Sunday, 16 April 2017

Revolusi Kontal

Patut dikawal bahkan didukung apabila petinggi negara bisa mempunyai perubahan secara menyeluruh. Memang tidak tidak dipungkiri setiap masa kepemimpinan pasti ada beberapa jargon yang diangkat ke publik sebagai pengejawantahan mengawal program-progamnya. Sangat bagus sebagai leader melakukan perubahan kepada staf hingga sampai lini terkecil dalam pemerintahan. Tidak lain tujuan pada akhirnya memudahkan bosnya atau dalam hal ini rakyat menerima imbas positif dari pekerjaan mereka.


Beberapa spekulasi yang timbul atas lahirnya sebuah jargon berupaya sebagai simbolik verbal kepada masyarakat yang menunjukkan kepemimpinan sekarang lebih baik dari sebelumnya. Upaya pembenahan memang dimulai dari motivasi semangat cara berfikir harus melakukan perubahan namun indikator pencapaian dan evaluasinya patut dipertanggungjawabkan. Kita memang sangat suka terhadap sesuatu yang rame-rame apalagi semangat perubahan bersama begitu gencarnya. Lalu dari masing-masing subyek mengatkan, “Ini yang namanya pemimpin membawa skala perubahan mendasar”. Jangan salah yang mengatakan demikian bertindak atas kemurnian sendirinya atau sebagai panjang tangan dari gerobak birokrasi pemerintahan. Jarak resolusi latar belakang mempunyai kesuraman atas sesuatu yang bisa dilihat.Revol

Thursday, 6 April 2017

Buku Lagi

Mumpung stoknya masih ada, keinginan yang terus mengalir semenjak pameran buku dibuka. Baru kemarin membeli buku kebetulan koleksi EAN dari penjual cukup lengkap maka keesokan harinya kembali aku datangi.

Dengan menggunakan sepeda motor selepas pulang kerja langsung menuju ke Gedung Jetayu Pekalongan. Sore yang cukup lama menjelang magrib memberikan kesempatan berkeliling dari kios satu ke kios lainnya. Tujuan utamanya yaitu membeli  buku EAN yang berjudul Markesot Bertutur Lagi, Semesta EAN dan Titik Nadir Demokrasi. Buku-buku tersebut  yang belum ada di daftar list buku koleksi. Setelah nota pembelian sudah di tangan terasa nyaman bersyukur sudah bisa membawa pulang.

Masih dalam sekitaran  kios buku lain tawaran yang menggiurkan kalau ada buku murah, sementara uang di dompet masih cukup beli bensin. Artinya kalau ada buku lagi yang bagus nggak salah kok nanti beli lagi. Begitu gumamku dalam hati.

Kembali teringat oleh dosen yang pernah mengunggah ke media sosial buku nasihat religi yang berjudul Perjalanan dan Ajaran Gus Miek. Akhirnya ketemu juga buku terakhir yang bisa diburu. Alhamdulillah kios buku tersebut dengan mudahnya ditemukan, lantas mau hanya beli satu buku saja?

Ternyata masih ada diskon buku lain yang ditawarkan. Harga 30 ribu bisa dapat buku yang cukup tebal dan bisa digunakan sebagai referensi pengetahuan. Maka buku tentang biografi yang aku cari. Terpilihlah judul buku Jejak Pembaruan Sosial dan Kemanusiaan KIAI AHMAD DAHLAN, tentang harapan lain semoga ibuku bisa membacanya juga.

Bulan ini semoga penuh berkah. Pengeluaran paling besar bulan ini yaitu membeli buku. Mumpung ada pameran yang terpenting stok bukunya masih ada didiskon pula dan akhirnya bisa irit belanja. Membeli buku juga merupakan asupan pikiran agar pengetahuan bertambah, semoga.

Posting Pekerjaan

Media sosial semacam facebook semakin hari terus sejalan dengan kegiatan pemilik akunnya dikehidupan nyata. Nampaknya tujuan dari si Mark penggagas aplikasi tersebut bisa dikatakan berhasil karena menurut penelitian 30 % penduduk Indonesia telah memiliki akun facebook.

Telepas dari uneg-uneg yang dipikirkan oleh pemilik akun, kegiatan rutinitas pekerjaan sering di unggah melalui aplikasi ini hampir setiap hari. Pemilik akun ini sudah termasuk addict eksistensi sebagai pekerja keras. Sangat mudah memberikan asumsi kepada khalayak tentang kesibukan atas pekerjaan. Dari foto yang diungahnya maka teman-teman yang kebetulan melihat postingan tersebut akan cepat mengambil kesimpulan.

