Wednesday, 15 March 2017

Cetakan Pukis

Ini cerita lanjutan sih, dari cerita sebelumnya yang membahas tentang pedagang pukis. Ya...hari aku berencana membeli pukis sebagai jajan pagi menemani ngetik di rumah. Sangat pas momennya setelah dari mengantar ibu ke klinik langsung buat postingan blog hari ini bisa menyelesaikan deadline 6 karya tulisan apapun jenisnya narasi, prosa, deskriptif, hanya judul biar nanti bisa dikembangkan dan biarlah mengalir saja ide-ide yang aku tumpahkan melalui kata-kata.

Aku memang menyukai kepada mereka pejuang keluarga yang tangguh, kalau memang ada yang inspiratif ya...tetap aku korek kehidupan pribadinya aku ambil sisi-sisi kesabaran, ketabahan, ketelatenan dan keuletan. Aku mengambil lagi judul tentang pedagang pukis karena masih banyak yang harus digali.

Sambil menunggu kue pukis dalam keadaan matang, aku menyempatkan diri menyela diantara ruang gerak kedua tangan memilah kue satu dengan kue lainnya. Agar tidak terlalu jauh konsentrasi, pertanyaan aku mulai dari  segita pandangan, tangan dan pikiran melahirkan ucapan jawaban. Bapak penjual pukis pun tak merasa ada yang aneh tentang segala pertanyaan yang singkat tapi jawabannya dia sedetail-detailnya. Tipe orang ini sebenarnya suka ngobrol apa mungkin karena ia sebagai pendagang harus beusaha ramah kepada siapapun? Ada gak ya korelasinya?heemm...

“Pak ini cetakannya beli dimana?”, tanyaku penuh penasaran.
Tangan bapak penjual masih mengambil kue yang sudah matang. Selang beberapa detik kemudia beliau menjawab,

 “Ini dulunya saya dipinjemi sama bos pukis asli Kebumen. Kebetulan satu jama’ah dengan saya. Orangnya baik kok, dia mau ngajarin saya buat dagangan  pukis. Waktu pertama kali saya dagangnya di Lapangan Mataram. Setelah saya bisa sendiri akhirnya saya izin untuk buka sendiri akhirnya sampai sudah berdagang disini, tapi alhamdulillah cetakan ini sudah aku bayar 125 ribu, kalau beli sendiri sih...ndak boleh mungkin bisa 300 ribuan. Nama bos pukis ini Ali biasanya orang memanggilnya, orangnya janggutan sama seperti saya”, papar beliau meletakkan 10 kue pukis garing ke dalam kardus pesananku.

Terakhir senyuman kecil menyapu suasana mendung diantara ucapan terima kasih yang memisahkan pertemuanku hari ini.

Klinik Pagi Ini

Rabu pagi diantara kegiatan menjelang akhir pekan, perut ibu merasa tidak enak seperti biasanya. Pukul 06.00 aku sudah berada di depan klinik menunggu petugas jaga membuka pintu pendafaran. Kedatanganku termasuk orang yang ke 9 orang bernasib sama.  Ada pasangan muda membawa anak balita sedang rewel tak keruan sedang dalam pelukan. Sedang pasien dewasa paruh bawa duduk termangu menghadap ke jalan,  lalu belum sampai 5 menit akhirnya petugas membuka pintu klinik.  Hampir semua pasien dan pengantarnya pula masuk ruangan mengikuti langkahnya.

Dari arah belakang ada laki-laki berjalan begitu cepatnya menuju loket sama-sama beriringan. Tanpa berfikir panjang berdiri memesan nomor urut pendaftaran, ada ibu-ibu menunjukkan ketidaksukaan cara lalu dua patah trerlontar kepadanya ,“Urut, Pak!”, nada sinis. Bapak langsung terdiam mundur dua langkah membiarkan pasien lain maju mendekati petugas pendaftaran.

Sampai pada nomor 7 nomor tidak ada yang mengaku, lalu ada yang mengingatkan pasien disebelah kiri loket, “Itu mbah-mbah gilirannya”, usul ibu-ibu muda. Dari tempat duduknya mbah ini beranjak, aku melihat langsung aku tahan, “Duduk saja mbah”, aku biarkan beliau duduk. Kertas panggilan nomor belum terambil, seperti gayung bersambut aku terima dari petugas loket. Setelah nomor 8 giliran nomor 9 adalah jatah antri periksa, registrasi pasien mulai dicatat kembali nama pasien, alamat serta nama anggota keluarga.

