Saturday, 21 September 2019

Daging Wedhus

Lek Karyo manggut-manggut ketika Mbok Darmi menyodorkan pisang goreng di meja, tadi malam. Bersama teh panas, kudapan itu cukup mengakrabkan suasana. Mungkin momen semalam sebagai ajang silaturahmi yang keduanya mengikat saudara dari trah ayahnya.
Kaki Lek Karyo jigang, sedang sepotong rokok menyelip di jari Lek Karyo. Sesekali asap tebal keluar mulutnya klempas - klempus Lek Karyo mencari bahan pembicaraan.
Sedang Mbok Darmi masih ajeg. Layaknya orang tua Jawa. Pake kebaya dan jarik masih dengan sanggul di rambutnya.
"Mbok, wingi nyate ora?"
"Nyate opo?",jawab Mbok Darmi menggerutu.

"Nyate qurban tho?"
"Lho.... qurban Kuwi dibagekno, uduk di sate"

"Iyo Mbok...maksude daginge sampeyan melok disate apa dimasak?"
"Jian....kurang ajar kowe Karyo, sembrono! wong tuwo diglowehi...!!!awakku iku lho...wes tuwek, daginge wes ora kenek di sate".

"Piye tho Mbok?"
"Kok dadi mbulet, daging qurban dudu daginge sampeyan".

"Lha iyo....daging qurban kuwi dibagekno dudu di sate utawa dimasak"
"Wah....jian!ngomong karo sampeyan maraki erosi Mbok!"

"Lha pitakonanmu salah kok Karyo".
"Ngopo tho?"
"Kudune takon ngene, daging wedhuse disate opo dimasak, ngunu tho?"

"Emboh Mbok...ppreeeeekkk.....Iki sampeyan ngomong dewe karo munthu",
Lek Karyo gregetan sambil meneruskan ngerokoknya

Saat Petromas Diganti Dengan Lampu LED


Selain nasi megono, ternyata nasi goreng sering diburu orang di malam hari. Tidak di sana sini, kegemaran menu yang sudah menjadi kebiasaan. Di Wiradesa sendiri pemandangan pedagang nasi goreng menjamur di tiap 1 kilometer ruas jalan hampir ada pedagang yang mangkal di emperan toko atau menyewa halaman rumah untuk dijadikan tenda bongkar pasang sebagai tempat berdagangnya.

Sebenarnya ada benda khas yang terdapat di pedagang nasi goreng. Benda ini menurut saya hal esensi, dimana tidak dijumpai oleh pedagang lainnya. Bisa dibilang sudah ciri khasnya (trade mark). Yaitu lampu petromak yang dinyalakan berdekatan dengan tempat penggorengan beserta alat bunyi wajan yang diketuk berkali-kali.

Lampu petromak ini berwarna kuning terang. Sebagai bahan bakarnya berupa minyak tanah. Kemudian sebagai pengetahuan bahwa ternyata ada teknik khusus untuk menyalakannya. Yaitu dengan menggunakan cairan spiritus sebagai pemantik api pada lampu pijarnya. Agar nyalanya lebih terang dibantu dengan gas yang dipompa bersama bahan bakarnya. Menurut saya teknik ini perlu waktu mempelajari dan tidak semua orang bisa menyalakannya.

Penggunaan lampu petromak bagi pedagang nasi goreng keliling masih digunakan. Namun, keadaan ini tidak berlaku bagi pedagang yang mangkal. Mereka lebih praktis menggunakan lampu listrik yang disalurkan melalui tuan pemilik kiosnya.