Pekerjaan yang sepele saat difoto memvisualisasikan keadaan riuh bersorak sorai semangat. Kalau memang benar adanya demikian tak masalah. Semuanya itu akan bermasalah hanya sebatas aktualisasi sementara yang diabadikan sedang kualitas pekerjaannya tidak dipertanggungjawabkan.

Apabila pemilik akun yang bersangkutan disebut pencitraan mungkin akan berkilah bahkan bisa jadi akan tersinggung. Beruntung tidak ngomel-ngomel karena  istilah tersebut berkonotasi negatif di era sekarang.

Niatnya buat fun hokya-hokya nyatanya kegiatan yang diunggah berupa kegiatan formal. Berarti memang mempunyai kelainan perwujudan eksistensi diri. Sangat mendetail lagi ketika orang lain yang tidak lama berinteraksi kemudian misalnya memberikan sesuatu atau melakukan hal kepada sesorang yang haus eksistensi secara sepihak menggunggahnya. Tujuan tersebut agar orang lain tahu bahwa “ini lho barusan saya berinteraksi dengan orang ini dan tiba-tiba beliau memberikan hadiah ini”, misalnya demikian.

Para tipikal orang seperti ini tidak bisa membedakan sesuatu yang seharusnya dan hal yang harus dihindari bermedia sosial. Bukan melarang sesorang yang ingin menggunggah aktifitas pekerjaannya namun cara pandang terhadap profesi akan bisa menyetarakan dirinya terhadap eksistensi tersebut. Kalau artis mau potong rambut sebelumnya ia harus ngundang wartawan, tapi kalau pegawai negeri sipil barusan pegang sapu sebentar karena kerja bakti terus diunggah ke media sosial apa ini tidak jauh dari “lelucon” publik? kemungkinan lebih 50% demikian.

Undian Gambling

Undian doorprize hampir tiap kali ada di acara formal seperti seminar, talk show, pameran dan sebagainya. Seringnya kegiatan undian ditempatkan pada posisi paling akhir dari beberapa rangkaian  acara inti. Oleh panitia,  pengundian dilakukan pengundian melalui karcis, kuitansi, nomor urut pendaftaran ada pula yang menggunakan tanda khusus seperti ada secarik kertas yang ditempatkan pada kursi peserta bagi siapa saja yang kebetulan ada tanda tersebut, dialah yang berhak menjadi pemenangnya.

Bentuk lain undian berhadiah dalam penjualan barang, tujuan utamanya sebagai pemikat konsumen. Semakin banyak membeli barang yang ditawarkan maka kupon undian akan lebih banyak didapatkan sehingga kesempatan memiliki hadiah akan semakin besar pula. Rumus ini mendekati benar apabila pesaing dari peserta lebih sedikit dan nasib mujur juga berpihak pada kita. Program ini dikatakan berhasil apabila tingkat penjualan barang meningkat drastis dan peserta mengikuti undian semakin banyak. 

Harapan semu peserta ujian paling ngenes bagi pembeli yang sudah merelakan membeli barang begitu banyak namun pada akhirnya harus mengakui kekalahan. Bagi pembeli bernasib baik yang hanya membeli 1 barang harus tertawa terkekeh-kekeh menerima rezeki nomplok berupa hadiah dan itu pun tidak disengaja mengikutinya.

Bukan orang Indonesia kalau rasa ingin mencoba sangat tinggi selagi hal positif, mengapa tidak?
Alasan tersebut salah satunya yang menjadi penyebab kegiatan undian terus ada. Slogan “Siapa tau rezeki kita?” menjadi modal utama mencoba menjadi salah satu peserta adu nasib secara gambling.

Sangat benar kalau rezeki tak kemana, ini sangat didukung dengan asumsi mengikuti undian sekedar iseng-iseng berhadiah. Wah...wah...sangat deg-degan sekali mendengarkan panitia membacakan satu persatu kupon atau karcis undian jangan-jangan saya ini yang dapat?. Rasa ke GR an ini terkadang bisa mengecewakan tatkala harus merelakan waktu yang digunakan mengikuti undian tapi hadiah tak kunjung tiba.

Tetap Semangat

Sudah dibicarakan oleh penulis sekaliber Pak Budi Maryono bahwa menuangkan ide dalam tulisan akan melewati pada titik jenuh dan terasa sangat bosan. Gambaran ini benar-benar tertuju kepadaku. Sebenarnya ide tersebut tidak akan habis, karena tiap hari adalah pelajaran hidup yang benar-benar sangat indah untuk ditulis. Lantas alasan apa yang menjadi ikhwal penuangan ide itu mencapai titik jenuh?

