Thursday, 12 January 2017

Pesan Sebagai Tanda

Seperti janjiku kepadamu waktu kemarin
Pagi ini aku menjemputmu dalam cinta
Langkahku terhenti tiba-tiba disaat waktu telah berujar
Semalam atas sesuatu yang terjadi

Aku mendengar tentang kabarmu
Disaat semuanya tidak seperti biasa
Lalu aku kirimkan pesan-pesan perhatian
Sebagai rasa iba dan sayangku kepadamu

Waktu pun menjawab semuanya
Tidak seperti biasanya pesan itu terbalas
Berkali-kali aku melihat layar ponsel
Aku keluar masuk ke kamarku tidak ada
Bunyi apapun yang terdengar dan aku berharap
Jika itu memang terdengar bunyi pemberitahuan
Itu adalah jawaban dari kamu

Sampai suatu saat bunyi itu terdengar
Bagitu bahagianya karena aku yakin
Bahwa itu pesan sebagai tanda
Besok kita akan bertemu berjalan bersama
Pesan itu aku baca perlahan
Bahasa pesan itu bukan tulisan mesra dari kamu
“Tidak usah diingatkan karena sudah ada keluarga”
Bagitu kiranya aku terima dari pertanyaanku
Atas keingintahuaan ku tentang makan malammu
Bukan karena aku berlebihan tentang caraku
Melainkan bagiku itu semua tentang ketulusan
Karena aku ingin belajar mencintaimu
Melalui hal terkecil yang bagi orang lain
Tidaklah penting bahkan tidaklah perlu

Hati ku pun sedih saat setelah pesan itu aku baca
Harapan dari keluarga mati pupus
Sudah tanda itu sebagai awal kebencian
Terhadap hubungan yang terjalin begitu lama

Antara aku dan kamu

Wednesday, 11 January 2017

Dua Bukit Terlampui

Sebut saja sama-sama petualang, berangkat bersama dari gubuk persinggahan atas nama lelakon bahkan melakoninya. Berjalan melalui berbagai rintangan ranting, semak belukar, batu terjal, dataran naik menjulang, pada bagian sungai mengalir air membasuh muka sejenak beristirahatlah menunggu kicauan burung jalak memberikan isyarat bidadari akan lewat selepas dari istana. Rupanya tiba saat gurauan kecil terdengar dari balik bukit, bidadari tengah asik bercanda dengan laki-laki yang konon akan diambil menjadi pangeran di kahyangan. Perjalanan terus menapaki tepian bukit di pinggir tebing jalur tanah pegunungan basah suara serangga,”krreeit...kreeitt...kreeitt” berulang dengan ritme yang sama. Perjalanan sudah hampir satu jam, tiba saatnya memasuki bukit seberang suara yang terdengar hampir sama sedikit agak menggema. Ternyata memang benar adanya sudah hampir  dua hari seorang petualang berada di bukit bersama bidadari yang baru dikenalnya tatkala masuk ke hutan.

Tidak ada tanda apapun yang dirasakan disaat seseorang telah jatuh cinta kepada lawan jenisnya entah itu manusia biasa ataupun bidadari penuh keelokan. Bisa dikatakan sifatnya yang pintar menyembunyikan masalah paling rahasia bagi dirinya untuk tidak diketahui. Kebiasaan hanya sebatas komunikasi dua arah terhadap sesuatu yang menyangkut hal lain yaitu alasan keperluan. Kalaupun ada sekedar kelakar itu hanya pemanis gurauan agar padatan-padatan suasana dapat sedikit dicairkan. Pernyataan terhadap agenda masa depan jarang pernah diketahui orang banyak, kiranya terlalu berlebihan apabila orang lain harus tahu. Bagi yang berinteraksi dengan frekuensi yang sering pun tidak bisa merasakan tanda-tanda kejanggalan yang merujuk kepada rencana besar. Wajah datar ekspresi sering mengecohkan orang-orang terdekat meski lelucon-lelucon sederhana yang dianggap lucu seraya tidak bergeming apalagi meresponnya meskipun itu sekedar basa-basi.

Sampai suatu saat keheningan memecahkan bunyi jarum jatuh dari meja yang berisi tumpukan gaun pengantin diantara mereka berdua. Bergegas suara tersebut dilontarkan karena melihat sepasang gaun tersebut telah jadi lalu ingin mereka pakai dalam momen bahagia yang disebut pernikahan.Berbagai ucapan selamat mendengung ditelinga seorang petualang nan gagah tinggi tiada lawan. Penghuni kahyangan lainnya terasa mencengangkan secepat itu terjadi, kemudia mereka  memakluminya karena ada sesuatu yang dipaksakan, dalam batas keinginan berkomitmen bukan eksekusi terhadap pilihan atas dasar kedaulatan pribadi sang petualang.

Tidak semua penghuni hutan diundang ke negeri kahyangan, beberapa spesies isi hutan sebagai saksi hidup yang bisa menebus batas sakral yang akan ditempuh akhir-akhir ini menjelang awal tahun. Beragam pernak-pernik aksen bumbu pesta pernikahan tersaji indah dalam momen sakral setelah pagi hari terlewati, giliran rasa syukur yang mendalam ingin mereka bagi kepada khalayak khususnya orang-orang terdekat mereka. Sungguh keceriaan terpancar dari masing-masing petualang beserta bidadari menyertai untaian salam ke setiap yang memberikan ucapan. Diantara hari paling bahagia selama mereka hidup hanya saat ini waktu sakral penuh haru dan bahagia. Semua mata tertuju atas keindahan pasangan penuh cinta diantara liku perjalanan setapak, berbukit-bukit dan rintangan kini terjawab sudah. Penggarisan nasib telah ditentukan dihari yang lancar sudah sesuai dalam rencana jauh sebelum keduanya mengenalnya.