Hati sudah setengah lega tinggal menunggu panggilan dari doket, aku memilih keluar dari klinik berpindah di teras musholla. Menikmati pagi menyambut bacaan buku tipis yang sengaja aku bawa dari rumah. Lembar per lembar buku aku pahami dari buah pemikiran santai karya Budi Maryono, sinar matahari pun telah semakin meninggi. Pandangan kembali tertuju ke klinik, pasien sudah mulai silih berganti. Dari arah belakang mbah-mbah yang sudah aku ketahui namanya mbah rejeh kemudian berjalan mengagetkan aku pun menoleh kemudian beliau berkata,
” Sekarang kamu sudah besar ya?”, tanya beliau.

Seketika itu aku jawab, “Iya mbah...simbah kuat ya sampai umurnya sekarang?”, aku pun tak menjamin beliau mendengar. “Kamu kalau cari istri jangan jauh-jauh kasihan ibumu”, mbah itu menasehatiku mak jlebb kemudian aku pun menjawab, “Iya mbah”, aku langsung mengamini nasehat beliau pikiranku pun berkecamuk, bersamaan jejak langkah embah meninggalkanku.

Monday, 13 March 2017

Ajaklah Mereka Dengan Hati dan Renungkan Perbandingan (1:17.000)

Mengajak masyarakat berpartisipasi dalam kegiatan bersepeda, ohh....bagus lah!, juga mengingatkan kebiasaan lama yang hampir punah tergerus budaya instan bermotor ria. Yaa....Bentuk ajakan tersebut sangatlah beranekaragam dari kampanye bebas polusi melalui iklan layanan masyarakat, ajakan media sosial, klub sepeda, car free day, fun bike dan lain sebagainya. Kegiatan bersepeda sudah mulai dilirik oleh sebagian masyarakat, meski terkadang hanya sebagai olah raga tiap hari minggu. Oke...oke..fine...gak jadi masalah, selama ada kepedulian tentang kesehatan masih bagus, juga ada kepedulian lain lho...yaitu tentang kerusakan lingkungan karena polusi udara.

Secara garis besar sih..!,  ada 2 cara ya...mengajak bersepeda yaitu dari hati ke hati dan iming-iming berhadiah....lho kok bisa? Nanti kita akan bahas lebih dalam lagi...dari serentetan kalimat semoga bisa menangkap poin-poin terpenting dari masing-masing paragraf di bawah ini.

Tentunya yang sudah mengenal hobi bersepeda satu minggu gak gowes karena suatu alasan, terlalu disayangkan melewatinya. Momen bersama teman yang sehobi akan membuat rasa kangen bercanda bersama melalui berbagai macam medan perjalanan. Klub gowes sudah seperti keluarga kalaupun ada satu yang berhalangan hadir mesti ada yang tanya alasan ketidakhadirannya itu.

Poin terpenting disini bahwa sepeda itu sebagai sarana pertemanan dari berbagai lini kehidupan. Dari masing-masing anggota ini berpotensi mengajak teman lain yang memang benar-benar sama sekali belum mengenal hobi bersepeda.

“Ayo...gowes cari keringat, bisa ketemu temen-temen...!!! asyik lho...bisa piknik terus tiap minggu, dijamin deh dapat pengalaman baru”, dengan berceloteh, tersenyum ramah, lalu sampaikan kepada mereka bisa membuat rasa penasaran dalam pikirannya, meskipun hanya wacana ke depan tentang keinginan berolahraga. Yaa...yang namanya promosi itu bisa langsung laku, juga bisa nanti entah kapannya yang penting ajak lain mencintai olah raga.

Ajakan itu terasa bisa ditanggapi lebih antusias, disaat teman sudah mulai bertanya tentang harga sepeda yang kualitasnya oke, tapi murah..hehehe...biasanya kita pusing mencari merek sepeda tersebut...”Tapi tahap awal sangat bagus... sudah separuh perjalanan!”.

Mereka tidak salah karena memang sudah pantasnya, sebelum membeli sepeda harus banyak bertanya kepada yang sudah banyak melakoni berbagai pengalaman tentang sepeda. Apalagi harga sepeda relatif tidak murah...betul kan ya? semoga begitu..hahaa...