Pembagian waktu menurutku adalah penyebab utama menulis.  Disamping terhimpit karena alasan pekerjaan, waktu yang tersisa hanya rasa capek mengalahkan kegiatan menulis. Membuka laptop mampu tapi kalau berfikir menuangkan ide sudah tidak bisa berkata lagi. Rasa kantuk pun melanda, sehingga ketika laptop sudah masuk ke sistem windows aku pun terlelap diatas kasur.

Waktu libur kerja bagiku sangat berarti setelah pagi hari digunakan aktifitas lain maka malam harinya bisa membuka kembali halaman blog yang sudah melewati deadline tanggal. Biasanya awal bulan sangat rajin tiap hari posting satu tulisan.  Baru bulan ini sudah tanggal 6 April belum ada satu tulisan yang mengisi halaman depan blog. Belum terlambat masih tertinggal 6 judul tulisan, semoga dimudahkan.

Penyemangat mengisi blog tidak lain hanya aku sendiri. Menghadap laptop menulis apapun yang keluar dari pikiran lalu segelas kopi terus aku coba tenggakkan membasahi kerongkongan. Bahan bakar semangatku yaitu komitmen dari awal. Mengisi blog ibarat mengisi koran harian yang ditulis sendiri, tidak ada editor karena tulisan yang dihasilkan tidak mengikuti pakem penulisan yang ada. Inti dari semua ini hanya sebuah konsisten yang terus digali serta jangan pernah tertinggal dalam satu bulan minimal 20 postingan.

Ternyata target tersebut sangat perngaruh sebagai pengingat kewajiban atas komitmen yang sudah disetujui. Terbayang-bayang kalau satu bulan tidak sampai memenuhi target, sayang sekali karena bulan-bulan sebelumnya sudah stabil. Pertanyaan kembali menghujam “Kalau bulan kemarin sudah mencapai target seharusnya bulan ini bisa lebih, mengapa tidak dimulai?”

Ayo semangat!


Mahalnya Daun Pisang

Kali ini saya harus mendengarkan curhatan emak-emak penjual nasi megono dengan pembeli yang juga tak kalah super menggelegar suaranya. Kalau emak-emak dipertemukan dengan satu jenis kelamin yang sama bisa dibayangkan obrolannya tak kalah asyik dengan diskusinya pengacara di ILC. Bahasan mereka kali ini tentang harga daun pisang yang kata  penjualnya sudah ora pantes melambungnya.

“Jaman saiki larang kabeh,  godhong gedhang kok nganti seket ewu ngungkuli rego kertas, batine dhodholan luweh sithik kerno wungkuse larang”, kalau nggak ngerti bahasanya roaming secara singkat terjamahannya begini :
“Zaman sekarang serba mahal, daun pisang hingga 50 ribu melebihi harga kertas, laba dari penjualan lebih sedikit karena bungkus daunnya sudah mahal”, begitu kata penjual nasi megono yang memakai jilbab hijau kelihatan lebih muda sampai 20 tahunan.

Saya pun menjadi pendengar setianya emak-emak ini seperti fansnya radio RRI yang menikmati siaran langsung dari kantor pusat berita. Kok bisa nih mau beli nasi megono paket komplit beserta news jangan bilang ini hoax, bisa-bisa kena omelan emak-emak, “Kalo nggak percaya ke pasar sendiri, noh!”, pilih diem paling ajib deh...kalau lawan bicaranya mempunyai tipe seperti ini.

***
Nasi megono bungkus daun pisang seperti suami istri dalam pelukan. Wah...kok jadi ngomongin suami istri?. Sangat erat tentang persamaan saling melengkapi  antara panasnya nasi kemudian didekap oleh aroma daun pisang mentah.

It’s imejing kata orang jawa yang pengen banget niru bule-bule yang mencoba masakan Khas Indonesia.
Konon dahulu, daun pisang dianggap oleh masyarakat Pekalongan sebagai bahan paling ekonomis sebagai bungkus makanan. Paling mudah didapatkan karena kalau jualan nasi megono pagi hari, maka sore hari sebelumnya bisa kok ambil dari pekarangan rumah.

Karakteristik daun pisang juga mempunyai permukaan yang mudah dibersihkan membuat nilai tambah praktis dan mudah dibentuk model  pincuk, tum dan wungkus. Dari sinilah penjual nasi megono sangat mempertahankan tradisi bahan pembungkus nasinya terlepas  ada juga yang beralih menggunakan kertas.