Tanpa waktu panjang petualang pun meninggalkan teman sejawatnya yang masih menikmati kebahagiaan. Lalu petualang  turun kembali mengarungi hutan sebagai musafir di hutan belantara. Terus berjalan menikmati seninya hidup. Raut mukanya dipaksakan harus tersenyum karena tuntutan penduduk hutan senantiasa selalu hormat dan ramah, itu semua sebagai keyword tatkala salah satu kaki menginjakkan pelataran hutan bagian depan. Menahan perih atas laparnya hati tatkala harus menapaki langkah meski pernah bertemu kebahagian yang hanya separuh rasa lalu berujung pertikaian dingin. Menoleh kebelakang sebagai tapak tilas peradaban kebahagiaan, hatinnya menangis , perasaannya teriris atas imaji-imaji yang terkikis.

Menghela nafas adalah cara terbaik sebagai cara melapangkan hati dan menghibur diri. Perasaan akan lebih menerima kenyataan menerima keadaan diantara cara-cara lain yang memaksakan diri menghadirkan seperti kenikmatan orang lain. Detak jantung lebih stabil dari kekhawatiran masalah yang belum nampak sampai saat ini bahkan hari esok masih tergantung dalam langit yang tidak pasti. Diantara carut marut pertentangan maka perlahan hati menjawab atas keyakinan kepada pemilik jagad raya Tuhan semesta alam.

Senja datang keheningan mulai tampak perjalanan masih saja tidak berhentinya. Telinga mulai terusik mendengar suara alunan seruling seraya ada pesta. Suara tampak lebih jelas disaat langkah kaki mendekati bukit ternyata memang ada benarnya, kemesraan pangeran dan bidadari terlukis indah diantara tamu-tamu yang silih berdatangan. Sudah bisa ditebak bahwa pangeeran itu sahabat petualang yang pernah 10 tahun lamanya mereka saling mengenal. Rasa percaya diri sangatlah perlu meski datang terlambat langkahnya sangat dinanti pangeran turut larut ke dalam aura cinta berbalut tirai pernikahan.


Perlahan terus langkah mendekati beberapa pelandang istana dibawah bukit. Mencoba tegar bahwa kedatangannya hanya sendiri melipur kesedihan hati.  Mencoba tersenyum lalu hatinya memaksa mengatakan harus bahagia dihadapan mereka. Menutup kesedihan atas keadaan yang sesungguhnya terjadi. Perasaannya kembali melapangkan diri bahwa ingin cepat-cepat malam ini lebih singkat lalu berganti esok hari. Tangan kanan disodorkan kepada pangeran, lalu berjabat tangan  ucapan selamat turut dihaturkan atas kebahagiaan yang mereka rasakan. Beberapa tamu yang hadir saling menatap atas keadaannya masing-masing, ternyata perjalanan petualang lebih panjang dari mereka yang baru akan menapaki menuju lintasan alam. Kepalanya menunduk meratapi perjalanan yang sudah terlalu lama dihabiskan oleh perjalanan. Hatinya menangis atas kesunyian perjalanan atas riwayat-riwayat impian yang tak kunjung hadir. Keadaan semakin pilu, langkah kaki tak ingin berlama-lama berada di istana kebahagiaan, bergegaslah lalu berlari berteriak di ruang hati yang begitu sesak. Kemudian petualang itu sadar hari itu dua bukit terlampui begitu cepatnya lalu tertinggal.

Saturday, 7 January 2017

PNBP Bagi Goweser

Pemerintah secara resmi menaikkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Pelayanan administrasi bersifat PNBP, antara lain Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK), Surat Izin Mengemudi (SIM), Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB), Tanda Nomor Kendaraan Bermotro (TNKB) dan Surat Izin Senjata Api dan Bahan Peledak.

Menyikapi kebijakan yang sudah ditetapkan pemerintah menjadi bahan renungan bagi kita semua. Begitu menjamurnya kendaraan roda 2 dan 4 yang bisa merubah paradigma strata sosial di masyarakat. Peningkatan tersebut terasa seiring banyaknya peminat kendaraan serta didukung oleh kemudahan akses kepemilikan berupa lembaga finansial seperti leasing yang juga berkembang secara signifikan. Pada akhirnya leasing turut memeriahkan demi mengejar jenjang sosial masyarakat yang prematur dan terkesan dipaksakan. Tindakan saling mempengaruhi antara penjual dan lembaga finansial bagaikan simbiosis mutualisme dalam menerobos pangsa pasar otomotif nasional. Bagi pembeli pada tingkatan sedang maupun ke bawah beban angsuran demi angsuran mencekik pendapatan sebagai tanggungan yang dipikul ditiap bulannya.