“Yukk...bersungguh sungguh jadi agen promosi kesehatan...langsung maju..cuuuzz.!!!”
Tetap dikawal kalau perlu...tawarkan kesedian waktu menemaninya membeli sepeda. Cara ini sebagai bukti bahwa goweser itu ramah bahkan keakraban persaudaraan ini bisa muncul disaat pertama kalinya membeli sepeda, ini sebuah pengalaman dan berbicara realita.

Eeeiiitsss.....lalu apabila sepeda barunya itu sudah terbeli, hanya sampai disini?
Lalu, “Bagaimana sikap selanjutnya setelah teman telah membeli sepeda barunya?”

Ajaklah gowes berdua...jangan langsung suruh bergabung bersama klub sepeda, biasanya masih minder dengan kemampuannya. Padahal anggapan ini bisa dikatakan berbanding terbalik dari asumsi tersebut.

Hanya sekedar berkeliling menikmati suasana lingkungan sekitar...boleh lah ! deket-deket saja...yang penting mencoba hal baru yang sudah lama ditinggalkan.

Kalau bertempat tinggal di pedesaan sangat banyak tempat-tempat asyik sebagai destinasi menikmati alam apalagi kalau melewati jalur pematang sawah...”Wow...wow...wow..bisa bikin hati tentrem”. Di area perkotaan tidak kalah menariknya lho...sebagai pemanasan ya...ajaklah mereka menikmati suasana pagi sebelum aktifitas menampakkan kemacetan. Satu jam sudah cukup lah...! carilah spot menarik berfoto bersama sebagai kenangan pertama kali gowes bareng...ceekreeeekk...upload...hhahahaaa...

Cara-cara ringan pendekatan hati, bersosialisasi berkawan secara berkesinambungan maka rasa persaudaraan akan semakin erat. Kalau sudah dianggap saudara, maka tiada batas untuk saling membantu dalam segala hal.

***
Yang ke-dua yaitu mengajak masyarakat bersepeda dengan iming-iming berhadiah.
“Yuppps...sebentar tahan!!!jangan underestimate dulu”.

Ada batasan mengenai konotasi iming-iming berhadiah diatas. Konteks yang dimaksud disini yaitu mengumpulkan masyarakat bersepeda lalu pada akhir momennya terdapat adu nasib perolehan hadiahnya.
“Hahaa..haha....rada berat kalimatnya...”, namun esensi kata yang berlaku yaitu adu nasib dan hadiah.

Perlahan-lahan saja...yang penting bisa memahami...satu per satu perbedaannya.

Bisa ditafsirkan sendiri mengenai iming-iming berhadiah dengan berbagai nama atau label kegiatan. Yang tepenting ada kedua unsur tersebut. Meskipun sama-sama mendapatkan hadiah, tidak sama lho....dengan ajang perlombaan bersepeda. Kalau lomba itu mengedepankan profesionalitas goweser jadi disini yang dituntut skill, kekuatan fisik dan strategi memenangkan perlombaan, sebagai pembedanya yaitu adu nasib yang hanya bermodalkan secarik tiket yang diundi dihadapan notaris dan pihak kepolisan.

“Okeey....yuk masuk...kita perdalam lagi mengenai ajakan bersepeda dengan cara mengadu nasib mendapatkan hadiah tersebut”.

Banyaknya komunitas penghobi sepeda dari segala macam onthelis (sepeda jadul), road bike (balap sepeda), fixie, city bike , MTB (sepeda gunung) dan lainya. Mempunyai power kebersamaan dalam satu komunitas. Tidak tanggung tangung dalam berbagai kota jumlahnya mencapai ratusan bahkan angka ribuan. Latar belakang tersebut menjadi alasan maraknya kegiatan iming-iming berhadiah marak terjadi dalam tiap tahunnnya bahkan pemerintah daerah turut mensponsorinya.

“Masih kuat membaca tulisan ini....atau semakin capek?...hagzh...hagz....hagz...yang penting jangan biarkan kening Anda berkerut apalagi ngantuk...hadeh.....wkwkkw...okey lanjut dah!!!”.

Tidak luput dari keberadaan hadiah yang sangat krusial menentukan jumlah peserta yang akan berpartisipasi serta sebagai penentu sukses tidaknya panitia membuat acara. Semakin mahal hadiah maka peserta akan semakin penasaran menentukan nasibnya dalam ajang tersebut. Panitia pun sangat pandai mencari hadiah yang bisa  merayu hati peserta dari kondisi sosial ekonomi dari masing-masing daerah.