Kelangkaan daun pisang yang terjadi ada beberapa faktor karena jumlahnya pohon pisang yang sudah tidak sebanyak dulu atau memang karena faktor cuaca angin yang merusak bentuk fisiknya. Dahulu anak-anak desa memanfaatkan pekarangan sebagai tempat bermain di sana banyak sekali masyarakat yang masih menanam pohon pisang. Tapi sekarang seiring berjalannya waktu ketika mereka dewasa lahan tersebut dijadikan rumah. Ruang perkebunan kecil milik perorangan pun semakin sempit.

Untuk mendapatkan daun pisang, para pedagang nasi megono harus membelinya di pasar. Sekali belanja menghabiskan uang sebesar 50 ribu rupiah untuk sekali jualan. Terlalu berharganya kini nilai daun pisang semahal itu hidup di tanah gemah ripah loh jinawi. Sedangkan kalau menggunakan kertas minyak hanya separuhnya atau 25 ribu bisa untuk dua kali jualan. Patut diapresiasi bagi penjual nasi megono yang hingga kini masih mempertahankan ciri khas sedepnya karena aroma daun pisang meski terkadang harus menghadapi berbagai keluhannya.

Ketemu Dulur Lanang

Sangat indah memang cara Tuhan mempertemukan kembali pertemanan yang sudah lebih dari 13 tahun tidak pernah bersua. Dialah Wawan, teman satu sekolah dahulu yang kini berdomisili di Sleman Yogyakarta. Konon dia sudah hampir 3 tahunan lebih di sana.

Seperti dituntun langkah kaki ini saat melewati tangga di salah sartu rumah sakit daerah Pekalongan. Antara salah orang atau setengah mau curiga kebenaran dari posturnya sekarang. Emang katanya sih, laki-laki sukses itu dilihat dari majunya perut atau melarnya pinggang....wakakakaka....dan itu terjadi pada temenku satu ini.

“Wan...wan...”, aku coba buntuti tapi ndak ada respon sama sekali tapi biarlah mungkin lagi fokus nyari toilet. Aku pun mengurungkan kembali atas kecurigaan mirip temenku yang tiba-tiba kepo tentang orang ini, mungkin beda orang kali ya...wuih...biarinlah.

Namun aku masih kekeh, ada kejanggalan kayaknya bener deh...ini Wawan...temen sekolah dulu. Aku kembali membalikkan lagi menanyakan waktu itu aku masker  masih aku pakai.

“Mas mau kemana ya mas?” aku coba samperi orang yang lagi ling-lung ndak jelas jeluntrungnya.

Belum sempat menjawab, dia balik tanya, “Kok kaya Temenku dulu ya?”, masker ku aku buka, “Wan....Wawan tho...?”, gerakan reflek saling memeluk terasa sudah lama aku ini ndak ketemu bareng. “Piye kabarmu cah...siapa yang sakit?” tanyaku sembari menepuk pundaknya. “Alhamdulillah....ini bapak lagi perawatan tapi udah mendingan kok”, jawabnya sembari masih bingung lihat keadaan sekitar. “Mau golhek apa tho?”, penasaranku masih ada. “Iki lho meh sholat tapi bingung masjide neng endi ya?”, jawabannya relevan waktu karena belum lama suara adzan terus berkumandang. “Adane mushola wan...lurus belok kanan, iku tempate...jian gak nyongko ya bisa ketemu ndek kene InsyaAllah mengko tak ampiri bapak ne....”, jawabku sembari perlahan pamitan.

Kurun waktu 1 jam pertemuan aku lanjutkan ke ruang perawatan bersama bapak terlibat diskusi ringan tentang kesehatan yang akhir-akhir ini mengalami gangguan. Namun, waktu itu Wawan tak tampak masih sibuk dengan keperluan keluarganya, apresiasi banget nih buat temenku satu ini, well sekali.

Belum tenang juga ketemu cuma say hay...alhamdulillah pagi harinya waktu pun berpihak dalam ketidaksengajaan. Obrolan ringan terjadi dengan Wawan seputar kesibukan sekarang yang tinggal di Kecamatan Cangkriman. Bersama istrinya jiwa mandiri sudah terasah hingga menuai kesuksesan hingga sekarang. Aku tidak bisa membayangkan kepanikan saat setelah mendengar kabar bahwa bapaknya  sedang sakit. “Lha sampeyan seko Yojo jam piro Wan ngebut mesti ya?” tanyaku dalam perbincangan kecil pagi itu. “Aku nggak iso ngebut soale karo adhiku dadi yo enten-entenan”, sambil duduk menghadap ke timur Wawan merespon pertanyaanku. Bersama itu hanya harapan semoga bapak bisa membaik kesehatannya. Berbagai cara atas nama Maha Kuasa-Nya bisa bersua kembali meski dalam keadaan yang tak terduga tentunya ada hikmah yang bisa dimaknai sebagai persahabatan.