Pangsa pasar meningkat karena ada permintaan dari konsumen yang berpotensi sebagai dampak industri besar-besaran. Secara faktual bahwa seluruh lapisan masyarakat sangat menggemari berbagai jenis kendaraan. Bagi kalangan masyarakat menengah ke bawah kendaraan roda 2 menjadi primadona. Antusiasme masyarakat desa tercermin, apabila pihak perusahaan kendaraan mengeluarkan tipe model terbaru yang bisa berganti menyesuaikan tren yang berkembang saat itu. Kalangan menengah mencoba sedikit demi sedikit merangkak mencicil dana pertama sebagai angsuran memiliki roda empat yang apabila sudah memenuhi persyaratan leasing maka diajukannya kredit mobil sebagai modalitas setelah kendaraan roda dua. Pemandangan serupa tidak kalah menariknya bagi kalangan atas karena kalangan dibawahnya sudah mendominasi wilayah kepemilikan stratanya. Mau tidak mau pada akhirnya meng-upgrade kondisi mobilnya baik dari kemampuan kapasitas mesin ataupun mereknya. Seharusnya masyarakat juga memikirkan agar tidak selalu tergantung dengan kendaraan bermotor dan mengikuti aliran tren otomotif yang hadir di layar kaca. Coba renungkan kembali, di negara pembuatnya (Jepang), masyarakatnya lebih setia dengan bersepeda. Bahkan sekaliber prosfesor pun masih setia dengan budaya sepeda meski hanya untuk jarak dekat. Pada prinsipnya mereka tidak terlalu ingin hidup dengan penuh gaya konsumtif seperti di negara kita, tidak hanya itu cara memandang tingkat strata masyarkat tidak hanya  keberhasilan materi yang dicapai melainkan sisi kebagaiaan yang mereka inginkan, sedangkan untuk bahagia mereka tidak melalui cara hidup yang penuh kemewahan, itu potret masyarakat Jepang yang dikategorikan negara maju.

Pertemanan saya di facebook sebagai penggemar sepeda, dapat mengubah cara berfikir. Bahwa tidak selamanya mesin itu membuat kita lebih mudah, bahkan berpotensi menjadi sampah perkotaan. Di kota-kota besar seperti Jakarta sangat jalan raya didominasi berbagai kendaraan yang melintas. Begitu ramainya kota-kota besar di pulau jawa juga terjadi hal serupa semaikin tahun jumlahnya seakan menjamur. Keadaan seperti ini, berpotensi wilayah kabupaten di seluruh Pulau Jawa akan terjadi permasalahan sosial yang diakibatkan karena dampak budaya berotomotif ria dari semua kalangan masyarakat. Akibatnya akses jalan raya semakin dipenuhi banyaknya pengguna kendaraan. Status sebagai pelajar semakin mudah memiliki sepeda motor, karena tren menggunakan sepeda motor ke sekolah sudah mulai ditahun 2000-an. Bayangkan saja apabila setiap satu sekolah berjumlah 1000 siswa. Apabila 75% menggunakan kendaraan roda dua berarti sudah 750 motor yang keluar dari rumah.  Sehingga puncak kemacetan terjadi pada saat pagi hari disaat aktivitas pelajar dan pekerja dimulai diwaktu yang sama. Selain itu terjadi pada sore hari hari di titik keramaian seperti di persimpangan atau jalur trafic light. Dampak lain yang dapat dirasakan mengenai buruknya kualitas udara yang berada di jalur kemacetan. Untuk alat ukur tingkat polusi di sudut perkotaan masih belum terpasang sehingga masyarakat juga tidak bisa mengakses secara realtime kondisi udara yang mereka hirup setiap melewati jalur kemacetan.

Goweser menjadi gerakan sunyi diantara merebaknya geliat industri otomotif yang berkorelasi dengan kondisi Sumber Daya Alam yang terkuras sedemikian pesatnya. Goweser atau penggemar sepeda melalui komunitasnya berkembang melalui akses media sosial meskipun mereka memulai aktifitasnya di akhir pekan. Tingkat motivasi para goweser lebih sebagai olah raga yang bersifat wisata atau lebih menghilangkan penat aktifitas kesehariannya. Diantara mereka ada yang berpendapat bahwa bersepeda sebagai sarana alternatif menikmati perjalanan selain menggunakan kendaraan bermotor. Kerisauan terjadi sebagai bentuk kepedulian terhadap banyaknya kendaraan bermotor dan modalitas alat transportasi berupa sepeda semakin ditinggalkan oleh sebagian masyarakat. Selain itu permasalahan lain berakibat dengan ketersediaan Sumber Daya Alam berupa minyak bumi  bagi generasi mendatang. Hubungan dengan keadaan perekonomian untuk saat ini, semakin tinggi permintaan industri otomotif, bagi pemerintah sangat mudah menekan kebijakan yang berhubunagan tarif regulasi, pajak dan BBM. Andaikan harga BBM yang sudah dipatok dengan harga tinggi bagi goweser akses transportasi tidak menutup kemungkinan bisa secara langsung berpindah menggunakan sepeda. Bagi mereka gerakan sunyi sebagai seorang agen menyuarakan bebas polusi karena kendaraan sudah tertanam melalui kegiatan berolah raga selain itu dampak lain yang dapat dirasakan yaitu sebagai kepedulian penghematan sumber energi berupa minyak yang dieksploitasi secara besar-besaran, guna memenuhi kebutuhan berkendara.

Sebagai rakyat sekaligus masyarakat yang turut memperhatikan gaya pemerintah yang memberikan kebijakan mengenai pajak ataupun pungutan lain. Rumusnya sangat mudah, sesuatu yang bersifat banyak akan berpotensi menjadi pendapatan negara. Pada era tahun  80-90 an pengguna sepeda atau sejenisnya sangat banyak. Momen tersebut dimanfaatkan pemerintah dengan menarik biaya entah akan masuk pajak ataupun non pajak. Untuk saat ini goweser masih bisa tersenyum riang karena pemilik sepeda tidak dibebankan biaya apapun dari pemerintah dalam tiap tahunnya. Akankah ini akan bertahan atau kembali ke tahun 80-90 an jika gerakan sunyi ini sukses merubah pola hidup masyarakat?