Apabila masyarakat masih berpandangan mobil itu barang mewah, bisa jadi ini menjadi prioritas hadiah utama yang akan dipertaruhkan. Seketika itu akan menjadi buah bibir dikalangan masyarakat, merebak hingga ke kota tetangga bahkan ke pedesaan. Tentunya kalau ingin menjadi peserta tidak serta merta gratis, kalau bayar itu sudah pasti.

Meledaknya jumlah peserta yang ikut berpartisipasi dalam acara, bukan hanya dari penghobi bersepeda yang tidak pernah naik sepeda pun pada akhirnya “dipaksa” naik sepeda sambil hati kecilnya bicara sendiri, “Semoga mendapatkan hadiah mobil”. Pencapaian peserta sangat bervariatif bahkan jumlah tiket penjualnya lebih besar dari peserta yang hadir. Artinya satu peserta bisa membeli lebih dari satu untuk memperbesar peluang mendapatkan hadiahnya.

“Semoga masih kuat membaca....wkwkwkwk...karena setelah ini masuk ke dalam hitungan matematika dari masing-masing jumlah tiket yang terjual...Yuk....Cekidotttt!!!!”

Dari pengalaman yang sudah pernah berjalan dari tiga sampel kota di Pulau Jawa yang pernah mengadakan acara serupa berjumlah 10.000 an  (sepuluh ribuan), 20.000 an (dua puluh ribuan) dan terakhir 17.000 an (tujuh belas ribuan) tiket terjual dari rata-rata harga tiket Rp. 35.000 (tiga puluh lima ribu rupiah).

Kita ambil sampel data terakhir pencapaian hasil 17.000 tiket terjual apabila dikali Rp. 35.000 sudah mencapai angka Rp. 595.000.000 (lima ratus juta sembilan puluh lima juta rupiah).  Pencapaian hasil pemasukan tersebut sebagai uang tunai dari perolehan penjualan tiket, belum lagi dari sponsor pendukung acara. Biasanya sponsor juga memberikan dukungannya berupa hadiah hiburan. Sedang pengeluaran hadiah utama berupa mobil dengan kisaran harga Rp. 120.0000 (seratus dua puluh juta rupiah).

Berprasangka baik itu akan lebih baik sebagaimana peserta sudah “legowo” kalaupun ada keuntungan ya...semoga ada keuntungannya bagi panitia. Sedangkan bagi peserta pun juga tidak mengalami kerugian karena uang Rp.35.000 bisa mendapatkan kaos, snack, bertemu dengan teman, sehat dan bisa joged bareng di depan panggung. Realita ini bisa membuka lebar pengetahuan bagi penyelenggara dan peserta kegiatan. Masyarakat seharusnya semakin pintar dalam hal ini goweser juga turut menjadi agen yang mencerdaskan bangsa.

Lantas problematika yang terjadi dari dampak ajang ini adalah sebagai berikut

Bahwasanya orientasi yang terbentuk dari pemikiran masyarakat baik umum maupun penghobi sepeda yaitu sisi matrealisme dari hasil adu nasib melalui kegiatan bersepeda. Perbandingan perolehan hadiah utama yaitu 1 : 17.000 tiket penjualan. Dari jumlah 17.000 tiket hanya 1 tiket yang berhak memenangkan hadiah utama. Pihak penyelenggara bertindak sebagai sarana atas jawaban “angin syurga” dalam doa masyarakat yang ingin sekali memperoleh penghidupan lebih layak dari kehidupan sosialnya. Hanya membayar uang recehan bisa memperoleh hasil sebegitu besarnya bahkan bisa meningkatkan prestis dikalangan masyarakat menengah atau malahan bisa jadi rejeki nomplok bagi yang benar-benar membutuhkan.

Dari sisi efektifitas, hadiah utama berupa mobil bertolak belakang dengan tujuan lain bersepeda yaitu mengurangi dampak polusi udara. Pihak penyelenggara secara tidak menyadari, melanggar dari esensi akhir bersepeda dari pandangan dampak lingkungan. Juga mereka memanfaatkan momentum jumlah penghobi sepeda yang sudah terbentuk sebagai “pejalan sunyi” ditengah carut marut budaya otomotif yang berkembang begitu pesatnya. Mereka hanya mementingkan target penjualan tiket sedang mengenal komunitas sepeda pun bahkan mereka belum pernah mengerti. Ya...mereka hanya sebuah event organizer yang mengumpulkan masyarakat melalui penjualan tiket.

