Saturday, 19 October 2019

Tingkat Menyenangkan Hati


Bagi Lek Karyo, bersepeda merupakan hal paling memudahkan dibandingkan dengan jalan kaki. Begitu, saat dia mengharuskan jalan kaki maka dia akan selalu bersyukur bisa menikmati nikmat berjalan. Rumusnya untuk hidup bahagia itu baginya terlalu mudah.
Sampai Kang Drakim itu bertanya, "Bagimu, menjemput bahagia itu darimana Lek Karyo?"
"Owalah, kamu masih bisa bernafas saja sudah termasuk orang bahagia melebihi segalanya", sahut Lek Karyo.
"Lho..kok bisa?",sergah Kang Drakim.
"Manusia bernafas itu masih ada harapan kebaikan bagi dirinya. Kang!."
"Terus biar bahagianya itu langgeng bagaimana Lek?", tanya kembali Kang Drakim.
"Nah, pencapaian tertinggi manusia itu bisa menyenangkan orang lain. Dengan begitu egomu akan turun dan kamu akan lebih rendah hati. Percayalah kebahagiaan akan didatangkan dari hal apa saja", jawab Lek Karyo.
"Lalu bagaimana dengan seseorang yang serakah Lek Karyo?"
"Orang yang serakah itu masih dalam proses menuju kebaikan. Karena dari serakah itu masih ada potensi untuk menjadi orang dermawan. Itu hanya persoalan hati Kang. Biar Tuhan sendiri yang menggerakkan", pungkas Lek Karyo.

Perkelahian Pemuda


Di perempatan jalan desa Lek Karyo melerai 2 pemuda yang berkelahi yang konon merebutkan pujaan hatinya. Kemudian 2 pemuda tersebut akhirnya didudukan kemudian Lek Karyo memberikan sayembara.
"Kalau sampeyan benar-benar cinta kepada perempuan anak Pak Lebe, kira-kira bisa kah sampeyan menerima tawaran tantangan saya?"
"Oke Lek, aku terima", kata pemuda pertama. Pandangan Lek Karyo tertuju ke pemuda kedua, "Oke, siapa takut", sahut pemuda kedua.
"Baik lah, pemuda. Jika memang kalian sungguh mencintai perempuan itu kalian pulanglah belajar dari ibumu dan janganlah sekali-kali kamu menemuiku, sebelum benar-benar bisa membuat ibumu tersenyum. Antar kesini dan tunjukan senyum ibumu. Jika itu belum jangan berharap kamu mendapatkan perempuan itu", kata Lek Karyo.
Dua pemuda itu hanya diam lebih redam darah berkelahinya.

Makna Cendol Dawet


Lek Karyo masih saja ngetuprus sendiri, sambil membolak-balikan uang koin 500-an.
"Lha iyaa....iyaa...uang segini kok masih bisa beli cendol dawet. Alangkah bahagianya pembeli itu. Di saat uang lima ratusan sebagai uang kembalian. Ini bisa untuk beli cendol dawet",
"Heeey....itu hanya di lagu Lek!", jawab Kang Drakim.
"Nah...kalau saya ini malah menjadi doa Kang!", sergah Lek Karyo.
"Kamu itu aneh-aneh saja Lek Karyo...wong itu lagu malah ini dikatakan doa? samepyan itu mbok yang realistis mikirnya!"
"Oh....itu kan hanya pendapatmu yang belum tahu?"
"Weee...eee...Lha terus bagaimana menurutmu Lek?"
"Nah...penyanyi ini sebenarnya berpesan, bahwa hidup itu tidak serta merta dihargai dengan uang receh 500 an. Mereka masih berharap ada orang baik yang secara cuma-cuma memberi kebaikan tanpa membuat perhitungan laba"
"Ohhh...kok ada benarnya juga Lek?"
"Makanya, hidup itu tidak sebegitu amat dimaknai dari realita Kang. Bisa juga lirik itu adalah nasehat harapan".
"Waaah...wah... berarti saya ini terlalu cepat menyalahkan situasi ya Lek?"
"Sampeyan ngerti sendiri tho, salah satu bentuk esensi doa itu pengharapan bagi kita semua agar bisa lebih baik?"
"Iya bener Lek, uang 500 rupiah membuat saya sadar bahwa hidup tidak selamanya dibatasi oleh angka realistis ada kekuatan maha pembalas di dunia ini ya Lek Karyo?"
"Nah...itu maksudnya Kang Drakim!", jawab Lek Karyo.