Entahlah, semoga tidak terjadi demikian.


Friday, 6 January 2017

Rasa Yang Kembali

Coba lihat merpati itu terbang mengudara
Putih dibalik hamparan birunya langit mempesona
Menapaki alam sebelum ufuk matahari
Melalang buana menelusuri bukit
Terasa capeknya kemudian istirahat di atas ranting
Lehernya menoleh ke kanan
Melihat semut berbondong-bondong bergerilya
Tak lama lagi kemudian merpati pun pergi
Mencari pohon yang memungkinkan ranting
Bisa dibawa pulang membuat sangkarnya sendiri
Terus berlanjut melingkari detik waktu demi waktu
Bayang-bayang saat bahagia itu pernah ada
Membumikan dalam kalbu rasa saling memiliki
Meskipun terbang hanya sebatas kewajiban
Sebagai pencari ranting tanpa memperdulikan
Untuk siapa saja ranting dicari 
Hidupnya penuh pertanyaan
Kepada siapa, kepada siapa, kepada siapa
Harus singgah besemayam ke dalam hati
Yang seperti rasa paling menentramkan jiwa
Mengerti kala masa sulit mencari ranting
Atau kaki yang pernah pincang
Setelah itu masih setia memapahnya berjalan
Menemani menemukan pohon pohon rindang
Kemudian saat itu berteduh bersama
Mengukir harapan masa depan
Kuasa manusia akan memuncak
Saat batasan-batasan ruang batinnya
Terbendung tak terhelakkan termasuk rasa rindu
Seperti bisa ular yang mematikan
Merpati itu berhenti sejenak kemudian berteriak
Bukit yang telah lama tidur
Diwaktu bersamaan lalu bangun
Mengerti keadaan gerah perasaan merpati kala itu
Kedua sayapnya dikepakkan  berbalik arah
Terbang dengan kedua matanya ditutup
Tanpa melihat merpati lain yang lebih istimewa
Sampai disuatu pohon yang gersang
Melihat mutiara yang menangis tersedu-sedu
Atas harapan menuai keinginan hidup bersama
Rindu pun menjelma bayang-bayang semu
Pada hari itu terjawab sudah
Rasa kembali memiliki atas dasar cinta diantara mereka
Meskipun tahu suatu saat pohon gersang itu akan runtuh
Memisahkan keduanya diantara puing-puing cerita

Thursday, 5 January 2017

Uang dan Hutang

Sudah 10 bulan Dharma berpuasa mengenai apapun yang disukainya, termasuk membeli rokok tiap minggunya hampir 2 bungkus atau ngopi-ngopi di Warung Yu Prapti perempatan Pasar Kluthuk kebanggaan wong cilik.

Yatmi sudah berbangga kiranya dalam pikirannya bisa tersenyum berbinar lega suatu saat uang yang disimpan di balik bambu belakang tempat angon unggas bisa dibuka disaat kebutuhan menghimpit pundi-pundi nafas rumah tangganya.

Sementara itu Angger masih seperti biasa bermain layaknya anak seusianya, sesekali dia meminta sejumlah uang membeli gethuk keliling. Meskipun merengek menangis suatu saat meminta mobil-mobilan seperti anaknya Pak Doni juragan sayur, Dharma tidak bergeming mengabulkan permintaan tersebut. Hidupnya tidak cukup hanya untuk menuruti diluar batas kemampuan bagi dirinya.

“Oh, rupanya aku masih kepikiran rumah kita, bu”, ungkap Dharma kepada Yatmi.
“Emang kenapa, Pak?”
“Lho bagian depan rumah kita sudah tidak beraturan lagi bentuknya,Bu”,
“Terus, memang sudah seperti itu kok Pak rumah kita?’
“Lha iya pengennya sih bisa panggil tukang biar bisa betulin pagar depan rumah”,

“Bapak itu kok bicaranya seperti itu?bukannya untuk kebutuhan sehari-hari saja kita harus ngatur biar bisa cukup semua, eh malah sekarang Bapak mau betulin depan rumah?ada-ada aja Pak?”
“Jangan salah Bu, kan sudah 10 bulan Bapak puasa merokok siapa tahu uang tersebut biar bisa digunakan buat betulin pagar, itu sih rencana Bapak, menurut Ibu bagaimana?”

“Halah Pak, sekarang apa-apa serba mahal, apa uang Bapak cukup buat beli material bangunan dan membiayai tukangnya?sekarang biaya tukang itu mahal lho Pak?”
“Ya kalau tidak cukup nanti pinjanm uang Bu, nanti biar Bapak deh urusannya”,

“Kalu urusan pinjam sih boleh aja Pak, terus nanti angsurannya gimana?apa gak terlalu berat?”
“Paling tidak nanti ngangsurnya jangan terlalu banyak Bu, biar bisa buat kebutuhan yang lain”,

“Oh, terserah Bapak deh, pokoknya Ibu  gak mau denger nanti Bapak sambat sama Ibu”,
“Ya doain saja Bu, biar lancar semuanya, apa Ibu gak seneng kalau rumah kita dibenerin ditata biar layaknya rumah, gak usah bagus tapi biar rajin dan enak dilihat”,

“Ya, pengin banget Pak, tapi melihat keuangan dulu, tapi kalau Bapak pengennya seperti itu dan punya tabungan sendiri ya silahkan, Ibu izinkan”,
“Kalau begitu nanti malam Bapak mau ke rumahnya Pak Radi tukang bangunan biar segera dikerjakan”,

“Kok cepet-cepet Pak?apa Bapak sudah yakin dengan uangnya? sudah cukup untuk beli material?
“Sudah Bu, tenang saja besok saya lihatkan jumlah uangnya biar Ibu bisa lebih percaya”.