“Lalu pertanyaan lain yang berkembang, apakah dari kegiatan iming-iming berhadiah tersebut masyarakat umum sudah mulai membiasakan diri bersepeda?”

Jawabannya ada dalam hati setiap para peserta setelah mengikuti acara kegiatan iming-iming berhadiah, dari segala perenungan yang mendalam. Melihat dengan tolok ukur fenomena tujuan utama dari penyelenggara,  hal yang ditimbulkan dari kegiatan dan paradigma yang terbentuk oleh masyarakat. Orientasi matrealisme masih menjadi pertimbangan utama dan bahkan membelokkan kesadaran murni para pelaku agen persaudaraan “pejalan sunyi” dari akar hobi yang menjunjung tinggi sportifitas, travelilling, sosial dan penyelamatan lingkungan.

Semoga hati kita terus menyandarkan diri sebagai musyafir yang akan finish kepada Sang Pencipta.




Saturday, 11 March 2017

Gelas Toples


Ada keunikan tersendiri dari bentuk gelas yang pertama kali saya mampir di Rumah Makan Pringsewu Purwokerto. Kejadian itu sekitar bulan April 2016 disaat pramusaji penuh membawa pesanan es teh dari jarak 5 meter, gelasnya berbentuk kotak meskipun tidak juga bisa disebut kotak karena  tidak ada sudutnya. Setelah berhadapan langsung gelas akan disajikan pada bibir gelas terdapat ulir sepertinya ini untuk pengunci tutupnya. Secara sadar dan singkatnya saat itu aku langsung melongo kok baru kali ini ya, aku lihat gelas yang tak biasanya.
“Silakan mas...es tehnya...”, mbak pramusaji ini tersenyum sembari merunduk.
“Kalau ada yang ulang tahun hari ini ada kejutan menarik dari kami, berupa kue puding tapi harap menghubungi bagian penerima tamu di depan ya, terima kasih ya”.

Aku paksa melupakan segala shok keganjilan dari bentuk gelas itu. Tenggorokan sudah 2 jam mengering setelah aktifitas gowes bareng disekitaran obyek wisata Owabong. Itung-itung minuman ini pelepas dahaga begitu besar dampaknya.

Setelah 1 jam berakhir sudah segala macam makanan besar sudah berpindah ke perut. Tiba saatnya kembali pulang ke Pekalongan menjelang petang  masih diperjalanan.

***
Aku masih penasaran tentang harga dari gelas yang namanya pun tidak bisa diketahui.  Yahh...gimana mau beli...lha wong nama model gelasnya ajah gak tahu...ahh...proyek berjalan saja kalau memang bisa punya ya alhamdulillah, kalau ndak punya toh hanya batasan gelas yang penting kan isinya.

Saat momen berselancar internet melalui smartphone kembali teringat, barang kali diaplikasi Buka Lapak kali aja ada yang menjualnya, gumam saya dalam hati. Lalu, keyword pada kolom pencarian apa ya? Tulisan pertama kali aja nyambung yaitu “gelas cafe”, ada sih hasilnya. Gelas yang berkaki panjang pada bagian pangkalnya berbentuk lingkatan. Layar smartphone aku tarik ke bawah ternyata ada bermerek “HARVEST TIME”, dibanderol Rp. 25.000 per biji waktu itu. Semisal beli 2 biji berarti Rp. 50.000 ongkirnya Rp. 20.000 barang belum tentu selamat karena benturan paking....Ahh cancle ajah...

Ketidaksengajaan terjadi melintasi penjual pecah belah di Pasar Banjarsari tepatnya di tikungan dekat vihara. Barang-barang yang dijual sih, banyak banget...sampai meluber seperempat dari jalan menuju ke pasar. Mumpung lewat sekalian mampir saja, motor aku parkirkan menghadap toko. Mbak-mbak pelayan toko masih ngurusi ibu-ibu setengah baya. Pandanganku menoleh sebelah kiri bawah, ada kerdus beraneka ragam model gelas tidak tertata dan bertumpuk-tumpuk. Ada juga ternyata model gelas toples itu lalu ambil sembari menanyakan harganya.

“Mbak harganya berapa model gelas kaya gini?”, aku perlihatkan gelas toples kepada mbak-mbak pelayan toko itu.
“Oh, gelas cafe mas...harganya 120 ribu per lusinnya”, jawab mbak pelayan sembari mengalihkan perhatian ke toples yang aku bawa.
“Kalau belinya satuan bisa mbak?”, tawarku barang kali bisa.
“Gak bisa mas, minimal setengah lusin”, mbaknya menjawab sembari menoleh kembali ibu-ibu paruh baya itu.

