jagonya bertarung di atas meja perpolitikan.

Bersitegang mempertahankan argumen jalan pembelaan buta terhadap pilihannya. Dampak horisontal pun terjadi tidak dapat dipungkiri. Akhirnya semuanya berbeda pendapat satu sama lain. Memberikan statemen saling meyakinkan kebenaran yang sebenarnya tidak sepenuhya benar. Atau membela yang tidak sepatutnya dibela. Postingan-postingan tersebut rawan oleh praktik adu domba devide et empera. Sedangkan perdebatan tersebut tidak ada batasan, moderator atau arah perdebatan menuju simpulan yang tercapai, umpatan kasar kerap itu terjadi.

Menghidar dari ranah politik jalan aman agar keadaan psikologi mempunyai ritme teratur. Postingan yang memberikan kemanfaatan bagi orang lain. Membuat seseorang lebih bersemangat, tersenyum bahkan bisa memberikan tawa bagi mereka yang sedang mencari sedikit hiburan di media sosial.

Mendefinisikan Nilai Pahlawan

Di antara kemeriahan menjelang HUT Kemerdekaan RI ke-72 kegiatan maiyah Suluk Pesisiran digelar pada tanggal 12 Agustus 2017 di Pendopo Kecamatan Kedungwuni Kabupaten Pekalongan. Acara yang juga dihadiri oleh penggiat Maiyah Gambang Safa’at, jamaah Suluk Pesisiran, kelompok Duror Al Musthofa dari Medono, grup sholawatan El Fata dan Lintang Kerti dari Pekalongan. Beberapa deretan  nara sumber yang akan membahas tema maiyahan yaitu dari tokoh sejarahwan Pekalongan Pak Dirhamsyah, budayawan Pak Suwito dan dari kalangan tim penulis sejarah Mas Agus Sulistyo beserta Mas Tifyani.

Tema kepahlawanan didaulat menjadi sesuatu yang akan dibahas lebih lanjut dalam sesi diskusi bersama penggiat Gambang Syafaat Mas Muhajir beserta Gus Aniq dan yang tidak kalah menariknya ada tamu spesial yaitu Pak Budi Maryono yang jauh-jauh dari Semarang untuk menyempatkan diri membaca cerpen di edisi maiyah kali ini.

Membuka tema maiyah Mas Agus Sulistyo membabarkan mengenai paradigma pemahaman pahlawan sering dipahami dari luar mengenai sosok yang telah berjasa dan berjuang tanpa pamrih. Namun apakah benar demikian keadaannya dalam sifat-sifat tersebut bisa semua lolos tanpa niat kepamrihan?. Bahasan ini setikdaknya membuka diskusi lebih lanjut agar setiap sesi berlalu penuh hangat kebersamaan.

Mas Muhajir pelan-pelan merespon kepahlawanan yang lebih menitikberatkan kepada sifat yaitu rela berkorban, memberikan kemanfaatan, berjiwa besar dan lain sebagainya. Sedangkan juga istilah yang berkembang yaitu pemahlawanan, yang memang sengaja mengangkat seseorang yang dipahlawankan. Biasanya untuk jenis ini bergantung sekali dengan kekuasaan pemerintah yang menentukan pantas atau tidaknya menjadi seorang pahlawan.

Di sela-sela pembukaan acara maiyahan Gus Anik menuturkan bahwa  akhir-akhir ini dari sisi lokal maupun secara global yang sengaja ingin memunculkan pahlawan sesuai dengan sejarah dari perspektif realitas daerahnya masing-masing. Seperti di Pekalongan sendiri sedang digagas mengenai sejarah pahlawan yang yang pertama membabat alas hingga menjadi beradaban hingga sekarang. Justru ini sosok pertapaan pahlawan yang selama ini berjasa masih terus bersembunyi yang sering disebut dengan local hero.