“Halah, bapak itu gayanya mentang-mentang punya uang lagaknya, cieh...cieh”, ejek Yatmi kepada Dharma.

***
Pagi dihari Sabtu suasana agak temaram mendung Pak Radi sudah datang jam 07.30 pekerjaan sudah dimulai dengan merapikan pagar rumah Dharma. Pagi yang sudah mulai mengeluarkan ongkos rokok untuk tukang sambut Yatmi.
“Pak, tukangnya mau dikasih rokok apa?”
“Oya Bu, nanti biar Bapak sampaikan ke tukangnya, tapi coba nanti ke warung ajah Bu, biasanya mereka lebih hafal kebiasaan para tukang bangunan”.

“Begitu?nanti Ibu coba ke warung sambil beli jajan, lha uangnya mana Pak?”
“Owalah hari pertama sudah mengelurkan uang Bu?Ya sudah ini aku kasih buat jajan dan rokok hari ini”,
“Makanya Pak kalau mau serius panggil tukang ya harus repot seperti ini”
“Iyaa iyaa Bu, yang penting kan nanti wajah rumah kita oke punya...betul kan?...hehee...”.

***
Hari ke 6 tukang berada di rumah Dharma merapikan pagar depan rumahnya  Proses pekerjaan baru kurang lebih 60 % setengah jadi. Sementara hari ini Kamis atau hari ke enam Dharma mengeluarkan biaya pembuatan pagar rumah.
“Pak, hari ini hari Kamis nanti sore kita bayarin tukang, Bapak jangan lupa uangnya disiapkan”,
“Ya bu mereka kan hitungan kerjanya mingguan jadi Bapak kemarin sudah siapin kok uangnya”.

“Oh ya...syukur kalau sudah disiapkan tinggal dihitung saja  nanti diberikan rada sore-sore”
“Hitungannya berapa hari Bu?”   
“Berarti sudah mulai dari Sabtu hingga Kamis jumlahnya 6 hari Pak kemudian dikali 150 ribu jadi totalnya 900 ribu, Pak”.

“Hehehe... lumayan ya Bu menguras tabungan”
“Haaayooo....Bapak katanya sudah siap tho, Pak?”
“Iya...iya...Bu tenang saja...ini Bapak titipkan uangnya ke Ibu nanti sore tolong kasihkan kepada mereka”.
“Ini sudah cukup pak 900 ribu?”
“Iya Bu, sudah Bapak hitung tadi pagi”.

“Bapak mau keluar sebentar mau beli material pasir buat hari Sabtu katanya tinggal sedikit lagi Bu selesai pekerjaan mereka”,
“Ya Pak, hati-hati di jalan”.
“Iya Bu...jangan lupa nanti dikasihkan kepada tukangnya”.
“Bapak ini kok serasa tidak percaya tho?”
“Ibu kan biasanya suka lupa?”, ungkap Dharma kepada Yatmi dengan nada bercanda.

***

Hari terakhir tukang menyelesaikan pekerjaan di hari Selasa atau hari ke 3 setelah hari Sabtu mereka berangkat bekerja. Disela-sela pekerjaan Pak Radi terlibat dalam situasi percakapan diantara mereka.
“Pak Dharma...hari ini pekerjaan sudah selesai, ini bagian pagarnya tak buat ada bagian udara”,
“Oyaa Pak Radi, ini sudah sesuai dengan model, tinggal di cat aja”
“Saran saya sih Pak Dharma cat nya warna yang lebih cerah dan tahan air”
“Oh iya Pak Radi biar saya belikan catnya berarti”
“Boleh biar nanti siangan bisa dicat sekalian”

Yatmi segera menghampiri Dharma bersama ikut dalam satu pembicaraan.
“Pak berarti biar nanti beli cat tembok sekalian ya kalau mau keluar”
“Iya Bu, rencana ini Bapak mau keluar beli cat tembok dan kuas”
“Syukur deh kalau Bapak udah ingat, iya diurus sekalian saja kan udah ada pagarnya biar baru dicat sekalian kerjanya”

Pukul 17.15 sore para pekerja langsung meminta pamit kepada Dharma pekerjaan selesai dengan hasil cukup memuaskan. Semenjak mereka meninggalkan rumah Dharma terlihat Yatmi masih saja menanyakan pengeluaran selama ada tukang bangunan.
“Pak pengeluaran total nya berapa?”
“Ya pokoknya masih kurang Bu, uang Bapak kemaren buat beli material saja kalau untuk tukang masih kurang”,
“Terus Bapak pinjam siapa?”
“Pinjam teman Bu, tapi tenang saja ya Bu, pokoknya doain saja biar cepat lunas”,
“Bener nih gak papa ?”
“Iya bener Bu,nanti biar Bapak yang urus”


Yatmi agak lega  mendengar pernyataan Dharma, paling tidak dia tidak menanggung beban hutang dan benar-benar niat yang mendalam oleh Dharma sebagai upaya pemeliharaan bagian rumah yang mereka tempati.