Bagi saya ada keasyikan tersendiri menikmati nasi goreng keliling yang masih menggunakan lampu petromak. Sedikitnya ada nuansa jadul bahwa dahulu sebelum listrik menjangkau ke daerah, lampu petromak ini menjadi penerang nomor 1. Memang bagi para pedagang nasi goreng selain mempunyai kemampuan memasak yang diacungi jempol. Juga mereka dituntut harus mampu memecahkan masalah kecil, diantaranya apabila kain kasa lampu petromak tiba-tiba terbakar. Mereka harus lebih tanggap memperbaikinya. Tapi setahu saya hal demikian jarang terjadi. Saya percaya mereka lebih mahir dalam hal penerangan khususnya di lampu petromak. Tentunya masih menjaga ciri khasnya meski lampu LED kian merajalela.

Grup WA


Dunia nyata dan dunia maya erat kaitannya seperti permukaan sendok yang berada di atas dan di bawah. Lebih kongkritnya ruang di dunia maya berada di permukaan bawah sendok. Seseorang bisa berbicara tanpa raut muka, intonasi serta gestur yang dapat diketahui oleh lawan bicara. Sedang ketika seseorang berinteraksi langsung menggambarkan pertemuan realnya manusia saling bertatap, serta mengerti kapasitasnya.

Ada salah satu penggunaan aplikasi interaksi media sosial percakapan. Setelah penggunaan BlackBerry Massanger (BBM) surut, aplikasi tersebut telah digantikan dengan aplikasi WhatsApp Massanger (Pesan WA). Meski hal tersebut terdapat kekurangan yaitu tidak tersedianya notifikasi persetujuan dari pengguna untuk masuk ke dalam ruang grup diskusi. Jadi ketika ada orang lain mengundang nomor kita, bisa secara langsung masuk ke dalam grup tanpa adanya persetujuan diterima,dibiarkan atau ditolak.

Sepertinya hal tersebut sedikit menjadi penyebab "ewuh pakewuh" untuk tetap berada ataupun harus melipir keluar ketika nomor kita sudah masuk dalam arena diskusi. Ada yang memang mempunyai rasa antusias terhadap dibentuknya grup tersebut. Juga sebenarnya ada yang merasa keberatan dengan alasan berbagai hal. Dari mulai hape sudah terlalu sering menahan "nge-hang" karena kapasitas memori rendah sampai ketakutan sering salah kirim gambar berbau pornografi.

Semuanya ada pilihannya, tergantung dari pihak penggunanya. Ada yang lebih tegas ketika sudah dimasukan dalam grup langsung keluar tanpa ada pemberitahuan alasan sebelumnya. Tipikal seseorang yang selektif seringnya memilah. Keadaan ini lebih cenderung menyikapinya dengan melihat aktivitas grup dengan pertimbangan faedah ataupun un faedah dan sebagainya. Namun, yang lebih ditekankan adalah tetap berkomunikasi dengan alasan keluar dari grup dengan cara yang santun dalam beretika media sosial.

Saya memilih lebih sering menjaga perasaan seseorang. Patutnya kita lebih bersyukur. Karena ketika kita diundang ke dalam grup berarti kita sebagai tamu agar diajak berkomunikasi dan berdiskusi bersama. Sedang arahnya menyangkut berbagai hal diantaranya keluarga, pekerjaan, hobi, komunitas, alumni teman sekolah (bukan alumni 212 ya...hihihi) ataupun kepentingan lainnya. Meski gambaran ini menyebabkan jumlah grup dalam WA semakin menjamur dan dibiarkan beberapa suwung tanpa adanya aktivitas apapun.

Mengenai keaktifan dalam grup saya lebih memilih hubungan jarak. Semakin saya lebih sering berinteraksi dalam kehidupan nyata maka akan lebih sering mengikuti perkembangannya. Jarak tersebut dapat diartikan dengan kedekatan emosional mengenai karakter yang sudah tahu sama tahu. Mengerti bahwa ada beberapa situasi dimana percakapan yang kita maksud hanyalah sebagai guyonan dan tidak dianggap serius. Kalaupun ada sedikit terjadi kesalahpahaman percakapan dalam grup maka akan lebih terurai dalam kondisi nyata. 

