Tuesday, 19 July 2016

Semangat IRMASA

Pukul 16.30 beberapa remaja telah menyiapkan kurma, beserta makanan kecil lainnya dikantong plastik yang disediakan. Riangnya kegiatan mereka dengan banyak teman terasa begitu cepatnya pekerjaan packing telah selesai.
Sedikit komando dari Ust. Yasir untuk pembagian kerja di lapangan, maka bergulirlah mereka mulai bekerja tepatnya di perempatan Wiradesa. Pilihan yang strategis bagi pengguna jalan yang melintas menjadi acuan yang diutamakan.
Senyum ramah serta semangatnya disambut meriah para pengendara. Tak sungkan terkadang ada yang bertanya," Ini bayar ndak mas?",tanya salah satu pengendara sepeda motor.
"Niki gratis, Pak...monggo dipun betho kundur"(ini gratis pak,silakan bawa pulang), jawab remaja belasan tahun tersebut.
"Kalau gratis..saya nambah lagi ya mas...", sambil tersenyum.
"Monggo pak...ajeng nambah pinten?(silakan pak mau nambah berapa)".
Ada semangat melayani ditiap remaja yang dikondisikan disebuah sistem kegiatan positif. Mereka sungguh tak pernah melihat kedudukan bahkan menilai orang lain. Siapapun orangnya maka hanya sebatas pemberian takjil yang bisa mereka lakukan bagi sesamanya.
Saya hanya sebatas mengambil gambar dan ditiap langkahnya ada harapan baik bagi Indonesia.
"Semangat, tetep berusaha yang terbaik buat siapapun!"

Wiradesa, 1 Juli 2016 Ikatan Remaja Masjid Sabilurohman Kauman

Jogging

Menurut Cintya Apsari Putri dalam blog pribadinya pengertian jogging adalah jalan cepat atau lari kecil untuk menyerap oksigen dan memfungsikan jantung agar bekerja lebih cepat dari biasanya.

Indikator pencapaian jogging jika denyut nadi berdetak cepat seluruh pori-pori kulit terbuka mengeluarkan keringat.

Khalayak telah mengetahui manfaat secara keseluruhan bahwa jogging merupakan olah raga simpel dan sederhana hanya memerlukan pakaian olah raga berjalan bolak balik atau mengelilingi lingkungan sekitar rumah bisa dimanfaatkan.

Tidak hanya dimaknai sebagai olah raga ternyata perintah jogging (jalan cepat) dipraktekan dalam sebuah rukun ibadah. Adapun rukun tersebut dinamakan Sa'i yaitu berjalan cepat dari bukit Shafa menuju bukit Marwah sebanyak tujuh kali yang diakhiri di bukit Marwah. Rukun tersebut dilaksanakan disaat menunaikan ibadah haji.

Jogging ternyata sangat mengasyikkan nilai kebugaran adalah bonus, maka utamanya tiap langkah sebuah harapan bukan hanya berjalan disekitar rumah melainkan perintah bagi yang diberi kemampuan, semoga itu terjadi kepada kita semua.


Terima Kasih Pemudik

Menyebutmu dengan sebutan pemudik terasa masih ada batas diantara kita. Maka agar lebih akrab sudah semestinya kami  sebagai Saudara ku se-Indonesia.

Terima kasih Saudara ku, Engkau masih ingat tempat lahirmu sedangkan kami hampir tiap hari selalu merindukanmu.
Terima kasih Saudara ku, begitu sibuknya Engkau masih masih menyempatkan bertemu sedangkan Kami masih bingung naik apa dan turun dimana? untuk berjumpa denganmu.

Terima kasih Saudara ku, Kami gembira saat mendengar sebentar Engkau akan kembali, sedangkan tentunya Kami lebih banyak salahnya karena belum sempat meminta maaf denganmu tapi ternyata Engkau yang begitu baiknya datang lebih dahulu.

Terima kasih Saudara ku, Kami menantimu tapi kerisauan itu datang setelah melihat begitu susahnya dalam perjalananmu, maka sekali lagi maafkan kami belum bisa meringankan bebanmu dan bahkan menolongmu.

Terima kasih Saudara ku, kami belajar ilmu ikhlas atas kedatanganmu. Namun kami malu ternyata engkau lebih ikhlas menerima keadaan Ibu Kota sedangkan Kami tak mampu menjadi sepertimu.

