Tuesday, 20 June 2017

Pergi Seharusnya Kembali

Sejauh saya menjadi manusia pengalaman hidup melihat detik-detik kematian  sangat menakutkan. Gerbang diantara dunia dan alam barzah yang setiap manusia akan mengalaminyaa. Kalau berprofesi sebagai perawat, keadaan ini paling tidak hampir setiap minggu mengalaminya. Saking seringnya ada teman saya yang bebal terhadap apa yang disebut dengan sakaratul maut.

Baik calon jenazah merasakan keadaan dirinya saat malaikat maut datang menjemputnya. Saat itu hanya keadaan pasrah menyelimuti ruang dan pikirannya, mungkin itu yang ia rasakan. Sejauh ini jujur saja masih merinding melihat perihal kejadian tersebut. Pernah satu kali saya membantu menyiapkan jenazah dari rumah sakit mau dibawa pulang ke rumah duka pun sampai sekarang masih terngiang.

Ternyata ketakutan itu sering muncul dalam benak saya. Kata Pak Kyai kalau nyawa hampir akan dicabut kita sendiri seakan-akan melihat malaikan yang datang menjemput kita. Wah, saya ndak kebanyang betapa takutnya kalau benar-benar kematian itu datang. Yang menjadi masalah untuk saat ini adalah mempersiapkan bekal menuju kesana, bisa jadi itu prioritas utama. Disisi lain kita pergi meninggalkan keadaan dunia namun pada dasarnya kita kembali ke Maha Pencipta.

THR & Hutang

Begitupula para karyawan dipenghujung bulan Ramadhan masih asyik menggunjingkan kedatangan truk-truk berisi amplop yang diberi bungkus nama THR atau sejenisnya. Skala nominalnya diprediksi cukuplah membeli pakaian, sandal, ayam kampung, beras dan sisanya pada H-1 buat beli bungkus ketupat di pinggir jalan.

Para bos perusahaan mulai mikir mremet atas biaya yang sudah terprogram sebelumnya. Bahkan memang harus kesana kemari ambil dana produksi, cukup membuat jidadnya mengerut, baik bos perusahaan ecek-ecek atau sekaliber perusahaan internasigoreng. Semuanya gaduh diantara karyawan yang mengunggah status di media sosial bertanya kepada Tim Hilal Hari Raya, "Kapan THR akan keluar?". Apesnya keputusannya "Masih belum tampak", hhmmm...mencengangkan, ya seperti nagih hutang atas kebiasaan tahunan ini.

Tidak tanggung-tanggung pembelaan dibredel dengan tembusan dari Pak Mentri atas legalitas yang tersruktur dalam undang-undang. Sah Permenaker Nomor 6 TAHUN 2016 tentang THR diberlakukan. Memang semuanya akan melindungi sebagaimana haknya, sepakat dengan 2 jempol.

Tampaknya bisa tersenyum lega bagi yang pekerja formal yang mengenal angka sial bagi sebagian orang. Yaitu angka 13, bila mendengarnya lumayan bisa dialokasikan persiapan hari raya. Saya pernah ngobrol bareng salah satu karyawan perbankan pencapaian angka 14 bahkan ada, jadi dalam satu tahun bisa gajian 14 kali, jadi pengen beli kalendernya.

Sorakan "Kapan THR akan keluar...", akan langsung berubah disaat uang-uang tersebut telah berjalan-jalan diantara mbak-mbak kasir mall dengan berderet tulisan DISKON ALL item *)berlaku kelipatannya dan diatasnya ada tulisan "Berkah Ramadhan", memang pinter banget bentuk rayuan gombal yang terselubung dengan modus religi.

Efek uang memang melebihi merek bir yang mahal, memabukkan, menghilangkan keseimbangan dan tak tak pernah usai sebelum usia menutupnya. Sampai dititik jenuh dunia lupalah terhadap semua atas kewajiban terhadap hutang kepada sesama manusia, hutang atas kewajiban yang berhak dan hutang atas dirinya kepada kepada orang tuanya.