Komitmen grup adalah ruang gerak berinteraksi dan berkomunikasi. Ada sastrawan yang berprinsip bahwa manusia hidup ketika tangannya bergerak menulis. Bagi saya, mengaktifkan kembali jalinan komunikasi grup WA adalah pertanda bahwa diri kita masih bisa membuka hape minimal orang lain mengetahui bahwa nomor WA kita masih aktif. Seperti grup WA komunitas gowes saya misalnya, ketika tidak ada aktifitas pergowesan sebisa mungkin saya harus memulainya. Memulainya dengan nge-vlog ala kadarnya agar mereka juga bisa melihat ekspresi muka saya yang mlotrok keringetan....haha....hihi....

Batas


Palang rel menjadi batas antara pengendara dengan jangkauan laju jalan kereta. Teras rumah menjadi batas antara ruang tamu dengan halaman. Senja menjadi batas antara siang dan malam. Rendah hati menjadi batas antara kurang dan paling berlebih. Semua serba memerlukan batasan.

Hidup dan kehidupan terus berjalan. Sedang hidupnya manusia adalah deretan waktu bertambahnya jarum jam yang berputar. Berputarnya jarum menit dan jam hingga bergantinya tanggal demi tanggal. Semua adalah kumpulan kesempatan yang dimiliki manusia.

Ada saat dimensi itu tiba-tiba saja berhenti dimana hidupnya seseorang berganti dikehidupan lain sebagaimana menjalani proses kehidupan selanjutnya. Hidup manusia pun ada batasannya.

Kehidupan bersama semesta dan seisinya pun demikian berjalan berekosistem, berinteraksi, berkorelasi dan berkesinambungan menemani proses yang tumbuh. Proses dimana segalanya luluh lantak digantikan dengan kehidupan baru sesuai dengan takdir dan rencana-Nya. Ternyata dalam kehidupan itu sendiri mempunyai batasannya.

Sesuatu yang tampak namun tidak berarti nyata adalah hal yang bersifat maya. Segala sesuatunya dalam ukuran pajang dan lebar. Dunia maya bisa menjadi tanpa batasan jika sesuatunya sengaja tidak dibatasi. Sekalipun itu juga ada batasannya ternyata dimensi tersebut tidak patut bisa menjadi ukuran yang presisi. 

Sedangkan hal yang nyata adalah sesuatu yang tampak dalam ukuran dimensi yang sebenarnya. Dapat diukur melalui indera. Sebagaimana pilihan hidupnya seseorang dengan membatasi dan menghargai waktu dunia nyatanya ketimbang waktu di dunia mayanya.

Saturday, 14 September 2019

Mlosdrong


Awal kata "mlosdrong" ternyata sudah lama sekali mampir melewati telinga saya. Sejak Taman Kanak-kanak kata tersebut masuk melalui telinga kanan kemudian berlari-lari, jogging hingga ketiduran bahkan menetap di memori ingatan saya hingga sekarang.

Kata "mlosdrong" bagi saya berfungsi sebagai tanda kecemasan saat yang nantinya bisa terjadi. Perasaan cemas timbul dari kedua orang tua melilitkan sebuah ikat pinggang di sarung yang saya kenakan. 

Konon tujuan menggunakan ikat pinggang tersebut agar tidak melorot. Itu pun terkadang ada teman yang usilnya minta ampun dengan sengaja menarik sarung hingga sarungpun menjuntai turun ke bawah. Hingga terlihatlah sangkar burungnya. Kemudian teman yang lainnya tertawa terbahak-bahak.

Seiring bertambahnya waktu kata "mlosdrong" bagi saya mempunyai dimensi pemaknaan yang meluas. Apabila dilihat dari segi proses bahwa segala sesuatunya sudah terlanjur terjadi. Atau bisa juga dimaknai dengan keadaan tanpa kendali. Jadi seharusnya ada bagian yang fungsinya sebagai penahan, pengawas ataupun pengevaluasi ternyata hal itu tidak terjadi.