Bahasan lebih mendalam ketika Pak Suwito mulai memberikan prespektif mengenai sejarah yaitu sejarah hanya dimiliki oleh seorang pemenang sedangkan sesorang yang kalah maka tidak mempunyai sejarah. Beliau juga mengingatkan bahwa selama ini kita mengenal pahlawan dari dunia pendidikan baik itu benar-benar pahlawan atau seseorang yang dipahlawankan. Dari seluruh penjabaran di atas ternyata sangat sulit untuk mendefinisikan kriteria seorang pahlawan. Bagi beliau seorang pahlawan adalah seseorang yang tidak tampak yaitu rakyat kecil. Pejuang-pejuang yang gugur dan tidak diketahui siapa sebenarnya. Pahlawan-pahlawan tersebut menjadi narasi besar proses kemerdekaan bangsa kita.

Pada sesi diskusi maiyahan keadaan semakin hangat oleh beberapa respon dan pertanyaan dari jamaah. Pandu misalnya, “Sebenarnya kriteria apa yang harus dipenuhi untuk menjadi seorang pahlawan?”, tutur pemuda yang berasal dari Pekalongan.

Mengenai pembahasan local hero Ardi pemuda berasal dari Kertijayan bertanya, “Bagaimana solusi penyematan kepada pahlawan lokal yang berasal dari masyarakat?”.

Merujuk kepada sumber sejarah, maka Galuh menanyakan, “Apabila ada 2 pendapat sejarah berbeda yang membenarkan sejarah itu siapa?”, tanya Pemuda yang berasal dari Kraton Pekalongan.

Sebelum jawaban disajikan oleh nara sumber maka Pak Budi Maryono berdiri di depan jamaah maiyah kemudian membacakan cerpen yang bertemakan tentang kerakusan sosok tikus yang suka berada di bawah meja, sela-sela kertas, di balik kantor yang membabi buta berlarian terus menerus. Kemudian jamaah maiyah terpukau atas ekspresi pembawaan Pak Budi Maryono bercertia saat anak tikusnya harus menangis setelah kepergian bapak tikus menuju istirahatnya terakhir. Memang beliau sangat mahir membacakan cerpen di muka publik, hingga idiom tikus kantor turut diceritakan sebagai seorang koruptor yang meninggal dengan penuh kealpaan .

Menanggapi beberapa pertanyaan dari jamaah sedikit demi sedikit nara sumber memberikan jawaban. Menurut Pak Suwito, segala macam persyaratan untuk dikategorikan sebagai pahlawan sesuai birokrasi pemerintahan harus sesuai dengan kriteria Dinas Sosial. Tata urutannya harus melakukan pengajuan terlebih dahulu ke biodata maupun bukti-bukti mengenai dasar sebagai pahlawan ke Dinas Sosial. Bersama pihak terkait maka akan dilakukan pengkajian yang kemudian akan ditentukan layak atau tidaknya disematkan tanda sebagai pahlawan. Tapi menurut beliau yang terpenting adalah bahwa semua pahlawan adalah rakyat Indonesia yang bermandi keringat memperjuangkan kepentingan bersama, tegasnya.

Penyematan pahlawan yang diberikan kepada seseorang bukan hanya sebagai unsur prestasi, apresiasi ataupun pemujaan melainkan untuk suatu kepentingan. Seperti kegalauannya Muh.Yamin tokoh nasional yang kala itu masih krisis percaya diri maka waktu itu mencari inspirasi yaitu Patih Gajah Mada dan kemudian mencari data-data mengenai sejarahynya beliau. Atas kejadian tersebut yang dapat kita ambil yaitu membakar jiwa nasionalisme maka perlu mengingatkan kepada rakyat bahwa sesungguhnya kita berasal dari kerajaan besar yaitu Majapahit. Maka diperlukan sosok pahlawan untuk kepentingan tersebut. Sehingga makna serta definisi pahlawan mempunyai multi tujuan. Mas Agus Sulistiyo juga tidak lupa mengingatkan kepada seluruh jamaah maiyah, “Setiap diri mempunyai nilai potensi untuk menjadi pahlawan. Sisi positif manusia mempunyai nilai yang dapat  bergerak bermanfaat untuk orang lain”, hal itu diungkapkannya  dipenutup sesi bicaranya.

Mengenai apabila ada dua pendapat yang berbeda mengenai fakta sejarah menurut Pak Tifyani, “Dalam sejarah tidak ada kebenaran mutlak, ketidakmutlakan itulah yang sebetulnya yang benar”. jawabnya. Peerbedaan dalam tafsir sejarah adalah hal yang lumrah terjadi. Ada sudut pandang yang mendasari sejarah itu diangkat. Maka sisi lain pun bisa terjadi misalnya siapa yang dominan pada pemerintahan tersebut maka golongangnnya akan diusulkan sebagai pahlawannya.

