Tuesday, 25 October 2016

Bimbang

Kala siang melingkupi matahari diujung kepala
Bercengkrama bertahan bersama hamparan syurga peraduan
Lalu berkata tumpah apapun dibenaknya
Sudah cukup waktu sepertinya harus segera melepas
Hidup berpasangan seraya layanya manusia

Ohh samudera...
Kirimkan gadis-gadis pantai
Berpaikaian selendang bak Ratu Pantai dari Pesisir utara
Tersenyum manis melingkar penuh girang layaknya nelayan pulang

Ohh udara pegununungan...
Sapalah daun-daun muda
Seperti segarnya embun menetes
Dipucuk daun teh hijau menyegarkan mata

Ada sisi hidup terus menjadi bayang-bayang hidup
Layaknya selalu ada menemani tangis hingga sekarang
Ahh...Angan selalu membunuh dan terus merajam
Membimbangkan langkah terhadap hidup 
Sampai sekarang masih penuh tanda tanya?


Sunday, 23 October 2016

Jalur Enduro Afdeling Jolotigo - Mesoyi

Sepeda gunung memang sangat identik dengan dangan dataran tinggi, sesuai habitatnya medan terjal, curam, naik atapun berliku-liku tetap harus dilewati. Jenis sepeda harus disesuaikan trek yang akan dilaluinya. Gowes kali ini Jum’at tangal 21 Oktober 2016 akan menelusuri jalur enduro Afdeling Jolotigo-Mesoyi tepatnya di daerah Kecamatan Doro Kabupaten Pekalongan.

Untuk mencapai tujuan titik start goweser disarankan loading dari arah Pantura Kota Pekalongan. Istilah loading berarti sepeda dan goweser harus dinaikkan alat transportasi seperti truk atau mobil pick up. Adapun pertimbangan loading karena jarak tempuh dari pantura ke Jalur Enduro Afdeling Jolotigo sekitar 35 kilometer, lumayan jauh bukan?. Selanjutnya sebagai efisiensi waktu agar bisa dilaksanakan setengah hari secara optimal.

Bertempat di rumahnya Om Hoze kegiataan loding mulai dilaksanakan, berbagai suguhan menarik sudah disiapkan sebagai bekal aktifitas gowes. Dibantu oleh rekan sopir yang tentunya sudah bisa mengerti kegiatan rutin bersepeda dengan sangat sigap menata sepeda ke dalam bak pick up agar lebih banyak muatannya.

Perjalanan loading menuju Jalur Enduro Afdeling Jolotigo dimulai menempuh perjalanan sekitar 45 menit dengan jalur aspal dan makadam yang terus menanjak. Disela-sela perjalanan tak lupa menambah bekal makanan dan minuman kecil sebagai suplai tenaga disaat perjalanan. Kerukunan serta tawa riang canda mereka menyatu dalam tujuan bersama olah raga dan sosial persahabatan.

Sampai pada titik start  goweser harus siap-siap turun berbenah menyiapkan sepeda guna mengikuti breifing oleh kapten Repoeblik MTB yaitu Om Rowi. Checking terakhir penggunaan alat keselamatan goweser helm dipastikan dalam keadaan terkunci dibagian dagu dan knee guard sudah terpasang dengan baik. Dipandu oleh beliau doa bersama agar aktifitas gowes bisa berjalan dengan lancar. Setelah berdoa bersama goweser mulai turun satu per satu meninggalkan titik start dan memulai aktifitas gowesnya. 


Jalur awal berupa turunan makadam beraturan kemudian diselingi jalanan setapak dengan kontur tanah datar sepanjang kurang lebih satu kilo meter. Kawasan ini merupakan perkebunan karet memasuki daerah selanjutnya yaitu terasering dengan masing-masing ketinggian tanah kurang lebih hampir satu meter artinya trek ini bisa disebut mini downhill. Saya menyebutnya mini downhill karena obstacle yang harus dilalui oleh goweser harus bisa mengatur handling serta banyak jebakan lubang antara lapisan tanah bagian atas dan bawah. Apabila salah menentukan titik landas roda depan sepeda rider bisa terperosok oleh lubang yang lebih dalam. Sangat menguji teknik kemampuan memilih jalur yang apabila dalam keadaan hujan lebat bisa menjadi jebakan karena tertutup oleh genangan air.