Monday, 2 January 2017

Membangunkan Kembali Tokoh “Gak Patheken”

Tadabbur daur #100

Sudah berapa tahun kita telah akrab dengan istilah “Gak Patheken?”. Sebuah slogan yang menjadi jurus khatam diakhir kepemimpinan besar di Negara Khatulistiwa. Sangat sulit bagi mereka menjelaskan mengenai peristiwa di tahun 1998. Penjelasan sejarah mereka masih dalam koridor sudut pandang yang mereka bawakan. Batasan mengenai latar belakang, hanya berupa kejenuhan rakyat yang begitu mencapai puncaknya yang dikatakan sebagai “menata kembali” atau reformasi. Sedangkan mengenai resolusi dhalang sesungguhnya hanya orang-orang tertentu yang bisa menembus memaknai sebuah sejarah jauh lebih komprehensif, terstruktur dan bukan sejarah yang dituliskan beberapa versi apalagi mempunyai tendensi kepentingan publik.


pic: wayang google wordpress
Pola-pola gebrakan masih sama dan cara-caranya yang ditempuh sama yaitu melupakan beberapa peradaban yang telah berlalu dan menuai beberapa prestasi gemilang lalu ditenggelamkan atas jalannya sendiri. Seperti perjuangan atlit di kancah dalam maupun luar negeri yang mencapai puncaknya bertanding bahkan pujian terus berdatangan, akan keluar rumah pun selalu dikawal bagaikan artis lapangan yang paling berarti bagi negara. Perubahan drastis pun mereka rasakan disaat power syndrome atas dasar usia atau memang kemampuannya ada, sudah tidak bisa di upgrade kembali. Lalu kemampuannya dijegal berbagai cara yang seharusnya menyelamatkan kariernya malah nasibnya tergantung bagaikan medali yang sudah tidak ada bebannya. Anaknya semakin tidak meyakini bahwa mendiang bapaknya sangat pawai atas prestasinya tatkala itu semua hanya kiasan dan ucapan jempol dari tulisan-tulisan kliping surat kabar yang tertempel di tembok belakang piala. Kebanggaan anaknya tidak merefleksikan tokoh pahlawan yang mengalir dalam latihan, memancar deras disaat bertanding bahkan membeku disaat kedinginan tanpa sinar karier yang menghangatkan. Orang tua dan sejarah mempunyai ikatan emosional agar bisa memaknai sesuatu meskipun hanya sebatas penghargaan sekaligus mengilhami keadaan anaknya yang tidak serta merta tercipta begitu saja.

Kembali lagi ke masa awal reformasi yang dirasa sebagai model cara terbaru yang menghadirkan menu-menu terbaik disajikan dalam sebuah sistem pemerintahan. Demokrasi adalah menu yang ditawarkan sebagai pengejawantahan dari kelemahan sistem sebelumnya. Cara pemilihan melalui perwakilan digantikan dengan cara langsung seakan menjadi obat kedaulatan rakyat yang telah lama sakit berkepanjangan. Rakyatpun semakin senang disaat ditawarkan obat yang diyakini sangat mujarab. Disaat obat itu bekerja sistem lain pun bekerja perlahan dengan melakukan perubahan yang mendasar yaitu melolosi Undang Undang Dasar 1945 melalui 4 kali amandemen. Perlahan aset-aset negara dijual, propinsi bagian timur ada yang melepaskan diri, krisis moneter, keadaan politik semakin kacau dan korupsi sekarang sudah tidak terpusat melainkan sampai meracuni rakyat bahkan menjadi percontohan massal diberbagai instansi baik negeri maupun swasta.

Sistem yang menonjolkan ke-aku-an atau melebihkannya dan melabeli cara yang baru akan lebih baik justru menjadi racun bagi kelangsungan hidup rakyat. Pemimpin baru, kabinet baru, sistem baru, program baru dan irama kerja serba baru. Tatkala semua itu baru akan berjalan maka sebenarnya tidak rugi apabila melihat spion yang sudah menorehkan perjalanan. Tanpa mereka sadari telah sombong menganggapnya sebagai mata air di tengah oase panggung kepemimpinan sedangkan mental sebenarnya hanyalah sebatas fatamorgana yang membiaskan. Apalagi melahap mentah-mentah sistem tersebut yang tidak harus diterapkan secara keseluruhan yang menimbulkan masalah baru yang merujuk hak-hak dasar manusia. Masyarakat awam pun merasa seperti dibebaskan melalui kemudahan akses internet berbagai cara menyampaikan pendapat meskipun tidak selalu menimbulkan konfik fisik. Dari cara menelaah makna sistem sudah ada ketimpangan yang harusnya tidak tak terbatas dan bertanggungjawab menjadi akses 24 jam tanpa batas sesuai hak dasar manusia. Akhirnya bak kebakaran jenggot serta sadar bahwa batasan kewajaran sudah ditinggalkan. Untung saja Negara Nasional Khatulistiwa masih bisa menghormati secara fisik mengenai makna filosofi bendera, jika tidak mungkin sudah hilang pemaknaan dari sisi historisnya.

Pemimpin kencing berdiri, bawahan kencing berlari dan rakyat pun kencing sambil menari. Seni memimpin dikawal melalui media sebagai peliput yang secara obyektif menelaah peristiwa  telah berganti sebagai tim sukses perjuangan dalam industri perpolitikan. Media sudah menjadi barometer menciptakan pamor, kredibilitas ataupun eksistensi kualitas pemimpin yang sebenarnya tidak mutlak dilihat sebagai apresiasi dengan Maha Kebenaran Publiknya. Gaya eksis bekerja merebak ke lapangan yang diikuti oleh bawahan hingga aksi stuntman melompat pagar sebagai cara yang diajarkan atasan sebagai bukti capaian pekerjaan lalu rakyat terus memberikan ucapan simpati sambil menari seraya mengucapkan “Ini pemimpinku, bisa begini dan bisa begitu, mana pemimpinmu yang hanya bisa merayu”. Kembali lagi rakyat hanya terpesona memperoleh kejelasan pekerjaan yang meletup dipermukaan. Mereka tidak akan pernah mengetahui deal-deal poltik dibalik irama kerja yang mempunyai indikasi pro rakyat pun mereka tidak mengetahui keberadaannya. Bahkan sebelum menjadi pemimpin disaat menjadi calon mereka tidak mengetahui sepak terjang pendukung dibalik layar. Sedangkan penggempuran asumsi-asumi pemberitaan semakin gencar berlomba-lomba bahkan memberikan apresiasi. Muncul pandangan-pandangan rakyat yang mblinger melihat sesuatu dari kacamata publik atas pembenaran media.