Kotoran Sepeda


Saat Lek Karyo mencari rumput di sekitar sawah tanpa sepengetahuan sepedanya dilumuri kotoran sapi oleh segerombolan anak-anak. Melihat hal tersebut Lek Karyo hanya tersenyum memahami polah anak-anak yang segala keisengannya.
Kemudian Lek Lastri istri Lek Karyo bertanya, "Kenapa Pak, sepedanya kotor?"
"Wong tadi itu anak-anak ngasih nasihat. Mbok jadi manusia itu jangan mau menangnya sendiri. Rumput sudah gratis. Nanti kalau sapinya sudah besar untungnya mau diambil sendiri. Masa kotoran hanya sedikit kok engga mau dibawa pulang?"
"Hahaa....sampeyan keliahatan serakahnya tho Pak?"
"Iya Bu...aku kira kok anak-anak itu jujur menasehati dan memang aku sadar engga boleh marah kepada mereka".
"Ngapain samepyan marah, Pak?mereka itu belum tahu apa-apa. Kalau sampeyan marah pasti mereka akan tertawa", sahut Lek Lastri sembari menyerahkan kopi di atas meja.

Jum'at Keramas


Sore tadi menjelang asharan Lek Karyo dicurhati oleh Mbak Septi salah satu pegawai bank terkenal di Pekalongan,
"Lek Karyo, karyawan di kantor saya ini tingkahnya menggelikan", curhat Mbak Septi.
"Lha, gimana tho Mbak?", jawab Lek Karyo.
"Menjelang malam Jum'at nanti wajah bapak-bapak mendadak sumringah ingin cepat pulang. Sedang keesokan harinya banyak ibu-ibu yang terlambat masuk kerja gara-gara mengeringkan rambutnya. Saya curiga Lek. Apa tiap malam Jumat mereka ini nguras bak kamar mandi, ya Lek?", tanya Mbak Septi keheranan.
"Ohh...coba Mbak, cek harta kekayaan mereka. Barang kali mereka sedang asyik panen uget-uget belakang rumahnya", ujar Lek Karyo sambil berkelakar.

Jum'at Hari Pendek


Pagi setelah sarapan di warung megono Mbak Jum. Wajah Lek Karyo mengrenyit merasa aneh. Keganjilan itu saat setelah mendengar Mbah Witro, dukun sunat tersohor di kampung, sedang ngobrol bersama kliennya melalui ponselnya,
"Jum'at itu hari pendek mas jadi saya tidak bisa ke rumahe njenengan", ungkap Mbah Witro.
Setelah obrolan ditutup, Lek Karyo kemudian berseloroh,
"Mbah Wit, kok sampeyan ngatain Jum'at itu hari yang pendek maksudnya bagaimana?",
"Owalah itu Lek Yo....Jum'at itu kan waktunya terpotong untuk sholat Jum'at jadi kayak lebih singkat!", ujar Mbah Wit.
Sembari membetulkan tas kotak perabotan dukun sunat tersebut Mbah Witro mencoba menjelaskan.
"Jadi karena sampeyan mempersiapkan sedemikian rupa menjadi alasan hari itu hari pendek Mbah ?Lho kalau hari biasa emang panjangnya berapa meter?", tanya Lek Karyo.
"Kok jadi tanya ukuran panjangnya berapa?kalau hari biasa kan engga ada perisiapan mandi sebelum ibadah Lek. Jadi lebih simpel,"jawab Mbah Wit.
"Seumpama sampeyan engga mandi apa masih tetap mengatakan hari pendek Mbah?", tanya kembali Lek Karyo.
"Yo masih Lek Karyo, kok kayaknya menarik sekali sepertinya antara hari pendek dan hari panjang. Kayak Mak Erot saja suka menanyakan panjang dan pendek ukuran"
"Kalau hari pendek berarti jamnya engga sampai 24 jam tho Mbah? menurutku sih ini masalah persepsi saja. Kok engga menamakan hari Jum'at sebagai hari istimewa saja. Padahal ini kan sebenarnya urusan kebiasaan orang kantoran agar durasinya lebih bisa slow. Juga sebagai waktu untuk bersantai saja menjelang akhir pekan", jawab Lek Karyo.
"Walah bener juga Yo Lek?", sergah Mbah Wit.
"Bagi pekerja buruh batik malah berharap jika hari Jum'at itu lebih panjang, karena mereka ingin merasa lebih lama menikmati hari liburan", tegas Lek Karyo.
"Owalah ... Begitu tho, kadang saya ini kok suka ikut-ikutan kebiasaan orang kantor ya yang engga tahu juntrungnya", jawab Mbah Tris naik sepeda onthel butut miliknya.