Juga bisa dimaknai dengan kelalaian jika kata "mlosdrong" terjadi dalam sebuah prosedur. Mungkin karena sesuatu hal ada beberapa stase atau tahapan yang harus dilalui ternyata terlewat dengan sendirinya. Atas terlewatinya itu menimbulkan sebuah kelailaian tentunya mempunyai dampak sesuai takarannya.
Dialek "mlosdrong" ini memang kaya pemaknaan. Saya memang harus banyak berterima kasih kepada Yai Ribut Achwandi atas hal yang bisa menghangatkan ingatan jaman dahulu agar kini bisa diingat kembali.

Musim


Saat musim buah durian maka sepanjang jalan berderet pedagang buah durian bersua atas usaha penjemputan jatah rezekinya. Begitu pula saat musim rambutan, trotoar bewarna merah, berdesakan para pembeli tumpah dalam kerumunan.

Ketika sampai ke rumah buah-buah tersebut ada yang dimakan sendiri, dinikmati anaknya bahkan ada yang dibagikan orang lain. Interaksi tersebut dihadirkan dalam komunikasi bermasyarakat.

Derasnya informasi yang dibahas oleh penghuni dunia maya. Membuat trending topik sebagian orang turut membahasnya. Hal ini sebelas, dua belas dengan analogi kondisi musim buah-buahan di atas.

Bersama informasi yang disajikan dengan minimum resolusi kejernihan ditunjang dengan kepentingan. Pembuat opini berita bisa menyesuaikan arah penggiringan publik ke salah satu pihak. Apalagi berbeda sumber, berbeda pula gaya pandangnya. Semakin besar pula potensi bias informasi dan sebagainya.

Bahwa berita tak bertanggung jawab yang beredar di media sosial membuat sesuatunya menjadi overload. Menumpuk dengan ketidakjelaskan atau sangat diragukan keakurasian beritanya. Kebiasaan berkomentar sudah menjadi santapan publik sehari-hari. Di bahas bareng- bareng dan setiap pembahas sekaligus menjadi hakim atas pendapatnya.

Suatu saat ketika bencana alam melanda seluruh warga dunia maya beremoticon tangis bersama. Menggambarkan sikap peduli yang tiada tara. Saat gencarnya diskriminasi penilaian ajang pencarian bakat karena adanya unsur nepotisme. Maka berduyun-duyun mengomentari bahkan menghardik atas kejadian itu. 

Musim pembahasan opini berita di media sosial terus berulang dan terus berganti mengisi dimensi layar smartphone dengan gelombang informasinya terus bergulir. Semuanya itu berdampak pada sisi aktualisasi masyarakat yang mempunyai kebiasaan mencibir, mengkritik dan mengundang orang lain agar turut membenci karena sesuatu hal.

Meskipun jika ditelaah lebih lanjut bahwa bentuk kritik itu bukan hal yang negatif. Apabila niatan mengkritik itu didasari atas cinta dan mengembalikan sebagaimana jalurnya. Kemudian cara mengkritikpun disampaikan dalam keadaan santun. Agar orang yang tak berpendidikan pun bisa mengerti maksud dan tujuan kritik yang bersifat membangun tersebut.

Interaksi penyedia berita dan penikmat berita bersifat transaksional. Meski pembayarannya melalui penggunaan data internet. Kembali lagi yang paling esesi itu bergulirnya berita ketika telah sampai kepada masyarakat. Mereka mempertahankan kebenaran ego subyektifnya.

Lalu musim apa? yang paling hangat dan paling lama trending di media sosial? Yaitu masalah sensitif melalui isu-isu Suku, Agama dan Ras. Komoditas tersebut sebagai bahan bakar membuat gaduh dengan banyak cara, bias pandang, membalikkan fakta, bahkan fitnah yang tak bertuan pelakunya. 