Terima kasih Saudara ku, saat engkau berhenti sejenak mempersilakan ibu-ibu menyeberang dengan wajah kebingungan tidaklah engkau tahu bahwa ia masih terus larut dalam kesedihan karena sudah dua tahun lamanya anak semata wayangnya belum pernah kembali dari perantauan sedangkan belum lama suaminya meninggal dunia dan ia pun tinggal sendirian.

Terima kasih Saudara ku, Kami melihat dikemacetan engkau masih bertahan dengan segala panas udara serta kejenuhan waktu menunggu.

Terima kasih Saudara ku, engkau mengajari makna ibadah disetiap perjalananmu. Masjid kami terasa lebih hangat saat langkahmu menapak di lantai kemudian engkau bersujud. Sedangkan malaikat menurunkan keberkahan karena mereka mengetahui engkau musafir dalam kebaikan usahamu.

Terima kasih Saudara ku, begitu relanya menyisihkan infaq parkir sedangkan tentunya engkau tidak akan berharap sesuatu melainkan ridho yang selalu berlimpah. Maka jika ingin tahu infaqmu dijadikan sebuah teras masjid dapat bermanfaat kalanya ada seorang tua renta yang berteduh kedinginan  menunggu hujan yang reda. Dibawah teras itu, ia menggigil padahal dua hari yang lalu masjid itu belum berteras apapun.

Terima kasih Saudaraku, Suatu saat aku berharap engkau pulang dengan sejuta pengalamanmu membuat usaha di kampungmu agar masyarakat bisa merasakan cinta dari hati mu.

Sunday, 17 July 2016

Riyaya Dunia

Gedung Kantor Kepala Desa Rowokembu Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan menjadi tempat acara Maiyah Suluk Pesisiran edisi 16 Juli 2016 dengan mengambil tema Riya (ya) Dunia. Lantunan sholawat duror pembuka acara maiyahan oleh segenap IPNU Kecamatan Wonopringgo, terus berkumandang menghangatkan suasana keakraban yang terjalin atas dasar sebuah rasa kebersamaan

Acara maiyahan dihadiri nara sumber diantaranya adalah Pak Suryo Sukarno (selaku pengamat sosial budaya), Gus Mansyur (ulama) dan Cak Mufid (ustadz). Bapak Hasbi Riski selaku Kepala Desa Rowokembu juga ikut berpartisipasi melakukan sambutan acaara Suluk Pesisiran. Dalam pembukanya Pak Suryo menjelaskan tentang sejarah halal bi halal di Indonesia. Selain itu beliau memaparkan melestarikan budaya riyoyo yang bermakna merayakan Hari Raya Idul Fitri.

Pembahasan tema lebih mengerucut saat Gus Mansyur mulai membicarakan unsur manusia yang terdiri dari 4 bagian. Pertama unsur api (nariyyah) yang berarti semangat. Unsur yang kedua  unsur air berarti kemanfaatan. Unsur ketiga khayawaniyyah yang berarti nafsu. Unsur terakhir keempat unsur batu yang berarti kekuatan. Dari semua unsur tersebut Allah SWT membekali akal dan pikiran kepada manusia untuk mensinergi akar setiap unsur tidak ada yang lebih dominan satu sama lain. Apabila unsur api lebih tinggi maka manusia cenderung lebih suka mempertahankan egonya atau keinginannya. Contoh lain misalnya apabila unsur air lebih dominan maka manusia akan lebih memanfaatkan sepenuhnya dirinya untuk orang lain akan tetapi dia tidak memperhitungkan keadaan dirinya bahkan melupakannya. Dalam prosesnya manusia harus melewati usaha memperbaiki diri dan menundukkan ke empat unsur tersebut dalam sebuah ibadah yang berupa puasa. Para wali zaman dahulu memberikan pengajaran pengendalian ke empat unsur tersebut melalui contoh tradisi disaat lebaran. Dimulai dengan tradisi menyembelih ayam lebih tepatnya ayam jago, lambang jenis ayam jago lebih menampakkan sifatnya egonya yang begitu tinggi maka dengan disembelihnya ayam jago sebagai simbol hilangnya ke egoan diri manusia.  Dilanjutkan dengan membuat ketupat terbuat dari janur kuning yang dianyam tumpang tindih menandakan bahwa sifat manusia yang dinamis berubah kemudian diisi beras putih (kebaikan). Tidak hanya itu apabila ketupat telah matang maka harus dibelah menjadi dua bermakna bahwa seluruh manusia dihari raya membuka hatinya untuk menyadari semua kesalahan yang telah diperbuatnya.