Pada puncak acara diskusi diambil oleh Pak Dirhamsyah dengan memberikan warning atas fenomena yang terjadi atas pembelokan sejarah yang akhir-akhir ini terjadi dan mungkin akan mengancam generasi berikutnya. Setelah Perang Diponegoro Belanda yang ingin membelokkan pemikiran nenek moyang di Nusantara yang sangat kontradiksi atas kejadian sebenarnya seperti sejarah versi mereka memutarbalikkan sifat Ken Arok. Selain itu beliau juga menceritakan secara singkat mengenai sejarah leluhur Pekalongan. Sekedar informasi di akhir sesi bicaranya beliau mengatakan, “Apabila Anda ingin belajar sejarah maka bukti bukunya beserta catatan  lontarnya Wali Songo yang ada di museum Ferarra di Itali”, ungkap beliau. Kemudian ada beberapa jamaah maiyah yang merasa sedih mendengarkan bukti-bukti tersebut untuk mencari celah menjajah bangsa Indonesia.


Acara maiyah ditutup dengan sholawatan Duh Gusti yang dilanjutkan berdoa bersama yang dipimpin oleh Gus Aniq dari Penggiat Maiyah Gambang Syafa’at Semarang. Tidak lupa pula, tradisi bersalaman seluruh jamaah kepada nara sumber  terus berlangsung sebagai tanda penghujung acara maiyahan.

Monday, 7 August 2017

Spirit of Ndleming

Menilik lebih lanjut tentang alasan saya belajar ndleming berawal dari pertemanan saya dengan salah satu dosen sastra di Pekalongan yaitu Pak Ribut Achwandi dengan gaya khas santai, selow, apa adanya, tidak dibuat-buat menyikapi hidup boleh jadi ada keberuntungan yang berpihak pada kehidupan saya. Bagaimana itu bisa terjadi? Setiap tengah malam menjelang subuh beliau berada di depan laptop menuliskan segala macam dlemingan-nya. Baru pagi harinya, saya baca sebagai pelengkap mengawali aktifitas saya. Ini lebih patut dibandingkan duduk di depan tv sembari nonton berita infotaimen kasus penyebab perceraian dikalangan artis yang tidak ada gregetnya malah membuat saya merasa nafsu sarapan saya berkurang.

Dlemingan bersifat tidak kaku seperti gaya pakem motivator nasional. Bahkan beliau terkadang mengambil kebiasaan antara orang waras dan orang gila. Melalui dlemingan-nya “Jangan sekali-kali mengaku waras, karena orang waras itu tidak butuh pengakuan. Juga jangan sekali-kali berusaha mati-matian membuktikan kewarasanmu, karena bisa jadi ketika kau sedang berusaha  membuktikannya malah membuatmu lebih tidak waras dibandingkan orang yang tidak waras”, demikian contoh dlemingan-nya beliau dengan mengambil analogi manusia waras sebagai obyeknya.

Ada pula yang mengambil dari kebiasaan orang gila, “Mengaku gila boleh-boleh saja asalkan tidak benaran gila . Sebab, kalau beneran gila lalu ngaku gila, itu namanya kewarasan yang tersamar”. Dari deskripsi 2 contoh perbedaan karakter waras dan gila sama halnya, baik dan buruk, adil dan memihak yang apabila diterapkan esensi obyek maka juga akan berlaku nasihat. Misalnya apabila waras diganti dengan baik maka akan berlaku, “Jangan mengaku baik karena kebaikan tidak butuh pengakuan. Juga jangan sekali-kali berusaha mati-matian membuktikan kebaikan karena bisa jadi ketika kau sedang berusaha  membuktikannya malah jauh membuatmu lebih tidak baik dibandingkan orang yang tidak baik”.


