Lek Karyo manggut-manggut ketika Mbok Darmi menyodorkan pisang
goreng di meja, tadi malam. Bersama teh panas, kudapan itu cukup
mengakrabkan suasana. Mungkin momen semalam sebagai ajang silaturahmi
yang keduanya mengikat saudara dari trah ayahnya.
Kaki Lek Karyo jigang, sedang sepotong rokok menyelip di jari Lek
Karyo. Sesekali asap tebal keluar mulutnya klempas - klempus Lek Karyo
mencari bahan pembicaraan.
Sedang Mbok Darmi masih ajeg. Layaknya orang tua Jawa. Pake kebaya dan jarik masih dengan sanggul di rambutnya.
"Mbok, wingi nyate ora?"
"Nyate opo?",jawab Mbok Darmi menggerutu.
"Nyate qurban tho?"
"Lho.... qurban Kuwi dibagekno, uduk di sate"
"Iyo Mbok...maksude daginge sampeyan melok disate apa dimasak?"
"Jian....kurang ajar kowe Karyo, sembrono! wong tuwo diglowehi...!!!awakku iku lho...wes tuwek, daginge wes ora kenek di sate".
"Piye tho Mbok?"
"Kok dadi mbulet, daging qurban dudu daginge sampeyan".
"Lha iyo....daging qurban kuwi dibagekno dudu di sate utawa dimasak"
"Wah....jian!ngomong karo sampeyan maraki erosi Mbok!"
"Lha pitakonanmu salah kok Karyo".
"Ngopo tho?"
"Kudune takon ngene, daging wedhuse disate opo dimasak, ngunu tho?"
"Emboh Mbok...ppreeeeekkk.....Iki sampeyan ngomong dewe karo munthu",
Lek Karyo gregetan sambil meneruskan ngerokoknya
Saturday, 21 September 2019
Saat Petromas Diganti Dengan Lampu LED
Selain
nasi megono, ternyata nasi goreng sering diburu orang di malam hari. Tidak di
sana sini, kegemaran menu yang sudah menjadi kebiasaan. Di Wiradesa sendiri
pemandangan pedagang nasi goreng menjamur di tiap 1 kilometer ruas jalan hampir
ada pedagang yang mangkal di emperan toko atau menyewa halaman rumah untuk
dijadikan tenda bongkar pasang sebagai tempat berdagangnya.
Sebenarnya
ada benda khas yang terdapat di pedagang nasi goreng. Benda ini menurut saya
hal esensi, dimana tidak dijumpai oleh pedagang lainnya. Bisa dibilang sudah
ciri khasnya (trade mark). Yaitu lampu petromak yang dinyalakan berdekatan
dengan tempat penggorengan beserta alat bunyi wajan yang diketuk berkali-kali.
Lampu
petromak ini berwarna kuning terang. Sebagai bahan bakarnya berupa minyak
tanah. Kemudian sebagai pengetahuan bahwa ternyata ada teknik khusus untuk
menyalakannya. Yaitu dengan menggunakan cairan spiritus sebagai pemantik api
pada lampu pijarnya. Agar nyalanya lebih terang dibantu dengan gas yang dipompa
bersama bahan bakarnya. Menurut saya teknik ini perlu waktu mempelajari dan
tidak semua orang bisa menyalakannya.
Penggunaan
lampu petromak bagi pedagang nasi goreng keliling masih digunakan. Namun,
keadaan ini tidak berlaku bagi pedagang yang mangkal. Mereka lebih praktis
menggunakan lampu listrik yang disalurkan melalui tuan pemilik kiosnya.
Bagi saya
ada keasyikan tersendiri menikmati nasi goreng keliling yang masih menggunakan
lampu petromak. Sedikitnya ada nuansa jadul bahwa dahulu sebelum listrik
menjangkau ke daerah, lampu petromak ini menjadi penerang nomor 1. Memang bagi
para pedagang nasi goreng selain mempunyai kemampuan memasak yang diacungi
jempol. Juga mereka dituntut harus mampu memecahkan masalah kecil, diantaranya
apabila kain kasa lampu petromak tiba-tiba terbakar. Mereka harus lebih tanggap
memperbaikinya. Tapi setahu saya hal demikian jarang terjadi. Saya percaya
mereka lebih mahir dalam hal penerangan khususnya di lampu petromak. Tentunya
masih menjaga ciri khasnya meski lampu LED kian merajalela.