Menyinggung masalah riya Gus Mansyur memberikan prinsip bahwa penilaian riya hanya manusia dan Allah SWT yang mengetahui. Malaikat pencatat amal pun tidak pernah tahu keberadaan niat riya yang dilakukan oleh manusia. Kemudia beliau bercerita tentang manusia fi sabilillah sekaligus ahli ibadah seluruh hidupnya bahkan semua hartanya digunakan sepenuhnya untuk agama. Para malaikat bertasbih memberikan saksi bahwa tipe manusia seperti ini sangatlah istimewa,  jarang ditemui jenisnya. Disaat meninggal seluruh amalnya dibawa oleh malaikat kemudian diperlihatkan kepada Allah SWT. Majlis malaikat memberikan penghargaan kepada manusia fi sabilillah tersebut. Namun, Allah SWT menolak semua amal ibadahnya, kemudian malaikat merasa bingung dan bertanya lagi kepada Allah SWT, mengenai alasan penolakan amalnya. Allah SWT menjawab bahwa seluruh amal manusia fi sabilillah tersebut sudah mendapatkan balasan ketika di dunia. Pengharapan pujian dalam beribadah membuatnya dia selalu bangga disaat orang lain menyanjungnya. Jihad fi sabilliahnya berniat untuk disebut paling berani bagi sesamanya. Alasan riya tersebut menjadi penyebab tertolaknya seluruh amal ibadahnya.

Sebagai penghangat suasana agar lebih menambah kemesraan Mas Joko mengingatkan kepada grup musik akustik dan perkusinya akan segera tampil ke depan. Persiapan tidak begitu lama grup musik ini melantunkan lagu religinya milik ungu dan maherzain nuansa pop religius sangat mengatmosfer dalam sebuah gedung acara maiyahan. Nyanyi bersama jamaah maiyah menjadikan momen paling istimewa ternyata begitu singkatnya dua lagu yang telah dilantunkan harus berakhir dan suara tepuk tangan yang meriah menutup perfom dari grup musik akustik tersebut.

Sesi selanjutnya adalah diskusi tanya jawab atau sekedar memberikan tanggapan dari pemaparan nara sumber. Mas Abdul Ghoni adalah audien pertama yang akan menanggapi bahwa “riyoyo” merupakan hari perayaan yang telah disiapkan bulan sebelumnya dari bulan. Selanjutnya audien kedua yang akan menanggapi diskusi yaitu Muhammad Tifani yang bercerita menganai sejarah tradisi lebaran ternyata sudah ada pada tahun 1725 M, dimasa pemerintahan Raja Mangkunegara I. Tanggapan  terakhir dilakukan oleh Mas Antoni yang melihat kebiasaan autoselfi masyarakat berupa perayaan Idul Fitri merupakan sebagai ungkapan kegembiraan.

Gus Mansyur memberikan tanggapan secara keseluruan mengenai tema riya dunia bahwa kita dibimbing untuk melihat masalah secara lebih jauh bukan hanya sekedar riya saja. Waktu satu bulan lamanya digembleng ibadah puasa di Bulan Ramadhan hendaknya kita tidak lengah terhadap tipu daya dunia. Disaat lebaran tiba manusia kembali ke fitri, iblis pun merasa kecewa melihat keadaan manusia yang begitu sucinya hingga seperti ia baru lahir. Iblis sangat kecewa saat takbir berkumandang karena segala daya dan upayanya berakhir sia-sia, karena segala dosa kesalahan manusia akan terhapus menjadi keadaan fitri (seperti bayi yang baru lahir). “Apakah iblis akan diam saja tanpa menggoda manusia lagi?”. Tentunya itu tidak terjadi selama manusia itu hidup dunia maka iblis akan senantiasa menggodanya. Setelah manusia melaksanakan Sholat Idul Fitri iblis kembali datang merusak kesucian hati sanubari manusia dengan tipu daya keduniaan menjadikan manusia salah fokus dan melupakan esensi manusia hidup didunia bahwa suatu saat manusia harus kembali  kepada Allah SWT.