Jauh dari pengalaman saya memahami bahasa kiasan yang ditorehkan oleh seorang Dosen Bahasa Indonesia yang secara keilmuannya telah mumpuni. Sepatutnya saya bersyukur bisa mengenal beliau berbagai pengalaman telah saya serap nilai-nilai pesan yang disampaikan. Menarik memang belajar bahasa bagi yang ingin menikmati makna tiap kata yang dirangkai dalam bentuk kalimat hingga paragraf per paragraf. Semoga bisa bermanfaat untuk semuanya, Amin.

Cakue

Dari sejumlah pedagang cakue dan bolang-baling di Pekalongan lebih seringnya gerobaknya berwarna hijau. Rasa ingin tahu pun tak dapat dihindari sedang pada pagi ini ada kesempatan "ngobrol singkat" bareng ibu pedagang cakue di pertigaan Gandarum Kajen Kabupaten Pekalongan.

"Bu...ten nopo kok gerobak cakue niku biasanipun warnane ijo?", tanyaku sambil buka helm.
"Waduh mas, kulo kok mboten ngertos kok saged ngaten nggeh?", jawab ibu seakan sudah tak mengerti jawaban sebenarnya.
"Nggeh mpun bu...mboten nopo.. wong mboten medal ten Ujian Nasional kok", ucapku sedikit senyum, nada menghibur.

Konon cakue berasal dari daratan china. You Tiao adalah nama umum Cakhwe dalam Bahasa Tionghoa dan sebenarnya diambil dari dialek Zhejiang. Sedangkan dalam dialek Hokkian disebut Cakhwe (wikipedia).

Berbahan dari tepung terigu dan berbagai campuran bahan makanan lainnya membuat lebih rasa gurih saat dinikmati hangat saat setelah digoreng. Ini menyebabkan kue soulmetnya yaitu bolang-baling berasa manis sengaja didaulat sebagai pelengkap rasa menjelang pagi sebagai pendamping sarapan.

Rasanya aku ingin menyapa teman-teman semuanya wa bil khusus kepada orang Jawa Timuran dengan ucapan, "Ini Cak,..kue". Sebagai ucapan rasa penasaran lagi, "Mengapa 5 dari 6 pedagang cakue di Pekalongan berasal dari Blitar?". Betapa heterogen kian masyarakat di daerah Pekalongan dan aku pun bersyukur sedikit bersua dengan mereka.

Foto Muhammad Syukron.v


Friday, 4 August 2017

Sedikit Dampak dari Copas


Kalau hidup banyakin copas, susah dan bahagianya akan berjalan demikian, sering baperan dan mudah tersinggungan. #dleming #anyaran

Kalimat di atas saya posting pertama di saat saya mencoba belajar ndleming di wall facebook yang saya unggah pada 3 Agustus 2017. Tidak lupa pada akhir kalimatnya saya perjelas dengan tanda pagar (hastag) yang juga berfokus pada status anyaran (amatiran) saya belajar ndleming yang ternyata tidak mudah menghasilkan sebuah kesimpulan, inspirasi, nada guyon, atau motivasi yang bisa bermanfaat terutama bagi yang penulisnya.

Dleming bagi saya perkataan dengan tidak serius, singkat, padat, mempunyai bobot kesimpulan dari minimal satu kalimat yang seringnya dibuat sedikit guyon atau menyatiri dari fenomena yang marak terjadi. Ini tentunya hanya sebatas definisi subyektif sangat tidak layak dipaksaan kebenarannya secara publik dan tidak ada gunanya pula mempertentangkan bersama kusir sampai tiada habisnya.

Hidup banyak copas, berasal dari kata copy paste yang dalam bahasa Indonesia berarti salin kemudian tempel. Ada dua makna yang dapat saya ambil dari dua kata tersebut. Pertama bagi pengguna media sosial aktif copas dapat berkenaan dengan penyampaian berita yang secara jarak pandang pengetahuan, resolusi masalah, realitas kejadian, serta sudut pandang sebagai analisis kesimpulan, penyampaian berimbang atau independen masih diragukan keberadaanya. Semua itu tidak lepas dari penguasaan media dari pihak berkepentingan yang berusaha memanfaatkan keadaan bahkan memperkeruh masalah yang terjadi di negara kita. Dampak dari informasi yang berkembang, menimbulkan rasa kebenaran meningkat drastis atas gagasan yang diutarakan dalam berita tersebut. Fanatik yang berlebihan kemudian di blow up ke khalayak dapat memungkinkan terjedi geseken yang membuat orang jadi terbawa perasaan (baper) dan mudah tersinggungan menyikapi perbedaan pendapat.

