Saturday, 14 September 2019

Conflict of Interest


Sepulang berdagang Lek Karyo makan di angkringan. Setelah satu bungkus nasi kucing dilahapnya. Mata Lek Karyo fokus membaca tulisan koran bekas dari bungkus nasi tersebut.
Yudi berawakan cungkring yang tak lain penjual angkringan mengamati tingkah polah bapak yang hobinya udud klempas-klempus itu.
"Samepeyan serius temen Lek?"
"Iyo aku Iki moco tentang conflict of interest kok menarik"
"Nama jajanan opo Lek? Kok istilahe angel temen?", sergah Yudi.
"Husssshh...Iki masalah birokrasi"
"Kemaki samepeyan Lek Karyo, ini opo tah?Indonesia iki wes akeh konflik mbok ojo ditambahi konflik maneh"
"Aku yo kadang keder Yud, golek istilah kadang hakikate bagi orang awam susah dipahami"
"Oh....penting ngunu Lek Karyo makna conflict of interest?Jan-jane opo tho?", dahi Yudi mulai berkernyit.
"Pokoke pertentangan kepentingan utowo konflik kepentingan. Kudune kepentingan kuwi ngulon lempeng biso dibeloke ngidul, ugo ngalor, biso mbalik ngetan, biso juga mubeng-mubeng ora tekan nggone"
"Nah kuwi biasane konflik kepentingan kejadiane ning ngendi?"
"Neng endi bae disemua lini tapi khususe sebagai pelayanan publik dan perusahaan negara utawa swasta"
"Aku dadi tertarik kadi omonganmu Lek Karyo, sampeyan sebagai wong awam kok susah memahami hakikate konflik kepentingan kenopo?"
"Nah kuwi, aku sebagai wong awam, kok bertanya-tanya penggunaan kata konflik kepentingan".
"Kok ambigu nek sebuah kantor tidak ada kepentingan. Setahuku berbagai kantor dan perusahaan mesti neng ruangan tertulis YANG TIDAK BERKEPENTINGAN DILARANG MASUK. Berarti sing neng Jero kantor utowo perusahaan pancet isine tetep wong berkepentingan kabeh"
"Nah kuwi Lek Karyo maksude tiap masing-masing karyawan ojo nganti ngutamake kepentingan pribadine kejobo kepentingan kantor", Yudi berseloroh.
"Ngunu tho Yud? Tumben pikiranmu mletik ora koyo biasane?"
"Iyo...aku yo nduwe konflik batin yang tak kunjung sembuh"
"Lha opo Yud?"
"Konflik tuna asmara Lek!"
"Dasar semprulll.....!!" Lek Karyo pamit sembari meninggalkan kedai angkringan.

Tanpa Bawahan


Namanya Lek Karyo ada-ada saja akalnya. Memang karakternya uniknya dia engga banyak omong. Tingkahnya bagi orang yang melihatnya bikin aneh. Namun dibalik semua itu dia ingin sekali menyampaikan pelajaran.
Suatu ketika saat diundang di pesta pernikahan anaknya Pak Camat, tingkah Lek Karyo kembali menuai galak tawa hadirin yang datang. 

Saat semuanya datang dengan berbagai kostum resmi. Lek Karyo hanya menggunakan jas berwarna hitam dan celana kolornya ada cap tepung gandum segita biru. Tak ada yang tak tertawa melirik pakaian Lek Karyo. Ada yang malu-malu menahan senyum, tapi akhirnya terlepas juga tawanya terbahak-bahak.
Pihak EO acara tersebut melarangnya. Namun, karena pihak Pak Camat mengerti kebiasaan Lek Karyo beliau mengizinkannya masuk. EO pun menyerah, akhirnya Lek Karyo masuk ke dalam gedung tanpa pengawalan dari siapapun.

Sontak, disesi acara salaman seluruh tamu yang datang matanya tertuju ke hadapannya. Tanpa basa-basi Lek Karyo berjalan naik pelaminan, menyalami kedua mempelai pengantin tak lain adalah anak dari Pak Camat.
Respon Pak Camat sendiri tidaklah canggung, wong dia sudah kenal sekali dengan Lek Karyo. Tapi malah tiba-tiba Pak Camat menyetop pihak MC agar memberikan mikrofon kepada Lek Karyo memberikan ucapan selamat kepada mempelainya.
Setelah mikrofon diserahkan kemudian dari pojok kanan pelaminan Lek Karyo berkata,
"Selamat siang tamu undangan...."
Seluruh tamu menjawab sapaan dengan tertawa lepas
"Sungguh, tak ada kebahagian yang luar biasa yang Anda rasakan setelah melihat saya. Saya pun bergembira melihat Anda bisa tertawa lepas"

"Betul sekali, bahwa sengaja siang ini saya tidak memakai bawahan celana panjang. Agar Anda ini selalu tersadar bahwa menjadi bawahan itu bukan hal yang hina. Bahkan menjadi penyelamat dari potensi kehinaan itu sendiri".
Seketika itu suara tamu resepsi hening tak ada lagi tertawa sedikitpun dari hadirin yang datang.
"Saya kira pastinya Anda ini pernah membicarakan Pak Camat di belakangnya. Tanpa sepengetahuan Pak Camat Anda ini sering "ngglendengi" beliau. Anda sering su'udhon terhadap beliau. Bahkan ketika mendapatkan tugas dari Pak Camat, seringnya mengeluh, merasa hina menjadi bawahan".
Respon tamu bermacam-macam beberapa tamu yang tertunduk merasa bersalah.