Masih ada kekurangan pembayaran kepada penjual sayur yang setiap hari menyediakan segala kebutuhan makanan. Bahkan masih ada beberapa tunggakan bayar pulsa meski terasa sepele bagi penjual mengambil untung 700 rupiah harus menunggu 1 bulan lamanya. Atau hutang lain yang seharusnya bisa diprioritaskan segera untuk pelunasan. Alangkah lebih baik sempurnakan kebaikannya dengan rasa legowo memberikan stempel LUNAS atas jeratan kewajiban sebagai pembayar hutang.

Apakah tidak memperhatikan nenek diseberang jalan yang sudah tidak mempunyai sanak saudara?Tentunya yang terakhir hutang yang tak kan bisa terbalaskan yaitu kasih sayang dari orang tua.

Atas nama THR, diskon, hutang dan kasih sayang di penghujung bulan Ramadhan.

Saturday, 10 June 2017

Pancasila di Bulan Juni

Pada awal bulan Juni ini ada beberapa teman saya mendadak peduli dengan pancasila. Apa benar ada hari peringatan pancasila atau pertanyaan saya ini malah menjadi bahan ketawaan orang-orang karena saya memang benar-benar tidak tahu tentang itu. Kalau jaman sekarang musim bully-bully-an bisa jadi saya dicap sebagai orang yang tak berjiwa nasionalis. Saya pun tidak perlu diangkat sebagai duta pancasila karena menjadi duta pancasila bagi saya terlalu berat. Untuk mengahafal naskah saja masih saja belepotan. Ini terjadi di negara saya Indonesia, negeri yang saya banggakan.

Dari semenjak kecil tepatnya usia 7 tahun saya diajari banyak hal tentang jiwa nasionalis, kata guru saya seperti itu. Setiap hari Sabtu saya diwajibkan mengikuti upacara bendera. Sepertinya sangat aneh yang terjadi di sekolah saya dan memang benar adanya, dasar sekolah saya dulu adalah madrasah jadi hari liburnya adalah hari Jum’at. Hari sabtu hari pertama masuk sekolah dimana segala sesuatu aktifitas dilakukan. Upacara bendera mengawali hari pertama saya dan saya masih menganggap hanya kegiatan seremonial saja.

Waktu saya kecil, saya tidak mengerti tentang tujuan utama upacara bendera, yang ada hanya datang ke lapangan mendengarkan komando dari pemimpin upacara. Menurut hemat saya bahwa upacara bendera tidak lebih dari memang menirukan pembacaan teks pancasila, pengibaran bendera dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Dua kegiatan tersebut menjadi menu wajib disela-sela pesan yang disampaikan mengenai ulangan catur wulan, motivasi belajar dan pengumuman kegiatan sekolah.

Menginjak remaja tepatnya semasa SMP upacara bendera menjadi hari Senin karena saya memilih bersekolah di SMP yang berstatus negeri. Prestasi saya dibawah rata-rata lebih bodoh terbukti saya mendapat peringkat 10 dari bawah, pencapaian antara diterima atau ditolak dan alhamdulillah pilihan bersekolah negeri terlaksana. Kehidupan nasionalis di SMP tidak jauh beda yang namanya dengan upacara bendera. Menurut saya di SMP ada peningkatan kalau menyanyikan lagu Indonesia Raya di SMP diringi  musik drum band. Yang menjadi bahan ketawaan kalau musiknya sudah selesai namun tim pengibar bendera masih sibuk narik tali dan tiba-tiba langsung disebrak agar bendera cepat naik ke atas.