Kok harus beli minimal setengah lusin, lha emang mau bikin cafe harus beli 6 biji. Lha wong kalau gak beli juga gelas lain juga masih ada, aku pun langsung samperin tukang parkir langsung melibas pulang. Oh..oh.. ternyata di Pekalongan ada yang jual kalau dibandingkan di Buka Lapak sih lebih murah tapi belinya harus 6 biji. Ndak usah beli dulu lah, ndak penting juga!

Keberuntungan kali ini terasa mendekat ya...sudah hampir 10 bulan berlalu tepatnya bulan Febuari 2017 aku jalan-jalan ke Carrefour sama ibu ngilangin awalnya sih mau cari teflon buat masak telur, eeh...kok ada penawaran gelas “HARVEST TIME”, dengan harga Rp. 6.800 wah...menarik sekali nih.

Langsung aku samperin tumpukan kardus berukuran 1,5 m x 1,5 meter pada bagian atasnya berjejer gelas “HARVEST TIME” transparan. Kok semakin banyak semakin bingung milihnya. Naluri wanita itu lebih teliti lalu aku serahkan kepada ibu,
“Aku ndak bisa milih bu...silakan ibu saja yang milih”, sambil pegang-pegang gelas.
“Coba pegang bibir gelasnya melingkar kalau ada yang tajam jangan diambil”, ibu menjelaskan cara memilihnya.

Terpilihlah 3 kandidat yang paling bagus semuanya pun kemudian dipinang ke kasir tanpa tujuan utama yaitu teflon.

Test pertama yaitu aku isi dengan kopi instan. Air mendidih dari kompor lanngsung aku tuang ke dalam gelas. Aku pun penasaran dengan kebandelan dasar gelas, karena ketebalannya tidak seperti gelas biasanya. Bandel juga, tidak ada tanda-tanda retak dari bagian bawah. Aku isi lagi air mendidihnya sampai mendekati leher gelas. Aman...kok, gak sia...sia..!

Aku terus memperhatikan gelas ini agaknya mirip toples jaman dahulu. Bentuknya tidak asing lagi diihat lekukan klasik, sementara ketika orang melihat langsung maka akan teringat tempat makanan jadul. Pola yang dipertahankan yaitu ulir pada bibir gelas guna membedakan bukan gelas seperti biasanya.


Sambil ngerasain nikmati kopi instan aku ketawa sendiri...”Mau gelas seperti ini saja harus tarik ulur hampir setahun sedang aku sudah bayangkan, betapa repot dah nyucinya”.

Friday, 10 March 2017

Kiriman dari Pak Budi

Rasa lelah baru terasa setelah mandi, kaki harus di selonjorkan di atas kasur meski hanya sebatas duduk santai menunggu waktu sholat magrib tiba. Dari luar terdengar suara motor berhenti sejenak. Kemudian pintu rumah tiba ada yang mengetuk. Saat itu juga aku bergegas keluar kamar menuju pintu rumah paling depan. Korden jendela sebagian terbuka sudah barang tentu aku bisa pastikan tamu yang datang tersebut adalah Pak Pos.
“Assalamualaikum Mas..”
“Wa’alaikum salam, Pak monggo...”
“Iyaa ini ada paketan mas dari Semarang”.
“Ohh iya pak ini pesanan buku saya”
“Udah mas ya...”
“Iya pak makasih!”

Kertas pembungkus paketan aku buka setidaknya ada tiga buku dari Pak Budi Maryono. Ada satu buku paling menarik dari novel karya beliau Kata-kata itu langsung ku dengar sebagai nasehat baik dari beliau diwaktu senja menjelang maghrib.

"Mengunyah Rindu, karena semua berawal dari rumah... dari keluarga..."

Belum memasuki kata pengantar, novel ini sarat akan makna berbagi pengalaman hidup yang menarik, sebagai ayah dan sastrawan.

Foto Muhammad Syukron.

Angkringan

Berbagai alasan yang melatarbelakangi makan di meja gerobak kayu yang mulai mangkal dari sore hingga tengah malam hari. Kalau dikejar tentang mencari rasa kenyang, mungkin pembeli akan mencari warung yang memberikan porsi lebih banyak dari biasanya.