Awalan trek yang menegangkan pacuan ritme heart rate semakin terpacu, sementara keringat sudah keluar begitu derasnya. Disusul dengan keadaan tangan yang terasa tegang dalam memegang grip hadlebar saat setalah handling berlangsung sekitar kurang lebih 2 kilometer yang disebut trek mini downhill. Bagi yang pertama melalui jalur ini disarankan berada di bagian tengah rombongan dengan pertimbangan safety dalam pemilihan jalur. Setelah melewati jalur mini downhill yaitu evaluasi perjalanan setiap goweser melewati segala macam obsacle yang dilaluinya. Tak jarang Kapter Repoeblik Om Rowi memberikan saran teknik kepada goweser agar kedepannya bisa lolos melewatinya.


Jalur selanjutnya lebih kearah all mountain beruppa tanjakan berupa makadam dan turunan menuju sungai kecil dibagian bawahnya. Panjang trek sekitar 3 kilometer dari trek mini downhill. Bagi saya jalur paling tersulit dengan kemiringan tanah  kurang dari 30 derajat. Untuk melewati jalur curam berbahaya selain harus menguasai teknik keadaan nyali patut diperlukan, makanya jika keduanya belum memenuhi mending dituntun akan lebih aman. Keadaan setelah melewati sungai kecil berbanding terbalik dengan sebelumnya, yaitu tanjakan semak belukar yang cukup melelahkan. Disamping kiri nya berupa jurang, apabila tergelincir saat melewatinya bisaa langsung mendarat didasar jurang. Sangat asyik tentunya sekaligus menegangkan.

Memang komplit setelah berbecek-becek ria kemudian jalur pesawahan turut sebagai pelengkap dramatisasi perjalanan. Padi yang menghijau udara segar setelah hujan reda menghadirkan suasana damai begiitu sejahtera di kawasan Desa Mesoyi. Kearifan masyarakat lokal sangat gembira melihat jalur pedesaan dillewati komunitas sepeda. Kami pun turut mendekat disaat istirahat di warung tempatan yang khas dengan pisang gorengnya. 

Masih sekitar 3 kali memasuki kawasan hutan setelah beristirahat melepas ketegangan bersama. Pertama hutan semak semak dengan kelembapan menurut Saya cukup tinggi. Keadaan pohon-pohon tinggi dan semak-semak menutup pancaran sinar matahari. Jalur yang banyak memerlukan teknik handling serta kekuatan fokus konsentrasi mata dan fikiran harus menyatu dalam memahami keadaan jalan.

Rasa menyatu dengan alam gowes kali ini jalur yang terus meliuk-liuk mengikuti jalanan setapak serta gap-gap kecil khas lumutnya.  Rasa bahagianya terekspresi riuh terpancar sampai-sampai handling bisa kurang terfokus dan akhirnya ban belakang selip disaat akan melewati gap dengan kedalaman setengah meter. Akhirnya, “Krusuk...kedua kaki mengangkang terjerembab bersama sepeda”, kemudian teman-teman segera mengevakuasi memastikan keadaan Saya baik-baik saja. Alhamdulillah hanya sebatas terpeleset kedua kaki masih bisa dikondisikan dengan baik dan bisa melanjutkan perjalanan.


Jalur pinus menurut Saya jalur selfi dimana banyak pemandangan dapat dijadikan background dalam berfoto ria.  Tidak banyak obstacle hanya saja kedaan jalanan yang menurun dengan kontur tanah merah. Seringnya disaat hujan jalur ini dapat menyebabkan ban bisa mendonat, alias tanahnya menempel hingga keadaan rupa ban tidak dapat dilihat. Namun cuaca gowes kali ini sangat cerah sehingga keadaan itu tidak terjadi. Akhirnya kebersamaa goweser bersatu dalam momen foto bersama di sabana hutan pinus.  Terasa hangat kebersamaan kita dalam momen setengah capek dan sepertinya akan bersemangat kembali melihat ekspersi jepretan lensa dari kamera smartphone masing-masing goweser.