Undangan Lek Karyo


Belum sampai satu jam pesan dari Mat Kipli pedagang cilok yang kebetulan lewat depan rumah Lek Karyo, tiba-tiba ia berpesan, "Lek Karyo diundang Kang Sholeh katanya anak perempuan pertamanya Surti badannya panas menggigil tak keruan", sergah Mat Kipli.
Ini sudah dua kalinya Kang Sholeh memanggil Lek Karyo. Mendengar ada pesan dari Mat Kipli, kegiatan berkebunnya Lek Karyo segera disudahi.
Dengan menggunakan sarung, Lek Karyo berlari menuju rumah Kang Sholeh. Namun, apesnya belum sampai menginjakkan kaki di depan rumah, tiba-tiba Kang Sholeh berjalan keluar kemudian berkata, "Lek sudah engga jadi, Surtinya sudah sembuh", papar Kang Sholeh.
"Oh iya syukur Kang...kalau sudah sembuh, kalau begitu saya tak langsung pulang karena banyak pekerjaan di kebun", pamit Lek Karyo.
Sampai di depan rumah, Lek Lastri hanya tersenyum kecil melihat suaminya bolak-balik ke rumah Kang Sholeh untuk ke-2 kalinya. Sampai kurun beberapa menit kemudian Mbak Markonah datang lalu bilang, "Lek Karyo dipanggil Kang Sholeh sekarang penting katanya", ucap ibu satu anak sebelum belanja ke pasar.
Sifat anehnya Lek Karyo muncul tidak seperti orang biasanya. Wajahnya tidak menampakkan rasa kesal ataupun marah. Ia masih sumringah, berseri, kaya akan senyuman. Seakan tiada lelah bolak balik 3 kali ke rumah Kang Sholeh kemudian menyapa hangat,
"Gimana Kang Sholeh ada apa?sajaknya kok membutuhkan saya berulang-ulang tapi engga jadi terus", tanya Lek Karyo.
"Ohh...saya ini ada pesan ditujukan ke Lek Karyo, tapi katanya orangnya sendiri mau ketemu setelah Lek Karyo pulang. Bener nih cuma itu aja?", terang Lek Karyo.
"Iya Lek...baiknya Lek Karyo pulang, nanti orangnya akan datang ke rumah", tegas Kang Sholeh.
Segera Lek Karyo mengiyakan perintah Kang Sholeh pamit meninggalkan rumahnya. Setelah 200 meter berjalan datang seorang kakek menghentikan langkah Lek Karyo lalu bertanya, "Apa yang menjadikanmu mau 3 kali diundang tidak membuahkan pesan apa-apa kisanak?", kata seorang kakek dengan nada lirih.
"Lho saya... ini diundang bukan karena diundangnya Kang Sholeh kek. Saya ini disuruh Tuhan saya untuk selalu memenuhi undangan kebaikan jika ada tetangga mengundangnya. Masalah itu jadi apa engga itu bukan urusan saya. Yang penting saya sudah memenuhinya, Kek!", sergah Lek Karyo.
"Betul...Ngger ... ujianmu lulus kali hari ini. Sampeyan memang patut menjadi golongan orang yang ikhlas dan bersabar", pungkas kakek tua itu meninggalkan Lek Karyo dengan kepala merunduk.