Janganlah manusia melakukan hal yang berlebihan dan sia-sia. Setelah manusia melewati Bulan Ramadhan maka tidak ada lagi batasan rukun ibadah melakukan hal yang disukainya. Makan dan minum misalnya, di Bulan Ramadhan mulut manusia sangat tertib melakukannya. Namun setelah melewatinya maka manusia seakan bebas terkekang dari semua yang melarangnya. Hal itu jangan sampai membuat manusia menjadi lupa dengan usahanya selama satu bulan. Langkah penuh barokah menjadi nilai yang sia-sia. Gus Mansyur juga mengingatkan untuk selalu ingat membacar pesan pesan dari simbol tradisi kebudayaan misalnya lopis raksasa yang belum lama diselenggarakan di Pekalongan.

Cak Mufid memuncaki acara maiyahan dengan memberikan asal kata riya dari dua kata ru’ya dan ro’ a keduanya mempunyai makna memperlihatkan. Apabila dilihat dari bahasa maka seluruh aktifitas ibadah manusia termasuk riya karena makna tersebut berarti memperlihatkan misalnya ketika melangkahkan kaki ke masjid maka secara langsung kita memperlihatkan langkah kita untuk beribadah ke masjid. Apabila dilihat dari tasawuf maka riya mempunyai arti membanggakan amal ibadah kepada orang lain. Letaknya riya ada dalam hati manusia yang ingin selalu memperlihatkan amal ibadahnya. Dalam konteks realitas ibadah riya yang bermakna tasawuf ini dilarang karena yang dimaksud riya sesungguhnya. Sedangkan makna riyoyo dalam bahasa jawa berarti perayaan hari raya yang  dibolehkan asalkan tidak menyalahi syariat yang Allah SWT tetapkan.

Tepat pada pukul 00.30 Mas Joko memberi tanda untuk segera mengakhiri acara maiyahan segenap penggiat memberikan instruksi untuk melingkar bersama dengan para jamaah yang hadir. Lampu utama gedung dipadamkan sholawat shohibul baiti mengiringi acara penutup Gus Mansyur memimpin doa bersama dilanjutkan dengan bersalaman.




Friday, 15 July 2016

Pokemon Menjadi Pokok Men

Mendengar Pokemon langsung teringat kartun Jepang yang menghiasi layar telivisi kurun tahun silam. Entah karena perkembangan industri teknologi gadget baik hardware maupun software istilah kartun Pokemon menjadi ikon permainan di sistem operasi android. Rumor yang terus melejit dari pemberitaan media elektronik membuat setiap orang merasa ingin tahu keberadaan game ini.

Pokok men adalah istilah bahasa jawa khususnya dialek orang Pekalongan mempunyai arti pokoknya atau ungkapan sebuah keharusan yang mendekati makna memaksa. Tentunya saya menuliskan judul tersebut ada korelasi nyata antara dua istilah yang ucapannya hampir sama berbolak-balik.

Demam permainan Pokemon telah merubah para pengguna gadget lebih antusias mengikuti jejak permainan dimana pun berada. Ini yang menjadikan alasan saya menulis sekelumit tingkah laku para penikmat game Pokemon khususnya dari kalangan remaja hingga dewasa. Saya pun hanya merespon keadaan sosial masyarakat dan tentunya dalam benak saya pun tidak ada rasa latah ingin mencobanya. Tidak ada alasan apapun menghindarinya karena  saya  menganggap bahwa hidup ini sudah seperti permainan.

Secara teknik permainanannya pengguna harus berpindah tempat untuk memburu monster dalam permainan  Pokemon. Pengguna harus lebih jeli bejalan disemua titik tempat atau bisa dikatakan bertualang. Ada makna lain yang dapat diambil sisi positif bahwa permainan ini membuat penggunanya harus sama-sama bergerak alhasil aktifitas fisikpun juga diperlukan. Antusias para pengguna dengan berpetualang membuat dirinya menjadi manusia aktif setidaknya mengeluarkan keringat dari pori-porinya.

Sisi positif lainnya dengan adanya interaksi sesama pengguna maka tidak jarang diantara mereka dapat berkenalan ditempat yang sama disebuah petualangan. Fenomena ini sangat digemari bagi mereka, para remaja yang sedang mencari jati diri dunia sosialnya.