Kembali lagi mengenai sejarah atas batasan-batasan media dalam menerangkan sesuatu hal mempunyai keterikatan atas dasar pemersatu bangsa dan segenap rakyat di dalamnya. Dahulu apresiasi media mengumpulkan para petani melihat keadaan masalah pangan dan kompleksitas masalah pedesaan menjadi konsumsi masyarakat luas. Penghargaan sebagai rakyat lebih besar bahkan menjadi motivasi generasi selanjutnya minimal sebagai ensiklopedi informasi bagi akademisi di bidang pertanian. Sekarang sudah ditinggalkan hanya demi pencapaian rating pemirsa media mengusung topik kontroversi, maka rakyat kembali disibukan atas atas media yang pro dan kontra. Kemudian mengenai tingkat kepercayaan masyarakat kepada media pun tidaklah semurni atas dasar informasi melainkan kepentingan besar dibalik agen yang mencengkram dari industri informasi global dan itu sudah menjadi rahasia publik bagi yang menyadari hal itu.


Ibarat sebuah penyakit sudah mencapai titik komplikasi dan yang sudah terjadi bersifat tidak dapat berdiri sendiri artinya sangat dipengaruhi berbagai kejadian yang telah lampau. Ahli-ahli sejarah sudah sangat lelah menuliskan peristiwa melalui rumus-rumus konsep masalah. Untuk menentukan garis komprehensif dan variabel yang multi dimensional bagi mereka sangatlah sulit apalagi masyarakat awam. Padahal apabila mereka mau mempelajari masalah lalu dan mengabaikan rasa “ke-aku-an” pengulangan langkah yang berakibat jatuh di lubang yang sama dapat dielakkan. Masyarakat kembali tersungkur lalu terjebak dalam angan cita-cita terperosok terus bernyanyi dengan jargon-jargon semangat melantangkan aksi revolusi. Masih belum sadar masyarakat terus di nina bobokan atas kamuflase semangat membangun kemudian mereka tidak mengetahui kepemilikan aset-aset pembangunan yang sebenarnya sedangkan istilah pembangunan itu sendiri sudah mengalami konotasi makna yang mendasar.

Prolog 2017

picture : google
Sudah menginjak tahun 2017 suasana kalender lama sudah turun dari dinding digantikan oleh kalender baru. Gemerlap penyambutan dimalam pergantian tahun lebih semarak mengidupkan semangat menghadapi hari esok yang akan dilalui setiap orang. Ada yang mengadakan makan bersama, dengan menu ikan bakar yang disajikan di halaman rumah, menikmati suasana malam bersama orang-orang terdekat atau malah istirahat lebih awal karena rutinitas bekerja sudah melelahkan bagi sebagian orang. Semua itu pilihan orang dengan cara bagaimana sambutan sebagai proses memeriahkan sudah begitu lekang membudaya di masyarakat.

Bergantinya tahun berarti bertambahnya usia manusia dan tantangan hidup lebih mengutamakan bekal kelak.  Mereka yang belum sekolah menyiapkan segala sesuatunya  mencari perlengkapan sekolah. Bagi yang sudah sekolah maka sudah barang tentu menentukan langkah melanjutkan kuliah atau memilih bekerja. Para pekerja atau pengusaha tidak kalah peliknya disela-sela kesibukan bekerja mereka diam-diam mempersiapkan tabungan untuk menikah. Pasangan yang sudah dikaruniai keturunan terus berjuang membesarkan buah hatinya menuju tanggung jawab masing-masing dalam keluarga. Semuanya membentuk lingkaran proses pergantian program tiap tahun. Hingga pada masanya seseorang pencapaian usia mendekati senja hanya kesehatan serta khusnul khotimah menjadi keinginan utama dalam hidupnya.

Hidup telah menorehkan banyak simbol matrealis, kekayaan serta kejayaan yang bersifat sementara. Krisis budaya ramah semakin menipis, berprasangka buruk sudah amat biasa malah sudah menjurus terhadap suatu atas dasar yakin melakukan sesuatu. Berada ditengah-tengah masyarakat heterogen dengan latar belakang, ekonomi, sosial dan budaya sangat berpengaruh terhadap seni melihat hidup itu sendiri sebagai pengejawantahan pribadi baik sebagai seorang laki-laki maupun perempuan. Di kota-kota besar tuntutan persaingan lebih kentara dengan berbagai kesibukan sebagai tolok ukur adalah materi serta kejayaan. Tuntutan tersebut karena mayoritas cara bertahan hidup diperkotaan hanya dengan bekerja, keinginan pendukung lain agar bisa menjadi seperti tetangga sebelah yang tiap minggunya menghabiskan liburan berwisata, tiap bulannya harus membeli pernak pernik berbelanja isi dalam rumahnya, sedangkan tiap kali menjelang lebaran mobilnya berganti model dan sebagainya. Semua itu sudah menjadi kewajaran dan bukan hal yang keliru, mempunyai etos kerja sebagai orang kota. Realita kehidupan memang benar adanya bahwa materi itu sangat penting namun tidak semua kepentingan orang lain harus dinilai dari materi. Hal tersebut yang membedakan kualitas manusia perkotaan satu dengan lainnya.