Jalur terakhir jalur perkebunan milik penduduk sekitar dengan ciri khas tanaman palawija dan pohon sengon. Sebagai gambaran jalur ini, masih termasuk jalur setapak dan sedikit pedaling. Namun jalur turunan pun masih ada sehingga kenikmatan “dronjong” sebagai turunan terakhir ada di jalur ini. Dilanjutkan dengan jalanan menuju pedesaan di daerah Karangdadap Kabupaten Pekalongan sebagai titik finish. Sudah terasa nikmat olah raga sore hari sambil menunggu adzan magrib berkumandang pedal terus dikayuh menuju titik kemenangan.

Penamaan Jalur Enduro Afdeling Jolotigo-Mesoyi  Kabupaten Pekalongan sepanjang kurang lebih 30 kilometer selayaknya pantas disandang dengan eksotisnya trek berbagai macam jenisnya diantaranya mini downhill, all mountain, dan cross country. Tak heran jalur ini menjadi trek kegiatan latihan tiap minggunya bagi Repoeblik MTB  Pekalongan. Seringnya mereka menggali mengeksplorasi lebih dalam mengenai jalur-jalur baru sebagai alternatif penunjang dalam mengatasi keadaan alam misalnya penebangan hutan ataupun mengupgrade teknik bersepeda. Terima kasih  buat Repoeblik MTB atas berbagi segala pengalamannya dalam gowes kali ini.



Tuesday, 18 October 2016

Gagasan Sampah Menjelang Pesta Pora

Era atmosfer politik dimasa skarang tidak hanya dikemas dalam suasana perang dingin secara nyata. Pemanfaatan media baik cetak maupun elektronik merebak berserakan menuai kontroversi bagi pembacanya. Sikap saling adu benar mengalahkan argumen lawan, membuat sutradara penjegalan pamor dan bahkan fitnah acap kali terus membumbung tinggi. Media elektronik paling efektif membuat rudal-rudal berita mengeruhkan suasana mungkin yang bisa mempengaruhi pandangan bisa berawal dari peringatan bahkan ancaman. Gambaran ini seakan menyerupai kayu bakar kering siap dipantik dengan api memungkinkan terjadi penyulutan api besar-besaran.

Momok yang beredar dari informasi berasal dari pemikiran tentunya dari sebuah prediksi yang dilandasi dengan atau tanpa fakta yang belum atau dapat dipercaya kevalidannya. Saya bukan pakar politik ataupun seseorang yang mengetahui sebenarnya yang sedang terjadi di negara kita. Apabila disuatu pagi ada seseorang memberikan sebuah piring diatas meja lalu dituliskan pertanyaan, “Bagaimana pendapat Anda tentang pemimpin A dan pemimpin B?” saya akan balik bertanya kepada pemberi piring. “Kapasitas Anda dan Saya memberikan pertanyaan dan jawaban tentang perpolitikan itu sebagai apa?”. Warga negaara, pencarian dukungan atau mengajak ke meja berdebat yang menjadi kusir sebagai tunggangannya. Ternyata kita sama-sama belum mengetahui mengenai tugas hidup masing-masing yang sebenarnya.

Kegampangan terpancing emosionalnya dari deretan tulisan dengan mengetahui informasi hanya di permukaan saja. Membagikan informasi setiap orang kemudian terlalu malas untuk memperdalam fakta kebenaran yang terjadi. Menimbulkan kesan pahlawan pembela tokoh calon pemimpin namun enggan mengenal lebih dalam latar belakang, siapa promotor dibalik panggung sandiwaranya. Hanya membaca sekilas biografi, pencapaian kerja, mengenai visi dan misinya  apapun bentuknya sekalipun dia nomor satu sebagai orang paling super maka terus akan dia banggakan. Kembali lagi media menjadi sumber ajang promosi yang efektif meyakinkan seseorang.