Dari semua pendidikan formal semenjak tingkatan Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah kegiatan sebagai bukti cinta kepada negeri. Adapaun bentuknya mulai ditanamkan dalam sisi mata pelajaran yaitu berupa Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan serta seremonial upacara bendera baik setiap hari Senin maupun disaat ada peringatan hari besar nasional. Secara langsung para siswa di beri pengetahuan tentang sifat tenggang rasa, saling menghormati serta mengetahui beberapa pengetahuan Undang-undang meski dalam tahap dasar sebagai warga negara.


Keadaan saat ini di era internet khususnya penyebaran informasi melalui media sosial merupakan bentuk tantangan sebagaimana aplikasi dari semua pengetahuan yang telah diterima di bangku formal pendidikan. Saya juga terkadang menganggap aneh kepada mereka yang mengunggah status yang lebih sensitif mengenai kebenaran masing-masing yang dikondisikan publik melihatnya dan memberikan komentar atas unggahan tersebut. Tentunya ini bukan sebagai larangan sedang dunia maya hanya terjebak dalam 2 dimensi dan tulisan sebagai wakil dari mimik muka serta cara menyampaiakan yang tidak diketahui keberaadaanya. Dimana sesorang yang membaca tulisan tersebut belum tentu satu pemikiran mengenai maksud implisit serta sesuatu yang melatar belakangi unggahan tersebut dibuat. Saya kira sesuatu yang bisa membuat gaduh di media sosial bisa menyebabkan perseteruan melalui beda pendapat hingga berujung sesuatu yang tidak diinginkan dan sudah banyak kasus nyata yang berawal dari penyalahgunaan media sosial. Kondisi ini dipandang perlu sebagai hal yang sepele namun dampaknya luar biasa. Maka itu, sesuatu yang substansi bukan berarti membuat kebenaran yang haq untuk dipublikasikan dengan keberagaman yang beda. Ada batasan keyakinan masing-masing untuk mempercayai dan itu merupakan bentuk kedaulatan mereka atas tanggung jawabnya. Lalu yang perlu dimunculkan sari-sari keindahan dari individu masing-masing atas substansi hidup dan pemaknaan penanaman dari butir-butir pancasila. Menurut saya itu yang terpenting melihat kondisi sekarang.

Foto : google

Sunday, 4 June 2017

Kini Grand Livina Semakin Semok


Motor dijaman sekarang ibarat dua kaki manusia yang bermesin mengikuti arah geraknya kemanapun ia berada. Membahas tentang motor sebenarnya saya termasuk pengguna motor abg yang masih produktif menunjukkan tingkat kedewasaan yang berarti. Boleh jadi motor saya ini masih pada tahap menginjak fase dewasa trengginas dan lincah mondar-mandir. 

Temen saya yang bernama Ardi menyebut motor dengan merek Grand Livina, motor legendaris tahun 1996 masih saya gunakan mengais rezeki. Pada bulan September 2016 kemarin genap berusia 20 tahun, makanya saya menyebutnya sebagai motor yang masih pada tahap pendewasaan karena kalau pada manusia usia tersebut sudah mulai matang dalam pemikiran, itu hanya penafsiran saya agar tetap legowo terhadap kenyataan.

Kata orang bijak jasmerah selalu dipakai meskipun waktu memakan sebagian usiamu. Jangan melupakan sejarah sebutan jasmerah mungkin saya ulas sedikit tentang motor Grand Livina. Pada dasarnya adalah pemberian dari ibu yang waktu itu melihat saya merasa kasihan pertama kalinya bekerja hanya menggunakan sepeda. Padahal bagi saya anggapan itu tidak seberat yang dibayangkannya, pastinya lebih berat pengorbanan ibu untuk saya dari dulu sampai sekarang ini.

Disisi lain kegemaran saya bersepeda ternyata membuat teman-teman berceloteh tentang motor Grand Livina yang saya pakai. Diantara deretan motor yang berjejer di parkiran kantor, motor saya ini sudah jarang yang memakainya. Satu diantara teman menyarankan agar saya membeli motor keluaran tahun sekarang dan motor Grand Livinanya konon beliau siap membelinya. Ada-ada saja orang ini, memberi saran tapi menyesatkan malah dia sendiri yang akan mempunyai kepentingan, sontak saya berkelakar menolaknya.