Sebenarnya menu yang disajikan pun tidak begitu wah...bahkan bisa dikatakan, malah lebih sederhana. Oseng-oseng tempe, ikan asin, telor puyuh dan sate keong terus menghiasi loyang plastik disebelah ceret berjumlah 3 yang bawahnya terdapat arang sebagai pemanasnya.

Pembeli pun tidak sepi, silih berganti meskipun ada yang hanya kangen minuman khas susu jahe dan martabak bakar seperti saya ini. Lantas apa, yang sebenarnya pembeli cari?

Yaitu suasana berbeda dari rutinitas makan biasanya. Melihat dari bentuk nasi yang kalau ditakar paling 3 sendok makan dan diberi 1 sendok lauk. Sangat cocok bagi mereka yang ingin makan hanya sebagai pengganjal perut sementara atau sekedar mencari udara malam bersama teman, rekan kerja atau mahasiswa.

Suasana tentunya sangat berbeda, sumber penerangan bergantung pada cahaya lampu "teplok", yang berbahan bakar minyak tanah. Memilih menu pun tantangannya luar biasa, bahkan ketika membuka dompet mau bayar harus jeli melihat nominal uang yang akan diberikan.
Hahahaha....memang asyik...!!!

Ini belum ditambah dengan ngobrol kepada pembeli lainnya. Meskipun belum pernah saling mengenal kita tidak dilarang kok menanggapi pembicaraan itu karena mejanya pun berukuran tidak lebih dari 2 meter.

Saking seringnya mendatangi angkringan mas-mas penjual akan terus mengingat bahkan tak jarang malah menjadi pertemanan yang akrab. Dari situlah muncul sebuah ikatan persaudaraan terjalin yang tidak hanya mementingkan urusan keperluan perut semata.


Bagi Anda yang belum pernah mngkin perlu mencobanya.

Foto Muhammad Syukron.

Wednesday, 8 March 2017

Sinau Katul

Diantara kesibukan tetangga yang sedang asyik menikmati hari liburnya, saya memilih gowes mengurangi berat tubuh karena kancing celana sudah mulai gak cukup lagi. Semenjak bulan Desember hingga Febuari kemarin curah hujan cukup tinggi, kok mau gowes kadang memulai aktifitas lainnya saja masih mempertimbangkan urgent atau tidak. Meski kalau gowes ini bisa masuk 2 kategori tersebut. Hal yang terpenting tetep harus gowes hari minggu ini, syukur-syukur bisa ngurangin lemak biarpun cuma sedikit.

Dari rumah hanya seorang diri alias sendiran menuju ke Desa Pamutih salah satu desa di Kecamatan Ulujami Kabupaten Pemalang. Hidrobag berisi tool, pompa, ban cadangan dan botol tupperware berisi air putih cukuplah hanya gowes ringan biar kelihatan atlet meskipun cakupannya tingkat RT. Ada yang tak ketinggalan yaitu smartphone android yang sebelumnya saya nyalakan aplikasi pengitungan jarak tempuh bersepeda dengan sensor GPS. Semuanya disiapkan sebagai bekal pelengkap yang digendong kemana-mana.

Kayuhan pertama saya lakukan dan seterusnya perlahan meninggalkan rumah. Suasana komplek perumahan masih sepi tidak menampakkan aktifitas yang muncul diluar rumah. Om Edy telah mewanti-wanti agar ketika sampai di Desa Tasikrejo harap menghubunginya.

Sekilas tentang Desa Pamutih berada di Kecamatan Ulujami Kabupaten Pemalang, tempat lahirnya Om Edy teman seperjuangan gowes saya. Ada hal yang menarik bagi saya di desa ini yaitu tentang jahe susu dan hasil pertanian berupa tanaman padi. Kalau datangnya malam cocok tidak afdhol jika tidak mampir ke warung tradisonal susu jahe, namun karena ini pagi hari maka hal yang patut dirasakan yaitu kenikmatan pemandangan pertanian berupa lahan sawah disepanjang jalan.

Telah sampailah di Desa Tasikrejo yang merupakan desa perbatasan antara Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Pemalang. Smartphone saya ambil apliakasi whatsapp aku buka kemudian menghubungi Om Edi, “Om aku udah memasuki Desa Tasikrejo”, begitu isi pesan tersebut.