Teknik kopi tempel (copy paste) dan bagikan memudahkan manusia sekarang lebih mudah meyakini informasi dengan kemasan sedemikian rupa tanpa pendalaman kebenaran secara faktual. Bahkan menyampaiakan sebuah argumen dengan tendensi mengajak duel dalam berdebatan. Tidak memandang strata kehidupan nyatanya mereka sudah terhanyut mengikuti arus dan tanpa berenang menepi. Gagasan tersebut tidak berdiri sendiri hanya menyandar dari sebuah informasi yang sesuai pendapatnya. Semuanya akan membuat kerdil dari sisi pemikiran pribadi  maupun kemampuan rasa tanggung jawab terhadap yang diutarakannya.

Lalu bilamana ada manusia super menjadi petugas rakyat dengan segala kekuatan yang begitu tegas dan lantang memporak-porandakan tembok birokrasi. “Tanpa harus melibatkan action didepan kamera apa kurang mantap bekerja untuk rakyat?”.  Lalu berbagai opini memberikan applause kepadanya dengan jargon “Ini baru pemimpin kita, Seharusnya begini...dsb”. Kalaupun Anda sebagai petugas rakyat (Saya malas menyebutnya sebagai pemimpin) dan berhasil mencapai tujuan yang sebenarnya diinginkan rakyat itu sudah menjadi tugas Anda.  Tanpa harus mencapai titik pemberitaan media sebagai bukti Anda bekerja. Rakyat juga jangan terlalu gumunan terhadap petugas rakyat (lagi-lagi Saya malas menyebutnya sebagai pemimpin) yang terjadi di negara kita. Andaikan setiap hari petugas rakyat seperti pemungut sampah dijalan diizinkan menjadi trending topik sebagai pahlawan kebersihan negara tentunya mereka akan berpeluang menjadi manusia super yang patut diandalkan sebagai petugas rakyat yang sebenarnya.

Menjadi manusia yang sebenarnya dengan mengambil keputusuan hati mulia dan pemikiran sehat tanpa harus menyebarkan yang bukan menjadi spesifikasi kualitas pemikiran yang tidak sesuai kapasitasnya. Commond sense akan lebih halus dari dalam hati disaat mata terpenjam, pikiran terfokus, maka hati akan berkata sejujurnya bahkan kebaikan terkecil akan tampak bercahaya.
                                                                 foto :google

Jalur XC PTPN Blimbing - Rogoselo

Pagi yang cukup cerah bersepeda menjadi kebiasaan yang enggan ditinggalkan. Selain menjadi kegiatan olah raga tentunya ada kesan tersendiri disaat bisa melewati tempat-tempat yang asyik di sekitar kita. Akan lebih menarik jika secara teknik jalur sepeda bisa memenuhi dan sekaligus ada nilai lain seperti wisata yang bisa menjadi sarana penghilang penat rutinitas sehari-hari.

Jalur cross country atau yang lebih sering disebut XC menurut Saya merupakan perpaduan jalur dengan berbagai keadaan jalan diantaranya aspal, tanah (setapak) , makadam (batu) dan sedikit rintangan dintaranya tanjakan ataupun turunan dengan jalur minimal 10 km. Adapun obstacle (rintangan) yang biasanya dilalui oleh goweser berupa jalanan tanah yang tidak begitu rata, sehingga secara teknik goweser harus bisa belajar handling yang baik, setidaknya bertahan agar tidak jatuh.



Gowes kali Saya memilih jalur XC Afdeling Blimbing-Rogoselo terletak berada di wilayah Kecamatan Karanganyar  sekitar 2 kilometer ke arah selatan. Bersama Om Ady, Om Yasno dan Pak Firdaus kami pun memulai perjalanan menuju titik start di perkebunan PTPN Blimbing. Ditempuh melalui jalanan beraspal dari jembatan panjang Karanganyar ke arah selatan dengan tanjakan landai sebagai pemanasan awal bersepeda. Tanpa terasa keringat sudah mengucur begitu deras, ritme pedal statis menanjak seakan tanpa hentinya derap jantung penuh irama stabil kemudian sampai digerbang PTPN Blimbing kami pun berisirahat. Sembari menunggu Om Yasno yang kebetulan masih asyik dengan penggunaan speed 8 dipilihnya disaat melewati tanjakan.