Grup WA
Dunia nyata dan dunia maya erat kaitannya
seperti permukaan sendok yang berada di atas dan di bawah. Lebih kongkritnya
ruang di dunia maya berada di permukaan bawah sendok. Seseorang bisa berbicara
tanpa raut muka, intonasi serta gestur yang dapat diketahui oleh lawan bicara.
Sedang ketika seseorang berinteraksi langsung menggambarkan pertemuan realnya
manusia saling bertatap, serta mengerti kapasitasnya.
Ada salah satu penggunaan aplikasi interaksi
media sosial percakapan. Setelah penggunaan BlackBerry Massanger (BBM) surut,
aplikasi tersebut telah digantikan dengan aplikasi WhatsApp Massanger (Pesan
WA). Meski hal tersebut terdapat kekurangan yaitu tidak tersedianya notifikasi
persetujuan dari pengguna untuk masuk ke dalam ruang grup diskusi. Jadi ketika
ada orang lain mengundang nomor kita, bisa secara langsung masuk ke dalam grup
tanpa adanya persetujuan diterima,dibiarkan atau ditolak.
Sepertinya hal tersebut sedikit menjadi
penyebab "ewuh pakewuh" untuk tetap berada ataupun harus melipir
keluar ketika nomor kita sudah masuk dalam arena diskusi. Ada yang memang
mempunyai rasa antusias terhadap dibentuknya grup tersebut. Juga sebenarnya ada
yang merasa keberatan dengan alasan berbagai hal. Dari mulai hape sudah terlalu
sering menahan "nge-hang" karena kapasitas memori rendah sampai
ketakutan sering salah kirim gambar berbau pornografi.
Semuanya ada pilihannya, tergantung dari
pihak penggunanya. Ada yang lebih tegas ketika sudah dimasukan dalam grup
langsung keluar tanpa ada pemberitahuan alasan sebelumnya. Tipikal seseorang
yang selektif seringnya memilah. Keadaan ini lebih cenderung menyikapinya
dengan melihat aktivitas grup dengan pertimbangan faedah ataupun un faedah dan
sebagainya. Namun, yang lebih ditekankan adalah tetap berkomunikasi dengan
alasan keluar dari grup dengan cara yang santun dalam beretika media sosial.
Saya memilih lebih sering menjaga perasaan
seseorang. Patutnya kita lebih bersyukur. Karena ketika kita diundang ke dalam
grup berarti kita sebagai tamu agar diajak berkomunikasi dan berdiskusi
bersama. Sedang arahnya menyangkut berbagai hal diantaranya keluarga,
pekerjaan, hobi, komunitas, alumni teman sekolah (bukan alumni 212 ya...hihihi)
ataupun kepentingan lainnya. Meski gambaran ini menyebabkan jumlah grup dalam
WA semakin menjamur dan dibiarkan beberapa suwung tanpa adanya aktivitas
apapun.
Mengenai keaktifan dalam grup saya lebih
memilih hubungan jarak. Semakin saya lebih sering berinteraksi dalam kehidupan
nyata maka akan lebih sering mengikuti perkembangannya. Jarak tersebut dapat
diartikan dengan kedekatan emosional mengenai karakter yang sudah tahu sama
tahu. Mengerti bahwa ada beberapa situasi dimana percakapan yang kita maksud
hanyalah sebagai guyonan dan tidak dianggap serius. Kalaupun ada sedikit
terjadi kesalahpahaman percakapan dalam grup maka akan lebih terurai dalam
kondisi nyata.