"Sekarang Anda semua harus mengerti bahwa posisi Anda sebagai bawahan tidak sedangkal yang Anda pikirkan. Posisi Anda sangat vital dalam mencapai kesempurnaan kehormatan. Buang sifat rendah diri. Biasakan berkompromi dengan atasan dalam kadar kebaikan"
Suasana haru biru mendengar Lek Karyo terus memberikan nilai-nilai budi pekerti kepada staf bawahannya Pak Camat. Setelah mencapai puncak nasihat. Maka Lek Karyo bertanggung jawab mengembalikan momen nuansa acara kebahagiaan seperti semula. Di akhir pidatonya Lek Karyo kemudian berujar.

"Namun, semua ini sebenarnya bukan hal unsur kesengajaan. Kalau boleh saya bercerita bahwa tadi pas perjalan menuju gedung ini. Celana saya kecantol kawat keranjang bakul sayur. Akhirnya saya terpental, hingga celana saya robek hampir terbuka semuanya. Biar engga telat buru-buru saya lepas dan hanya celana pendek ini yang tersisa"
Suasana pesta kembali riuh. Semua hadirin bersorak tepuk tangan. Ada pula yang melempar botol air mineral ke kepala Lek Karyo.
"Dasar Lek Karyo, edan", ucap teman satu letingnya pas SMA.

Mengkritik Diri Sendiri


Petang tadi, Lek Karyo tengah asyik main gaple di pos kamling. Tak merasa rikuh atau menggubris atas gesekan suara sandal menuju tempat ibadah. Lek Karyo masih mikir kartu yang akan sodorkan ke lawan main agar nasib menang selalu ada di tangan.

Sesekali Lek Karyo tertawa terkekeh-kekeh merayakan kemenangannya. Pemandangan batang rokok pun masih terselip di antara gigi paling samping berserta kepulan asap hingga rambut sebahu Lek Karyo turut tak terlihat warnanya.
Tak pelak ada suara-suara sumbang di antara orang-orang yang sedang berjalan. Menyayangkan atas tindakan Lek Karyo. Pembenaran itu ternyata menjadi buah bibir masyarakat setempat hingga sehabis ibadah tema itu lagi-lagi dihidangkan.

Memang benar yang namanya kerabat iblis, setan atau sejenisnya itu sudah kadang bersemayam dari hati terkecilnya manusia. Bahkan seseorang yang tengah berbuat baikpun tak luput dari godaan makhluk terkutuk dari sedia kala.
Dasar Lek Karyo bukan orang biasa, dia mengerti dan paham betul orang yang barusan membicarakan dirinya. Sampai saat setelah ibadah itu selesai. Lek Karyo malah berpindah dari pos kamling kemudian dia berjalan hingga memilih "ndlongsor" tidur di tengah jalan.

Memang aneh tingkah laku Lek Karyo. Tak lazim seperti orang biasanya. Lalu, Kang Drakim menghampirinya,
"Lek Karyo, sebenarnya mau sampeyan itu apa?hentikan tingkah kegilaaanmu ini, tidak sopan di hadapan jamaah!"
"Kalau kamu menganggap aku gila dan kamu menganggap dirimu lebih baik alangkah sombongnya dirimu yang hanya telah melakukan ibadah sejenak"
"Siapa yang sombong, Lek Karyo?aku mengingatkan baik-baik"

"Tapi aku tidak melihat sifat welas asih mu yang murni setelah kamu melakukan ibadah"
"Ohh lantas...bagaimana Lek Karyo?maksud sampeyan bagaimana?"
"Hahaa.....kembali Lek Karyo terkekeh, aku ini memang sedang mencoba memberikan ujian kesabaran kepada sampeyan semuanya. Aku mengerti bisa melihat siapa saja yang tadi sengaja membicarakan aibku. Meski Aku tak mendengar. Aku bisa membaca raut muka yang kembali tidak cerah. Raut muka yang tidak suci ketika melihat orang lain yang sebenarnya ujian kesabaran baginya".
Kang Drakim diam sejenak. Kemudian membungkukan badannya ke arah Lek Karyo.

"Saya minta maaf Lek Karyo, ternyata saya baru mengerti bahwa hati saya masih terlalu kotor untuk menilai seseorang. Bisa jadi sampeyan ini memang dihadirkan agar saya ini tidaklah menjadi orang yang sombong, merasa baik dan lupa diri".
"Kang Drakim....Kang Drakim....aku ini orang kotor, masa sampeyan ini minta maaf?"
"Akhh engga begitu Lek Karyo, saya malah berterima kasih atas nasihat yang selama ini tidak saya terima dari orang biasanya. Nasihat ini begitu dalam langsung menyadarkan saya"
Malam semakin bergulir Kang Drakim dan Lek Karyo pulang bersama.