Sejenak saya berhenti di depan Madrasah Salafiyah mengamati kegiatan masyarakat diantaranya banyak membawa alat pertanian berupa cangkul, arit, pompa pupuk dan tak lupa sedikit bekal yang dibawa menuju sawah tempat mereka bekerja.  Keceriaan kecil terpancar dari senyum sumringah menyambut pagi. Prediksi saya ternyata bulan ini musim panen yang menyebabkan mereka lebih sibuk dari hari biasanya.

Perjalanan kembali saya lanjutkan menuju Desa Pamutih, jalan lurus ke arah barat termasuk jalur utama penghubung desa. Kegiatan interaksi sosial ekonomi terwujud dalam kebiasaan masyarakat bermatapencaharian sebagai penjahit konveksi dan bertani. Rumah-rumah yang di pinggir jalan terlihat terbuka kemudian disana terdapat mesin jahit yang jumlahnya lebih dari satu. Artinya kreatifitas masyarakat disini juga sangat bagus dibidang ekonomi.

Pemandangan selanjutnya yaitu hamparan persawahan disisi kanan dan kiri. Tananaman padi menguning kompak memberikan tanda bahwa masa tanamnya dulu juga pada waktu bersamaan. Pada masa panennya pekerja dari daerah lain turut berpartisipasi serta bekerja dengan pemilik lahan persawahan. Mereka sebagai pekerja lepas buruh harian.  Umumnya mereka berombongan naik mobil pick up berangkat dan pulang bersama-sama. Tugas mereka hanya memanen atau istilah lokalnya disebut nggeret. Biasanya pemilik sawah turut serta dalam proses pemanenan. Dibantu dengan mobil keliling yang menawarkan jasa mesin pengolah padi mereka bekerja dalam satu tempat secara bersama-sama.

Sampai juga akhirnya di Desa Pamutih laporan kembali saya lakukan melalui pesan singkat kepada Om Edi. Tak lama kemudian beliau datang menggunakan sepeda motor bersama anak perempuannya yang masih balita. Bersamanya akhirnya menuju ke rumah beliau berganti mengambil sepeda gowes. Akhirnya kami pun bergowes ria menapaki jalanan Desa Pamutih dan sekitarnya.

Saya masih penasaran ingin belajar tentang pengetahuan tentang persawahan termasuk padi. Paling mudah dipelajari bentuk hasilnya terus tentang cara pengolahan. Maka tidak salahnya sambil menikmati gowes saya terlibat diskusi kecil dengan Om Edi.
“Om Edi yang namanya gabah itu hasil dari panenan kan ya?” , tanya saya sambil memilih jalan agar menepi.
”Bener om, jadi masih kasar biasanya masih ada rantingnya meskipun dikit”,
“Terus...kalau istilah katul itu hasil paling akhir dari kulit padi yang halus sedangkan dedhek itu hasil kasarnya kan betul begitu?”
“Bukan begitu om  dedhek itu ya kulitnya padi sedangkan katul adalah kupasan kulit ari padi yang dihaluskan”.
“Ohh...begitu om, selama ini persepsiku tentang pengolahan padi ternyata salah”.

Sambil mikir saya mengingat kembali waktu dulu bersama almarhum bapak saya sering disuruh membeli katul sebagai makanan ayam. Ditempat juragan padi katul tersebut dijual dengan harga Rp. 800 rupiah ternyata sekarang sudah naik menjadi Rp.2000. Menurut Om Edy katul ini pada prosesnya diseleksi pada saat padi dibuka kemudian bagian setelah kulit luar dikupas dan dihaluskan lagi. Ada dua bagian sortiran yang halus dan yang kasar. Bentuk hasil yang halus ini yang disebut dengan katul yang berguna untuk makanan ternak unggas. Beliau memaparkan juga mengenai istilah dedhek yaitu kulit yang paling luar sebagai bahan campuran pembakaran, pupuk dan sebagainya.

Tak terasa dari obolan tentang hasil padi tersebut menghantarkan ke tempat wisata mangrove di kawasan Sungai Comal. Sebuah dermaga kecil dilengkapi tempat menunggu perahu yang berlabuh mengantarkan wisatawan yang hendak menuju hutan mangrove. Menurut wisatawan yang baru menikmati perjalanan menggunakan perahu, diperlakukan waktu kurang lebih 20 menit agar sampai tempat wisatnya. Saya pun akhirnya mengurungkan niat karena masih banyak kagiatan lain hingga malam hari. Gowes kali ini cukup memberikan tambahan pengetahuan tentang padi dan hadiah menikmati kawasan sekitar hutan mangrove yang belum lama dibuka oleh pemerintah setempat.