Meluangkan waktu beristirahat sejenak adalah momen terpenting dalam dunia pergowesan. Selain untuk menurunkan heart rate (detak jantung) beristirahat memberikan peluang kita menikmati keadaan sekitar menilai keadaan daerah yang kemungkinan bisa diambil sisi baik disetiap tempat peristirahatan. Seperti dipertigaan PTPN Blimbing disini merupakan akses bertemunya tiga jalur yaitu perkebunan karet, wisata lolong dan jalur dari Karanganyar. Selain menjadi titik strategis disekitar pertigaan terdapat fasilitas umum seperti masjid, praktek bidan juga terdapat bengkel motor dan warung kelontong yang kebetulan pagi itu belum ada tanda-tanda sudah mulai buka. Tidak ada masyarakat sekitar yang bisa kami temui untuk diajak sharing menggali lebih dalam tentang hal yang menarik mengenai sekitaran perkebunan.


Perjalanan dilanjutkan memasuki area perkebunan karet, jalur aspal yang sudah mulai menampakkan kerusakan parah tidak menjadi masalah bagi sepeda MTB yang memang didesain untuk berbaai medan. Sampai disuatu tikungan kami menjumpai 2 orang ibu yang sedang membawa kayu dipunggunggnya. Sudah menjadi kebiasaan disaat bertemu dengan kearifan masyarakat lokal kami pun sekedar memeluk mereka dengan percakapan ringan seolah-olah sok akrab, terserah apapun penilaiannya tapi sebenarnya kepada siapapun kita harus berlajar tentang kehidupan. Kedua ibu ini sering mencari potongan kayu berasal dari perkebunan karet. Betapa mulia tentang semangat bekerja mengangkut tumpukan kayu dipundaknya paling tidak 20 kg mereka sunggi melewati jalur perkebunan karet. Bukan saat ini saja Saya menemukan contoh kegigihan masyarakat didaerah pegunungan sangat kental dengan kekuatan fisik tanpa membedakan jenis kelamin maka seharusnya masyarakat lain juga bisa berkaca dengan keadaan seperti ini.


Menginjak jalur selanjutnya yaitu jalur setapak atau tanah disaat memasuki jembatan tradisional yang konon jembatan ini buatan jaman Belanda entah mungkin belum bisa dipastikan tentang kebenarannya. Turunan yang tidak begitu curam namun lumayan panjang sekitar 500 meter menuju jembatan sangat mengasyikkan sebagai tanda sudah melewati separuh perjalanan jalur XC.  Keadaan jembatan berlubang harus ekstra berhati-hati ketika melaluinya.


Diseberang jembatan memasuk hutan di Kecamatan Doro dengan jalur makadam atau bebatuan kasar. Sebelah kiri hutan berbagai tanaman semak belukar, sedangkan sebelah kanan adalah jurang dengan kedalaman kurang lebih 20 meteran atau setinggi pohon durian khas Doro. Udara lebih segar beserta gemercik air disamping jalan, sangat terasa nikmat Allah SWT bagi manusia. Agar berdamai dengan hate rate yang semakin kencang pada akhirnya kami menyerah dengan keadaan denga menuntun sepeda melawan tanjakan. Bukan hal asing lagi istilah MTB juga berarti Manjat Tuntun Bareng dipergunakan dalam keadaan ini.