Kebijakan


Untuk bisa memahami konsep sebuah iklan bisa berhasil menembus target pemasaran, dapat dilakukan langkah observasi sekaligus pengambilan sampel kepada konsumen. 

Pendekatan menggunakan survey misalnya, dengan iklan yang sudah berjalan langkah tersebut bisa mempengaruhi daya beli konsumen atau malah sebaliknya. Dari segi kemasan produk sudah cukup menarik atau belum dan sejumlah pertanyaan lainnya.

Kemudian data tersebut diolah dan dianalisa. Dari hasil analisa tersebut baru diketahui bahwa sebenarnya ada pengaruh iklan terhadap daya beli konsumen. Semuanya butuh instrumen sebagai tolok ukur keberhasilan. Ini sebagai contoh kecil di bidang penjualan.

Begitupun untuk bisa membuktikan bahwa sebuah program mempunyai dampak pengeksploitasian sebaiknya dilakukan pendekatan yang lebih komprehensif. Dari sini ada komunikasi dua arah. Bisa dilakukan observasi langsung atau melalui survei dari peserta program untuk membuktian bahwa tindak pengeksploitasian itu benar terjadi. Bukan hanya sekedar asumsi yang terlalu berlebih.

Sehingga publik bisa mengerti alasan yang tepat. Juga sebagai edukasi kepada masyarakat bahwa tindakan tersebut tidak serta merta sebagai kebijakan yang bersifat sepihak.

Memang produk kebijakan yang terlalu instan mempunyai dampak signifikan. Baik berpengaruh langsung ke penerima kebijakan atau kalangan publik sebagai pemerhati kebijakan.

Bayar Retribusi


Tidak hanya berpikir ternyata, namun tindakan nyata. Lek Karyo pun hari ini berencana membayar iuran retribusi dua kali lipatnya. Pikirnya, semakin banyak memberi negara maka akan asyik negara ini berkembang dan pembangunannya lebih melesat. Ada-ada saja Lek Karyo.

Petugas pun merasa keheranan atas tingkahnya. Lalu mendekatinya lanjut berkata, 
 "Lek Karyo, daripada sampeyan bayar 2 kali, yang selebihnya ini dianggap riba (melebihkan) oleh komunitas hijrah dan dianggap gratifikasi oleh pemerintah, mending uangnya sampeyan tambahi itu ada ibu-ibu masuk angin belikan aja obat gosok buat dia", ucap Lek Kardun yang bekerja sebagai petugas pasar.

Kibas Uang


Tadi setelah 1 jam lapaknya di gelar, hal yang dinanti Lek Karyo adalah menyapa calon pembeli. Dengan wajah sumringah ia pun menunjukan keramahan mendatangkan nilai jual tersendiri.
"Sayur seledri 2000, Pak! Ditambah wortel seperempat kilo dan kentang setengah kilo".
"Berapa jadinya Pak?"

"Dua belas ribu, Bu".
Di ambilnya selebaran uang sepuluh ribu dan dua ribu dari dompet ibu dari tas beremerek Hermes, kemudian diserahkan ke Lek Karyo sembari mengucap,
"Terima kasih, Pak!",sembari tersenyum.
"Walah...sungguh,saya yang berterima kasih Bu".

Setelah pembeli itu pulang, Lek Karyo mengibas-ngibaskan uang ke sayur lainnya. "Bismillah.... laris-laris..." pintanya.
Melihat tingkahnya, Lek Kardun yang kebetulan melewati untuk ke dua kalinya, lalu bersapa,
"Owalah.... ngapain Pak Karyo, uangnya dikibas-kibaskan ke sayur?"
"Ngga ada apa2, ini sayur biar engga diributin sama lalat", jawab singkat Lek Karyo menghindari perdebatan mitos dan fakta.

Titipan Lek Karyo


Menjelang Dhuhur tiba, Lek Karyo duduk menunggu barang titipan Yu Rondhiyah. Barang itu tidaklah istimewa, hanya baskom berisi bumbu dapur yang dihaluskan. Karena buru-buru, Yu Rondhiyah sengaja menitipkannya di lapak Lek Karyo, kemudian berlanjut belanja lagi.
Kang Dullah tetangga lapak sebelah Lek Karyo berucap, "Engga ke masjid Lek?"
"Belum Kang Dul, aku sudah kadung janji jaga pesenan milik Yu Rondhiyah ini"
"Biarlah ditinggal saja, nanti diambil sendiri".
"Jangan Kang! Aku sudah mengatakan iya, jadi aku sudah kadung janji. Katanya kalo janji harus ditepati?"
"Ohh iya sudah, kalo gitu Lek Karyo"
"Sepertinya Gusti Maha Tahu, kok saya tak nyelesaikan kewajiban ini sebentar Kang Dul. Paling engga ini bukti hubungan ku dengan manusia biar beres engga menimbulkan masalah", sahut Lek Karyo.