Sampai suatu malam ketika saya akan membayar pulsa di rumahnya Ardi, aksi ngobrol ngalor-ngidul pun terjadi saat itu pula Rozi datang menggunakan motor Honda Grand saya taksir lebih tua dari Grand Livinanya milik saya. Percakapan ringan dengan pemilik Honda Grand itu membuat saya kepincut konon belum lama ini membuka bengkel motor sendiri dan rata-rata pasiennya milik anggota Honda Grand Fans Club. Jauh-jauh dia datang ternyata sama yaitu membayar pulsa ternyata malam ini Ardi Cell banyak pelanggan yang sekedar “ngapeli” nyaur hutang.

Dari perbincangan singkat semalam, ada keinginan dibenak saya paling tidak perhatian kepada Grand Livina yang sudah tidak karuan rasanya. Kalau lewat jalan yang banyak batunya goncangannya semakin keras pantat saya kian panas maka mau tidak mau harus berdiri. Kali saja kalau saya minta tolong Rozi menservis Grand Livina saya siapa tahu lebih greget larinya. Singkat cerita paginya saya ke rumah Rozi firasat saya nanti akan banyak parts yang diganti, tak lama kemudian dia menganamnese beberapa tingkat keausan dan toko parts adalah destinasi selanjutnya dalam acara ngoprek motor saya.

Beberapa parts yang harus dibeli diantaranya oli mesin, tabung shock depan, dan beberapa bagian permesinan yang saya lupa sampai bagian-bagian terkecilnya. Sesaat setelah om china penjual parts menyodorkan nota pembelian nominalnya lumayan fantastis. Hampir sepertiga gaji saya baru membeli beberapa parts. Baiklah, mungkin ini hari Grand Livina saya dimana setelah beberapa bulan tidak mendapatkan belaian dari sang empunya. Buritan bagian samping bawah kalap harus dirumahkan diganti dengan yang lebih gembung biar kelihatan semok. Kebeneran ada knalpot motor lain yang langsung bisa dipasang, meski diantara pencapaian naik motor yang cukup nyaman uang tabungan harus raib dalam hitungan 4 hari. Memang waktunya memanjakan kaki ketika sudah 7 tahun ini menemani bekerja.

Saya hanya bisa merawat yang sudah ada biar lebih  bersejarah. Kesaksian sesuatu yang saya miliki adalah waktu pinjam yang sangat singkat. Semakin banyak yang bersaksi kita akan kerepotan melihat persaksiaannya. Kalau saya bisa memilih lebih baik saya merogoh kocek hampir separo gaji daripada membayar sepertiga gaji demi angsuran motor yang membuat saya takut lagi kalau makan di angkringan.




Friday, 2 June 2017

Biru Mata Sayu

Biru panggilan nama seorang pekerja honorer di sebuah instansi pemerintahan. Ada satu kelebihan yang dimilikinya kala itu karena dia mempunyai surat izin beberapa kepentingan dengan pihak instansi lain. Sebab kepunyaannya itu pada akhirnya biru resmi masuk bekerja pada tahun 2010. Biru sangat terobati karena sebelumnya ia menemukan pelajaran yang berharga. Tentang pengkhianatan teman seperjuangan honorer yang telah lolos seleksi menjadi pegawai resmi pemerintahan dengan cara yang tidak masuk kategori sportif dan kejujuran. Untuk kedua kalinya ini biru bekerja di tempat yang berlabel sama bahkan tidak jauh tempatnya dari pekerjaan yang lama.