Pokok men atau keharusan mungkin dapat diartikan kelatahan sosial yang mencoba rasa keingintahuannya. Aktualisasi pengguna secara aktif membuat orang lain menilai secara langsung tentang pertanyaan seputar kegiatan permainan. Setelah itu maka rasa keingintahuannya meningkat hingga tergerak hatinya mengunduh aplikasi yang sama. Tidak hanya itu kelatahan sosial ditunjang oleh pemberitaan media sosial nasional menjadi konsumsi masyarakat dunia maya.

Kelatahan yang memuncak apabila disuatu tempat menjadi masyarakat pengguna permainan Pokemon. Seolah mereka menemukan dunia yang sama maka  tidaklah salah dalam sebuah koridor penyuka (hobi) permainan ataupun anime. Namun apabila kelatahan tidak pada tempatnya akan menimbulkan berbagai masalah baik secara kejiwaan, norma etika maupun hukum.  Ketergantungan gadget berlebihan sudah menjadi masalah kejiwaan secara sederhana yaitu kegelisahan apabila dalam satu hari tidak memegang benda yang bernama gadget. Apalagi ketergantungan dengan permainan secara kejiwaan menjadi manusia yang kurang bisa bersosialisasi kepada masyarakat bahkan bisa berkecenderungan menjadi autis. Norma etika pengguna sering diabaikan baik secara secara sadar maupun tidak, bahwa pengguna tidak bisa membagi waktu dalam kesehariannya. Teorinya akan menambah deretan kegiatan jadwal tentunya memerukan waktu, Nah...tinggal yang dikorbankan waktu yang mana? Pekerjaan (tugas) ataupun keluarga (sosial). Norma hukum telah diberlakukan hukuman tegas bagi pengendara yang dengan sengaja menggunakan handphone. Selama artikel terbit belum ada kabar dampak lain dari sisi hukum. Semoga pengguna lebih smart seperti gadgetnya.


Pokemon menjadi pokok men atau keharusan yang memaksa seharusnya tidak terjadi maka sebelum terjadi lebih menitikbereatkan prioritas kegiatan yang lebih bermanfaat akan lebih penting. Masyarakat yang smart mampu memberikan filter arus global yang sangat memprihatikan.


Thursday, 14 July 2016

Tratebang

Sebuah desa terletak di pesisiran pantai utara tepatnya di Kecamatan Wonokerto Kabupaten Pekalongan. Sebagian besar penduduk sekitar bermata pencaharian nelayan.

Mereka sangat dekat dengan alam pantai hingga tempat tinggal berdekatan dengan dermaga kecil kapal tradisional miliknya. Keuletan menangkap ikan serta pengalaman turun temurun membuat ciri khas masyarakat Wonokerto pada umumnya sebagai modal utama yang selalu diwariskan dari generasi ke generasi.

Para istri nelayan sangat pandai berniaga hasil tangkapan ikan untuk dipasarkan dalam bentuk ikan segar maupun ikan olahan. Bentuk ikan olahan dibedakan menjadi 3 bagian direbus, dipanggang dan diasinkan.

Tamu lokal yang kerap datang menikmati desir angin laut sambil membawa kail dan beberapa bekal makanan. Seringnya mereka menangkap ikan disekitaran sungai yang pada waktu tertentu banyak terdapat ikannya.

Begitu banyak saudara kita di pesisiran pantai yang sepatutnya kita kenal atau cukup berpapasan tersenyum sambil mengutarakan, "Monggo...Pak...", sesederhana itu mereka begitu senangnya. Apalagi sembari berkenalan dengan sedikit obralan ringan seputar air pasang yang masih menggenang disebagian besar tempat tinggalnya.

Visit Wonokerto - Jawa Pesisiran.


Saturday, 9 July 2016

Kepingan Dashboard

Dua ratus rupiah, bagi yang cukup uang selalu tergeletak di kotak dashboard dengan berbagai teman-temannya. Baginya, memiliki dua ratus rupiah harus menghirup asap kendaraan, bertaruh nyawa dibawah terik matahari menunggu pemberian dari pengguna jalan.

Menjadi juru parkir pun tetap harus menyewa lahan. Beralih pekerjaan tidaklah mudah dengan hanya memberi saran. Semoga koin yang Bapak berikan menjadi dukungan, untuk berganti ke pekerjaan yang menurut Bapak itu lebih baik.