Komitmen grup adalah ruang gerak
berinteraksi dan berkomunikasi. Ada sastrawan yang berprinsip bahwa manusia
hidup ketika tangannya bergerak menulis. Bagi saya, mengaktifkan kembali
jalinan komunikasi grup WA adalah pertanda bahwa diri kita masih bisa membuka
hape minimal orang lain mengetahui bahwa nomor WA kita masih aktif. Seperti
grup WA komunitas gowes saya misalnya, ketika tidak ada aktifitas pergowesan
sebisa mungkin saya harus memulainya. Memulainya dengan nge-vlog ala kadarnya
agar mereka juga bisa melihat ekspresi muka saya yang mlotrok
keringetan....haha....hihi....
Batas
Palang rel
menjadi batas antara pengendara dengan jangkauan laju jalan kereta. Teras rumah
menjadi batas antara ruang tamu dengan halaman. Senja menjadi batas antara
siang dan malam. Rendah hati menjadi batas antara kurang dan paling berlebih.
Semua serba memerlukan batasan.
Hidup dan
kehidupan terus berjalan. Sedang hidupnya manusia adalah deretan waktu
bertambahnya jarum jam yang berputar. Berputarnya jarum menit dan jam hingga
bergantinya tanggal demi tanggal. Semua adalah kumpulan kesempatan yang dimiliki
manusia.
Ada saat
dimensi itu tiba-tiba saja berhenti dimana hidupnya seseorang berganti
dikehidupan lain sebagaimana menjalani proses kehidupan selanjutnya. Hidup
manusia pun ada batasannya.
Kehidupan
bersama semesta dan seisinya pun demikian berjalan berekosistem, berinteraksi,
berkorelasi dan berkesinambungan menemani proses yang tumbuh. Proses dimana
segalanya luluh lantak digantikan dengan kehidupan baru sesuai dengan takdir
dan rencana-Nya. Ternyata dalam kehidupan itu sendiri mempunyai batasannya.
Sesuatu
yang tampak namun tidak berarti nyata adalah hal yang bersifat maya. Segala
sesuatunya dalam ukuran pajang dan lebar. Dunia maya bisa menjadi tanpa batasan
jika sesuatunya sengaja tidak dibatasi. Sekalipun itu juga ada batasannya
ternyata dimensi tersebut tidak patut bisa menjadi ukuran yang presisi.
Sedangkan
hal yang nyata adalah sesuatu yang tampak dalam ukuran dimensi yang sebenarnya.
Dapat diukur melalui indera. Sebagaimana pilihan hidupnya seseorang dengan
membatasi dan menghargai waktu dunia nyatanya ketimbang waktu di dunia mayanya.
Saturday, 14 September 2019
Mlosdrong
Awal kata
"mlosdrong" ternyata sudah lama sekali mampir melewati telinga saya.
Sejak Taman Kanak-kanak kata tersebut masuk melalui telinga kanan kemudian
berlari-lari, jogging hingga ketiduran bahkan menetap di memori ingatan saya
hingga sekarang.
Kata
"mlosdrong" bagi saya berfungsi sebagai tanda kecemasan saat yang
nantinya bisa terjadi. Perasaan cemas timbul dari kedua orang tua melilitkan
sebuah ikat pinggang di sarung yang saya kenakan.
Konon
tujuan menggunakan ikat pinggang tersebut agar tidak melorot. Itu pun terkadang
ada teman yang usilnya minta ampun dengan sengaja menarik sarung hingga
sarungpun menjuntai turun ke bawah. Hingga terlihatlah sangkar burungnya.
Kemudian teman yang lainnya tertawa terbahak-bahak.
Seiring
bertambahnya waktu kata "mlosdrong" bagi saya mempunyai dimensi
pemaknaan yang meluas. Apabila dilihat dari segi proses bahwa segala sesuatunya
sudah terlanjur terjadi. Atau bisa juga dimaknai dengan keadaan tanpa kendali.
Jadi seharusnya ada bagian yang fungsinya sebagai penahan, pengawas ataupun
pengevaluasi ternyata hal itu tidak terjadi.