Biru tidak sendiri, atas sesuatu yang diinginkan hijau mengundangnya menjadi rekan satu profesi dalam suasana tempat baru. Hijau sebutan bagi pekerja resmi pemerintahan yang telah diakui dengan berbagai ikatan antara hak dan kewajiban lebih dibandingkan biru. Hijau sangat responsif terhadap sesuatu yang dianggap abu-abu terutama mengenai tendensi pemasukan finansial diluar lalu lintas resmi dari pemerintahannya. Kalau ada rekanan luar instansi akan memberikan ucapan terima kasih berupa tanda mata atau sejenisnya maka hijau menolak mentah-mentah ini yang disebut abu-abu.

Selah 2 tahun ada kabar dari atasan kalau di perusahaan namanya general manager , konon ada promosi jabatan yang menghendaki penerimaan mutasi kerja dari instansi tetangga. Tentunnya ini membuat hijau sedikit panik nantinya akan menjadi pemimpin diantara bawahan yang sudah lebih dahulu mengenyam asam garam meniti berbagai pengalaman dengan posisi yang sama menjadi kepala. Ada yang perlu digaris bawahi bahwasanya kedatangan pekerja mutasi tersebut tidak akan menyaingi posisinya hijau sekarang. Atas ada kabar terselinap tersebut perasaan hijau agak lega.

Selang beberapa hari kemudian ketentuan dari manajemen menghendaki tambahan jumlah honorer atau yang disebut dengan penerimaan karyawan kaum biru. Via telepon berbagai karyawan kaum biru dipanggil memenuhi persyaratan mengikuti seleksi penerimaan calon karyawan. Biru 2 akhirnya resmi menjadi karyawan honorer dan sekaligus menjadi partner biru menjalin kekompakan bekerja.

Permasalahan demi permasalahan baik biru, hijau dan sekelumit penawaran abu-abu tertoreh silih berganti. Ada kalanya diskusi sebagai muara titik temu keputusan yang membuat hijau bertindak sendiri mengikuti satu prinsip menghindari kepentingan mengejar target penerimaan abu-abu.

Biru masih saja statusnya sebagai biru berusaha menumbuhkan suasana nyaman antara perbedaan prinsip yang tejadi. Kejadian secuil yang  akan menyulut kondisi kemudian cepat-cepat kemudian ia redam. Atas perbedaan jenis yang terjadi antara pegakuan resmi pemerintahan maka disana terjadi pereloncoan beban kerja yang dirasa cukup memberatkan oleh biru.

Tiba akhirnya sesuatu datang bentuk pekerjaan berupa pelatihan yang mau tidak mau harus diemban oleh ruang lingkup biru dan hijau. Mereka saling memandang satu sama lain dan mengatakan siapa yang akan mengikuti pelatihan ini mengingat begitu besar resikonya yang akan terjadi kelak. Berhubung sifat hijau disaat ngomong tidak pernah dijaga, hijau secara mendadak memberikan perintah kepada hijau kemudian mendelegasikannya atas acara itu.

Dalam diamnya, biru memutar segala pikirannya sebisa mungkin agar rencana pelatihan itu bisa ditangguhkan. Singkat perjalanannya permintaan biru ditangguhkan dan akhirnya hijau yang berangkat atas dasar pengakuan tugas resmi dari pemerintah. Memang dalam kejadian ini biru masih ingin bermain-main dengan keseriusan hijau tentang statusnya kini.

Sumber :google

Thursday, 1 June 2017

Tumpukan Buku

Biarkan menggunung
Lelah bertumpuk
Karena tak lelah
Memandang dunia
Tanpa dikendalikan
Pikiran sempit
Percaya tidak mengapa
Makanan pikiran
Melebihi makanan biasa
Hilang demi memenuhi
Pojok perut manusia
Biarkan bertumpuk
Asal nafas masih di ufuk
Mengiringi mentari
Kemudian bernyanyi
Waktu yang akan datang
Biarlah menjadi saksi
Diantara halaman-halaman cinta
Penuh harapan lagi