Rumah penduduk sudah mulai terlihat yang berarti peradaban masyarakat telah nampak sebagai tanda titik finish  yaitu kawasan Rogoselo akan segera sampai. Rogoselo terkenal dengan sumber air yang sangat bagus di Kabupaten Pekalongan. Pemilik Perusahaan Air Minum berplat merah pun mengambil sumber air dari kawasan ini. Selain merupakan air pegunungan Rogoselo juga terkenal dengan komoditas buah durian yang sering diadakan pesta durian tiap tahunnya. Kawasan air pegunungan bersumber pada sungai Rogoselo yang penuh bebatuan besar menumpuk sepanjang sungai. Keadaan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi siapa saja yang jarang melewati jalur sungai, seperti kita yang turut menikmati segarnya air. Tak salah jika memang benar adanya betapa segar sumber air di sungai ini, ada keistimewaan tersendiri disaat derasnya air turun mengguyur badan terasa Rahmat tercurah kepada manusia, terima kasih Allah SWT atas nikmatnya kepada kami.


Jalur XC PTPN Blimbing-Rogoselo dengan jarak tempuh kurang lebih 15 kilometer dari arah Kecamatan Karanganyar. Keadaan jalan aspal, setapak dan makadam menjadi ciri khas disaat melewatinya sangat pas jika ingin belajar teknik handling bagi MTB pemula. Persiapkan sepeda dalam keadaan benar-benar fit, tidak disarankan menggunakan ban roadbike , meskipun gowes kali ini ada teman Saya yang mencoba menggunakannya namun Saya kira masih kurang bersahabat disaat melewati jalur makadam.. Semoga semua bisa mengambil manfaatnyaa.

Serabut untuk Gedung Tak Bertuan



Semilir desiran angin menghempas dedaunan rimba disamping teras seberang bukit sekumpulan burung menari mengepakkan sayap lantas berkicau. Kepada dunia terus memberikan kabar suatu saat akan dibuatkan kumpulan anyaman serabut berbentuk seperti gedung kebanggaan bersama. Kicauan terus berkumandang sampai hilir pedalaman seraya menjadi kewajiban mengumpulkan serabut agar tujuan tersebut terlaksana.

Dharma yang sedang asyik melukis panorama keanehan dalam diri tiap manusia tersentak mendengar kicuan dari timur serasa terus memberi kabar. Lalu dibiarkan suara itu gaduh menggelegar serasa tak terjadi apa-apa. Pagi hingga petang menjelang malam keanehan kicuan dibiarkan. Namun, semakin hari terus berkicau menekan, terdengar suara ambigu bergemuruh sampai tak bertuan kejelasannya. Dharma bertanya kepada burung yang berada didekatnya,

“Lalu kenapa engkau menyuruhku untuk mengumpulkan serabut untuk membuat gedung?”, dengan penuh damai Dharma berbicara kepada burung. Lalu burung itu seakan tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dari sesama burung dibalik bukit timur. Burung itu kemudian menjawab, “Akh….Saya hanya penerus kicauan yang dipergunakan untuk kepentingan bersama”. Dharma semakin tidak mengerti maksud jawaban tersebut. Secangkir teh diseduhnya agar percakapan Dharma agar terasa lebih lama, “Hai burung bukan masalah tentang serabut yang dibutuhkan melainkan cara meminta serabut agar cukup untuk membuat gedung”, sanggah Dharma sembari meneguk kembali teh dihadapannya.

Geliat burung kembali menunjukkan ketidaktahuannya, semakin memelas melihat ada benarnya saat Dharma memberikan argumennya, lalu burung kembali bersuara, “Sangat benar apa yang dikatakan Engkau wahai Dharma, semua atas perintah pengumpulan serabut itu bisa mendatangkan kecurigaan antar sesama pelukis alam, sementara mereka tidak mengetahui sampai berapakah serabut yang dibutuhkan dan akan dibentuk seperti apa gedung itu akan dibuat”, jawab burung seakan ia menyetujui pendapat Dharma.

Dharma menimpali pernyataan disela pembicaraan tersebut, “Seharusnnya burung disaat berkicau dirasa bisa menampilkan sisi keindahan dan keharmonisan diantara pelukis-pelukis yang tidak sama baik derajat maupun pangkatnya disisi kerajaan. Semua akan berjalan dengan berkesinambungan apabila seluruh pelukis mempunyai kesamaan, namun perbedaan formalitas kerajaan menjadi hal yang beda dalam memberikan serabut meskipun hanya 5 untaian serabut bagi mereka yang dibilang mampu karena berbagai tunjangan dari kerajaan”.