Juga bisa
dimaknai dengan kelalaian jika kata "mlosdrong" terjadi dalam sebuah
prosedur. Mungkin karena sesuatu hal ada beberapa stase atau tahapan yang harus
dilalui ternyata terlewat dengan sendirinya. Atas terlewatinya itu menimbulkan
sebuah kelailaian tentunya mempunyai dampak sesuai takarannya.
Dialek
"mlosdrong" ini memang kaya pemaknaan. Saya memang harus banyak
berterima kasih kepada Yai Ribut Achwandi atas hal yang bisa
menghangatkan ingatan jaman dahulu agar kini bisa diingat kembali.
Musim
Saat musim
buah durian maka sepanjang jalan berderet pedagang buah durian bersua atas
usaha penjemputan jatah rezekinya. Begitu pula saat musim rambutan, trotoar
bewarna merah, berdesakan para pembeli tumpah dalam kerumunan.
Ketika
sampai ke rumah buah-buah tersebut ada yang dimakan sendiri, dinikmati anaknya
bahkan ada yang dibagikan orang lain. Interaksi tersebut dihadirkan dalam
komunikasi bermasyarakat.
Derasnya
informasi yang dibahas oleh penghuni dunia maya. Membuat trending topik
sebagian orang turut membahasnya. Hal ini sebelas, dua belas dengan analogi
kondisi musim buah-buahan di atas.
Bersama
informasi yang disajikan dengan minimum resolusi kejernihan ditunjang dengan
kepentingan. Pembuat opini berita bisa menyesuaikan arah penggiringan publik ke
salah satu pihak. Apalagi berbeda sumber, berbeda pula gaya pandangnya. Semakin
besar pula potensi bias informasi dan sebagainya.
Bahwa
berita tak bertanggung jawab yang beredar di media sosial membuat sesuatunya
menjadi overload. Menumpuk dengan ketidakjelaskan atau sangat diragukan
keakurasian beritanya. Kebiasaan berkomentar sudah menjadi santapan publik
sehari-hari. Di bahas bareng- bareng dan setiap pembahas sekaligus menjadi hakim
atas pendapatnya.
Suatu saat
ketika bencana alam melanda seluruh warga dunia maya beremoticon tangis
bersama. Menggambarkan sikap peduli yang tiada tara. Saat gencarnya
diskriminasi penilaian ajang pencarian bakat karena adanya unsur nepotisme.
Maka berduyun-duyun mengomentari bahkan menghardik atas kejadian itu.
Musim
pembahasan opini berita di media sosial terus berulang dan terus berganti
mengisi dimensi layar smartphone dengan gelombang informasinya terus bergulir.
Semuanya itu berdampak pada sisi aktualisasi masyarakat yang mempunyai
kebiasaan mencibir, mengkritik dan mengundang orang lain agar turut membenci
karena sesuatu hal.
Meskipun
jika ditelaah lebih lanjut bahwa bentuk kritik itu bukan hal yang negatif.
Apabila niatan mengkritik itu didasari atas cinta dan mengembalikan sebagaimana
jalurnya. Kemudian cara mengkritikpun disampaikan dalam keadaan santun. Agar
orang yang tak berpendidikan pun bisa mengerti maksud dan tujuan kritik yang
bersifat membangun tersebut.
Interaksi
penyedia berita dan penikmat berita bersifat transaksional. Meski pembayarannya
melalui penggunaan data internet. Kembali lagi yang paling esesi itu
bergulirnya berita ketika telah sampai kepada masyarakat. Mereka mempertahankan
kebenaran ego subyektifnya.
Lalu musim
apa? yang paling hangat dan paling lama trending di media sosial? Yaitu masalah
sensitif melalui isu-isu Suku, Agama dan Ras. Komoditas tersebut sebagai bahan
bakar membuat gaduh dengan banyak cara, bias pandang, membalikkan fakta, bahkan
fitnah yang tak bertuan pelakunya.