Perlahan kebhinekaan itu digerogoti oleh bangsanya sendiri melalui musim-musim dunia maya yang silih berganti. Yang tanpa sadar kita sama-sama merayakan dan menari di atasnya. Hingga tak pernah bangun dari tidur bahwa kekayaan negara turut dieksploitasi diam-diam.

Masihkan kita menjadi penikmat musim dunia Maya itu? atau kah kita disibukkan membangun generasi fajar yang lebih bermartabat dibandingkan dengan kondisi sekarang?
Jawabannya harus mulai dari sekarang kita sadar, bangkit kemudian bergegas.

Prasangka


Pisau yang paling baik dan tajam tidak serta merta mudah dibuat tanpa adanya proses yang cukup panjang. Ada beberapa parameter yang dipakai ketika seseorang menilai kualitas pisau tersebut dalam kategori baik. Bisa jadi karena bahan pisau diambil dari kualitas logam yang bagus, sehingga hasilnya berkilau dan anti karat. Sedang prosesnya penajamannya dilakukan secara rutin tanpa ada jeda waktu yang bisa menurunkan kualitasnya.

Begitu pula manusia dengan segala instrumen baik jasmani maupun rohaninya. Saya jadi ingat cerita kebiasaan pagi dan sore santri-santri di pondok pesantren tradisional. Mereka bertugas membersihkan pondoknya. Tugas tersebut disesuaikan dengan usia para santri. Ada santri kelas 1 SD yang bertugas membersihkan halaman pondok. Kemudian bagi santri yang sudah beranjak remaja tugas mereka mulai berat. Yaitu untuk menimba air untuk diisikan ke bak mandi air. Hal tersebut dilakukan bertahun-tahun untuk hikmat kepada kyainya. Atas dasar tempaan tugas tersebut perlahan mereka belajar secara otodidak mengerti makna keikhlasan serta proses rutin yang dijalani dengan kelembutan hati yang istiqomah.

Cara tersebut ternyata sangat ampuh sudah turun temurun agar mereka hidup bekerjasama serta bersosialisasi merasakan sendiri nikmatnya hidup. Mental tangguhnya mulai ditempa menjadi pribadi yang tidak hanya bisa mengajarkan bagaimana menjadi ikhlas dan istiqomah melainkan mempraktekkannya sendiri dan bertahun-tahun.

Belum lagi ketika mereka harus berinteraksi dengan masyarakat bisa melihat langsung masalah yang sering terjadi. Data yang mereka dapat adalah valid dan real secara langsung. Mereka menyaksikan populasi bukan hanya sampel. Dari sini para santri melihat kondisi sosial masyarakat. Bagaimana kesulitan ekonomi beserta cara menghadapinya mereka para santri sangat paham atas dari kebiasaan itu. Rasa simpati dan empati pun mulai terbentuk serta benih-benih cinta kemanusiaan mulai tumbuh dengan sendirinya.

Hati mereka lembut didasari dari laku hidup yang sudah tertanam. Dari hati yang lembut tersebut maka transfer keilmuan bisa mudah dilakukan. Sedangkan hati para kyai pun sungguh penuh kecintaan. Sehingga para kyai sepuh terdahulu sering berpesan, "Jadilah manusia terlebih dahulu sebelum menjadi santri". Kata "manusia" dalam ungkapan itu adalah makhluk yang mempunyai akal dan pikiran. Manusia yang berakal berarti manusia yang bisa berpikir membedakan mana yang baik mana yang buruk. Sedangkan proses "nyantrinya" adalah pencarian ilmu agamanya sebagai penyempurnanya..
Alhasil saya memang lebih percaya bahwa prasangka itu dari sumber keadaan hati yang setiap waktu dikroscek kembali. Jangan-jangan ketika menyangka sesuatu berasal dari hal buruk. Sedang untuk menilai perasaan hati saya baik, saya malah terus berkaca dan merasa malu kepada mereka yang telah belajar ikhlas dan istiqomah sejak dulu.