Burung kembali  berujar, “Lho kok merasa berat bukannya itu bisa diberikan tiap serabut biar saya sampaikan maha burung dibalik bukit?” tanya burung kepada Dharma. “Iyah permasalahannya yang pertama bukan bukan ikhlas atau pun tidak, bukan mau atau tidak mau, selama ini burung dibalik bukit tidak mengetahui secara jelas kemampuan dan kemauan pelukis yang katanya sudah tanpa dibedakan diantara pelukis dari kerajaan. Baik secara peraturan tetap ada kebijakan namun secara faktual peran burung tidak akan bisa berkutat melawan birokrasi rimba yang sudah dinaungi pelukis didalamnya. Lalu sekarang burung dibalik bukit akan meminta serabut dengan cara yang penuh pertanyaan. Sepertinya pelukis sudah dianggap sebagai perwujudan kemakmuran bersama yang bisa memberikan sesuatu yang lebih, sepertinya harus menjadi cerminan dari kinerja masing-masing”, Dharma semakin kritis memberikan jawaban atas kicauan burung didekatnya.

Dipertemukan keadaan Dharma dan burung dihadapnya  kembali berdiam, menatap hampa satu sama lain menjadi kesamaan. Mereka dengan penuh tanya tentang fenomena serabut yang menjadi target tujuan fisik bukan target tujuan prinsipil guna menyetarakan antara diantara pelukis-pelukis. Seakan mereka sudah bebas dari tujuan utamanya. Rasa lupa itu terlalu mendasar tidak mengetahui apa yang menjadi keinginan pelukis yang tidak diakui dibawah kerajaan cinta, yang kita huni bersama.
                                          foto : google

Thursday, 13 October 2016

Pagi Jamuan Perjodohan

Tumpukan nasi bersanding diatas meja
Bersama pagi yang mengharuskan segera beranjak pergi
Lalu terlintas memberikan kenyamanan
Seandainya pendamping itu ada
Tentunya kemesraan akan bertamabah
Mengawali embun pagi membuka kehidupan

Senda gurau berhembus begitu saja
Terpanggilah asa lalu berceloteh
Dengan siapa agar lebih cepat datang
Biarkan aku serahkan kepadamu
Agar kemudahanku bisa mencairkan cara

Guratan kening tiba-tiba muncul
Kabar dari sahabat dipercaya
Pembawa berita baik mungkin suatu saat tiba
Sosok sederhana yang diceritakan
Bisa melenturkan kaki tatkala bersujud
Melahirkan peradaban baru manusia

Langkahku segera beranjak pergi
Meski hati yang terus berat meninggalkan
Asa begitu mendalam memiliki rasa
Yang tak begitu saja dihilangkan


Belum dianggap Sahabat

Kebimbangan bersama malam saat usai senja berlalu
Diantara pena beserta tumpukan kertas-kertas
Kemudian aku menoleh hanya senyum yang ku bisa
Malam ini kau bekerja atau masih terus menumpuk menghabiskan waktu

Separuh jiwa diantara sesuatu yang paling berharga
Memandangku penuh arti seraya benaknya mengatakan
Kau jangan pergi meski mulutmu membolehkanku pergi
Tak ada sesuatu keadaan hanya sebuah rasa tunduk serta patuh
Atas segala kesendirian dan perhatian yang selalu Allah berikan

Kabar ku layangkaan bersama udara malam serentak
Diatas jemari ku gapai agar selalu kemesraan kian terjaga
Hampa tiada kabar yang sampai ke telinga namun hanya doa
Betapapun mulia kau bisa bercanda kepada sahabat yang telah lama
Namun pembatas kaki melangkah atau tanganku tidak bisa menggapai
Atas langkah berlari disaat istirahat aku pun belum bisa
Merajut kemesraan


Disini aku ingin bisa menjadi bagian dari kemesraan mereka

                                           foto: google