Perlahan
kebhinekaan itu digerogoti oleh bangsanya sendiri melalui musim-musim dunia
maya yang silih berganti. Yang tanpa sadar kita sama-sama merayakan dan menari
di atasnya. Hingga tak pernah bangun dari tidur bahwa kekayaan negara turut dieksploitasi
diam-diam.
Masihkan
kita menjadi penikmat musim dunia Maya itu? atau kah kita disibukkan membangun
generasi fajar yang lebih bermartabat dibandingkan dengan kondisi sekarang?
Jawabannya
harus mulai dari sekarang kita sadar, bangkit kemudian bergegas.
Prasangka
Pisau yang
paling baik dan tajam tidak serta merta mudah dibuat tanpa adanya proses yang
cukup panjang. Ada beberapa parameter yang dipakai ketika seseorang menilai
kualitas pisau tersebut dalam kategori baik. Bisa jadi karena bahan pisau
diambil dari kualitas logam yang bagus, sehingga hasilnya berkilau dan anti
karat. Sedang prosesnya penajamannya dilakukan secara rutin tanpa ada jeda
waktu yang bisa menurunkan kualitasnya.
Begitu
pula manusia dengan segala instrumen baik jasmani maupun rohaninya. Saya jadi
ingat cerita kebiasaan pagi dan sore santri-santri di pondok pesantren
tradisional. Mereka bertugas membersihkan pondoknya. Tugas tersebut disesuaikan
dengan usia para santri. Ada santri kelas 1 SD yang bertugas membersihkan
halaman pondok. Kemudian bagi santri yang sudah beranjak remaja tugas mereka
mulai berat. Yaitu untuk menimba air untuk diisikan ke bak mandi air. Hal
tersebut dilakukan bertahun-tahun untuk hikmat kepada kyainya. Atas dasar
tempaan tugas tersebut perlahan mereka belajar secara otodidak mengerti makna
keikhlasan serta proses rutin yang dijalani dengan kelembutan hati yang
istiqomah.
Cara
tersebut ternyata sangat ampuh sudah turun temurun agar mereka hidup
bekerjasama serta bersosialisasi merasakan sendiri nikmatnya hidup. Mental
tangguhnya mulai ditempa menjadi pribadi yang tidak hanya bisa mengajarkan
bagaimana menjadi ikhlas dan istiqomah melainkan mempraktekkannya sendiri dan
bertahun-tahun.
Belum lagi
ketika mereka harus berinteraksi dengan masyarakat bisa melihat langsung
masalah yang sering terjadi. Data yang mereka dapat adalah valid dan real
secara langsung. Mereka menyaksikan populasi bukan hanya sampel. Dari sini para
santri melihat kondisi sosial masyarakat. Bagaimana kesulitan ekonomi beserta
cara menghadapinya mereka para santri sangat paham atas dari kebiasaan itu.
Rasa simpati dan empati pun mulai terbentuk serta benih-benih cinta kemanusiaan
mulai tumbuh dengan sendirinya.
Hati
mereka lembut didasari dari laku hidup yang sudah tertanam. Dari hati yang
lembut tersebut maka transfer keilmuan bisa mudah dilakukan. Sedangkan hati
para kyai pun sungguh penuh kecintaan. Sehingga para kyai sepuh terdahulu
sering berpesan, "Jadilah manusia terlebih dahulu sebelum menjadi
santri". Kata "manusia" dalam ungkapan itu adalah makhluk yang
mempunyai akal dan pikiran. Manusia yang berakal berarti manusia yang bisa
berpikir membedakan mana yang baik mana yang buruk. Sedangkan proses
"nyantrinya" adalah pencarian ilmu agamanya sebagai penyempurnanya..
Alhasil
saya memang lebih percaya bahwa prasangka itu dari sumber keadaan hati yang
setiap waktu dikroscek kembali. Jangan-jangan ketika menyangka sesuatu berasal
dari hal buruk. Sedang untuk menilai perasaan hati saya baik, saya malah terus
berkaca dan merasa malu kepada mereka yang telah belajar ikhlas dan istiqomah
sejak dulu.
Subscribe to:
Posts (Atom)