Pemandangan berbeda di kawasan pegunungan ibu rumah tangga selain tetap menjadi seorang petani namun nilai-nilai kemurnian budaya lokal masih sangat lekat. Budaya gotong royong masih terus dijunjungnya semangat bersama baik pergi belanja ke pasar pun mereka masih mau berbondong-bondong naik mobil bak terbuka, mereka melakoninya penuh suka dan bukan halangan mereka untuk berbagi kepada sesama. Nama-nama kepala keluarga dari ujung desa sudah melekat menjadi satu habibat masyarakat yang mempunyai kultural dan berdomsili sama dalam satu wilayah. Disaat mendengar tetangganya akan memperbaiki rumah, maka Ketua RT memberitahukan kepada seluruh warganya segera bersatu padu menyumbang baik tenaga maupun material bahan bangunan. Pemandangan ini hanya ada di kawasan pedesaan tanpa adanya tendensi, persaingan apalagi prasangka setiap individu masyarakatnya.

Derap informasi perkotaan bergulir tiap malam melalui televisi penduduk pegunungan. Berbagai gaya hidup hedonisme mencuat dan mereka tidak pernah merasakan, karena yang mereka lakukan hanya dasar sebagai pelipur penat disela aktivitas agraria. Secara tidak langsung angan mereka berfantasi, mereka pun merasa ingin merasakan hal yang sama menikmati kejayanan materi yang disuguhkan oleh masyarakat perkotaan. Dari hal yang sepele menuruti iklan kendaraan dari kalangan pelajar. Mau tidak mau orang tua harus merelakan lahan perkebunan hutan alam dibuka dengan cara dibudidayakan. Sementara didalam membuka lahan secara fungsi hutan telah berubah dari komoditas tanaman alam menjadi tanaman budidaya yang sengaja ditanam. Apakah ini berpengaruh terhadap rusaknya alam? Jawabannya bisa berpengaruh, karena tanaman budidaya bersifat sementara bukan permanen. Dari cara penanaman akar pohon hanya sebatas permukaan tanah akibatnya apabila intensitas hujan tinggi kontruksi tanah akan bergerak dan berpotensi menyebabkan longsor.

***

Langkah kongkret di tahun 2017 sebagai masyarakat yang sudah sangat jauh terhadap budaya kearifan lokal tentunya merasa prihatin dan miris sekali. Salah satu parameter potret yang nyata penurunan etika sosial yaitu keadaan budaya berlalu lintas yang dilakukan berbagai tingkat sosial masyarakat. Negara tidak akan tertib apabila keadaan di jalanan masih menunjukkan kesemrawutan masing-masing kepentingan. Realitas penegakan hukum sangat jelas sekali ketimpangan yang dilakukan oknum yang mengerti aturan hukum justru malah melanggarnya. Keadaan generasi muda khususnya pelajar sangat gemar kebut-kebutan di jalan raya yang notabene digunakan sebagai fasilitas umum. Mereka telah gagal mengaplikasikan pelajaran nyata tentang rasa menghormati kepada sesama pengguna jalan. Kembali lagi sistem pendidikan yang harus dibenahi dari penilaian nominal menjadi penilaian edukasi atitude mengenai cara menuju ke sekolah dari pengarahan agar berangkat lebih awal, tidak tergesa-sega di jalan yang dapat membahayakan orang lain atau malah menyadarkan orang tua bahwa pendidikan kesopanan tidak mutlak diajarkan di sekolahan melainkan ajaran dari keluarga. Semuanya itu menjadi pelajaran yang ditularkan kepada orang-orang disekitar kita agar peduli akan kelangsungan moral kehidupan bangsa kelak.

Selanjutnya masalah teknologi dan informasi  yang mengarus cepat dalam hitungan detik. Penggunaan media sosial sangat penting sebagai sarana komunikasi positif penunjang kelancaran bekerja, bisnis, relasi, pertemanan dan sebagainya. Penggunaannya akan sesuai koridor apabila tidak melanggar baik secara fungsi maupun tujuannya. Seorang pedagang menggunakan akses media sosial secara fungsi sebagai penunjang kelancaran bisnis. Sedangkan tujuannya untuk peningkatan omset pelayanan bisa lebih mudah. Maka dalam hal ini hubungan penggunaan media sosial sudah sesuai dengan “empan papan”. Secara garis besar sebelum menentukan media sosial yang akan dipakai maka batasi terlebih dahulu tujuannya. Setelah itu berkomitmen terhadap tujuan agar bisa menggunakan media sosial sesuai dengan porsi dan ketentuan norma yang berlaku baik secara tata krama maupun norma yang lain.

Setiap orang tentu mempunyai program masing-masing di tahun 2017, disela-sela program berikanlah ruang sedikit bagi diri kita untuk turut memperbaiki keadaan bangsa dan negara. Perbaikan tersebut ada yang berjangka pendek ada pula yang berjangka panjang. Jangka pendek lebih bersifat perubahan secara langsung yang bersifat urgent atau mendadak sedangkan perubahan jangka panjang lebih menekankan keberlangsungan peristiwa yang akan datang sebagai usaha penyelamatan generasi setelah kita.