Kedua dari makna copas bisa berarti sikap latah individual seseorang menyalin (mencontoh) kebiasaan, gaya hidup, serta cara berfikir kemudian diterapkan dalam hidupnya tanpa berusaha melakukan filtrasi keadaan. Bahwa tidak semua ukuran baju orang lain akan sesuai dengan postur tubuh kita bahkan modelnya pun juga demikian. Kebiasaan bangsa lain yang jelas sangat berbeda dengan kebiasaan bangsa kita. Kebanggaan dengan dalih kesetaraan cara hidup malah turut berbangga, meniru agar kesamaan kegemaran bisa sejajar dengan bangsa lain. Meskipun ada beberapa kebiasaan yang dapat  mengganggu norma bahkan hukum sekalipun bisa diterjang. Seperti gaya hidup hedonis melalui tayangan sinetron dengan mempertontonkan kemewahan yang secara langsung tersimpan dalam ruang batas penyimpanan pikiran agar bisa merasakan kenikmatan orang lain yang secara finansial jauh berbeda. Maka akan lahir secara prematur kebiasaan bergaya hidup mewah yang kini sudah dapat dirasakan dari manjamurnya bisnis keuangan yang menjanjikan bunga murah angsurannya.

Pada akhirnya makna copas tidak serta merta menyangkut dalam aspek teknologi informasi melainkan segala macam usaha meniru kebiasaan orang lain atau lebih luas bangsa lain tanpa melakukan filtrasi. Semua itu bergantung penguasaan hidup, asalkan kita lebih pintar menyeleksi segala macam undangan copas, semoga demikian.

Motor Tua, "Gak Ada Matinya!"

Motor tua tidak ada matinya, itulah tekad komunitas para Komunitas Granderist Wiradesa yang tidak henti-hentinya mengadakan acara rutinan motoran bareng sperti pada Minggu 30 Juli 2017. Bertolak dari Wiradesa Kabupaten Pekalongan menuju ke Obyek Wisata Baturraden Purwokerto Jawa Tengah. Acara tersebut diikuti oleh 11  peserta yang mengendarai motor Honda Astrea Grand dengan berbagai jenis dan tahun pembuatannya.


Acara dibuka oleh tokoh masyarakat Desa Kauman Wiradesa H. Juneka Kharisman yang turut serta memberikan doa agar selama perjalanan berjalan lancar dan selamat sampai tujuan. Adapun jalur pemberangkatan dari Wiradesa melewati jalur alternatif Comal menuju Pemalang melalui Desa Ampelgading yang berujung hingga Paduraksa. Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju Kecamatan Bantarbolang hingga Perbatasan Kabupaten Pemalang tepatnya di Belik sebagai titik transit pertama istirahat. Rombongan menyempatkan diri membeli perbekalan air mineral yang tidak lama kemudian dilanjutkan menuju Kabupaten Purbalingga dan berakhir di Obyek Wisata Baturraden.

Tampak kebersamaan pemilik sepeda motor Honda Astrea Grand memuncak pada saat menikmati alunan musik lokal tradisional di wahana hiburan Obyek Wisata Baturraden. Tak sedikit dari mereka yang menyempatkan berjoged bersama sembari meregangkan otot saat setelah perjalanan.  Selain itu diantara momen yang tak lama di tempat wisata mereka juga menyempatkan diri berfoto ria dan tak lupa mereka membeli oleh-oleh cindera mata khas Baturraden.

Sangat antusias rupanya kegiatan positif ini sebagai cara berekreasi bersama tentunya bisa menjalin keakraban antar anggota yang mempunyai latar belakang profesi yang berbeda-beda. Rombongan bergegas pulang setelah keadaan cuaca mulai hujan sekitar pukul dua siang. Menurut Musalafan koordinator perjalanan  “Kegiatan serupa rencananya akan diadakan kembali pada bulan Oktober 2017 dengan agenda destinasi wisata Yogyakarta”, ungkapnya saat sebelum rombongan memulai perjalanan pulang.