Wednesday, 25 September 2019

Semua Akan Tiba Waktunya

Ada beberapa perubahan sifat mahasiswa senior kepada juniornya.

1. Perubahannya semakin kritis karena pengetahuannya semakin matang dari cara berpikir dari berbagai sudut pandang serta resolusi pandang.

2. Perubahannya stagnan bisa terjadi lebih apatis karena hanya sebagai pihak yang bertepuk tangan melihat akibat positif yang terjadi dan bersorak-sorai ketika berbagai stigma negatif yang diterimanya.

3. Perubahannya menjadi antagonis dengan mengklaim bahwa juniornya melakukan hal yang tidak rasional karena sebagai pihak yang nantinya akan mengancam  posisi karier serta jabatannya.

Namun secara faktual dari semua yang terjadi berlakulah hukum sebab akibat. Tidaklah sebuah peringatan timbul akibat dari akar  krisis kepercayaan publik yang bertolak dari jalur semula.

Saturday, 21 September 2019

Pesta Siaga


Ada hal yang tak bisa dilupakan ketika pertama kali mengenal pramuka. Yaitu pada saat kelas 3 di Sekolah Dasar. Bagi saya, meski habitat sekolahnya di Madrasah Ibtidaiyah (MI) hal itu tanpa terkecuali juga mengikuti prosesi layaknya teman-teman yang bersekolah di Sekolah Dasar lainnya.

Di suatu momen, bapak guru wali kelas mengumumkan bahwa sebentar lagi ada acara yang dinamakan pesta siaga. Meski dibilang bahwa kegiatan ini sudah tidak asing, bagi para siswa hanyalah kegiatan di luar sekolah yang menggunakan seragam Pramuka selama sehari dari pagi hingga sore hari. Sebatas ini yang diketahui karena tahun sebelumnya kakak kelas juga melakukan hal yang sama di tempat yang juga berbeda.

Jauh hari sekitar 4 minggu sebelum pelaksanaan, bapak wali kelas menunjuk beberapa siswa untuk mengikuti latihan pesta siaga. Dari menghapalkan butir-butir Pancasila, mengartikan rambu-rambu lalu lintas, latihan baris berbaris hingga aneka permainan yang membutuhkan kerja sama antar peserta. 

Pada hari pelaksanaanya para peserta pesta siaga dipinjami seragam Pramuka dari madrasah. Seragamnya bagi saya mempunyai keunikan, tidak seperti seragam Pramuka yang dipakai dalam seragam harian. Bentuknya lengan panjang serta bersaku depan bagian bawah. Awal mengenakan pakaian terasa risih karena seragamnya mirip baju koko. Namun karena peserta lainnya juga demikian, perasaan itu terlupakan.

Menuju ke tempat pelaksanaan, para peserta diangkut menggunakan mobil angkutan barang atau sering disebut mobil "doplak". Bersama membawa logistik aneka jajanan ringan, pak guru dan ibu guru turut serta naik bersama di bagian belakang. Raut muka teman-teman menampakkan kegembiraan, termasuk saya. Waktu itu naik mobil doplak bersama-sama kemewahan yang jarang sekali dilakukan bagi anak-anak selain nekat ikut "nggondel" mobil pengantar pasir toko bangunan. Pesta siaga itu memang momen bersenang-senang bagi anak Sekolah Dasar sebelum mengenal lebih jauh tentang Pramuka. 

Bagi saya Pramuka itu menarik, apalagi kalau kakak pembinanya juga cantik.

Daging Wedhus

Lek Karyo manggut-manggut ketika Mbok Darmi menyodorkan pisang goreng di meja, tadi malam. Bersama teh panas, kudapan itu cukup mengakrabkan suasana. Mungkin momen semalam sebagai ajang silaturahmi yang keduanya mengikat saudara dari trah ayahnya.
Kaki Lek Karyo jigang, sedang sepotong rokok menyelip di jari Lek Karyo. Sesekali asap tebal keluar mulutnya klempas - klempus Lek Karyo mencari bahan pembicaraan.
Sedang Mbok Darmi masih ajeg. Layaknya orang tua Jawa. Pake kebaya dan jarik masih dengan sanggul di rambutnya.
"Mbok, wingi nyate ora?"
"Nyate opo?",jawab Mbok Darmi menggerutu.

"Nyate qurban tho?"
"Lho.... qurban Kuwi dibagekno, uduk di sate"

"Iyo Mbok...maksude daginge sampeyan melok disate apa dimasak?"
"Jian....kurang ajar kowe Karyo, sembrono! wong tuwo diglowehi...!!!awakku iku lho...wes tuwek, daginge wes ora kenek di sate".

"Piye tho Mbok?"
"Kok dadi mbulet, daging qurban dudu daginge sampeyan".

"Lha iyo....daging qurban kuwi dibagekno dudu di sate utawa dimasak"
"Wah....jian!ngomong karo sampeyan maraki erosi Mbok!"

"Lha pitakonanmu salah kok Karyo".
"Ngopo tho?"
"Kudune takon ngene, daging wedhuse disate opo dimasak, ngunu tho?"

"Emboh Mbok...ppreeeeekkk.....Iki sampeyan ngomong dewe karo munthu",
Lek Karyo gregetan sambil meneruskan ngerokoknya

Saat Petromas Diganti Dengan Lampu LED


Selain nasi megono, ternyata nasi goreng sering diburu orang di malam hari. Tidak di sana sini, kegemaran menu yang sudah menjadi kebiasaan. Di Wiradesa sendiri pemandangan pedagang nasi goreng menjamur di tiap 1 kilometer ruas jalan hampir ada pedagang yang mangkal di emperan toko atau menyewa halaman rumah untuk dijadikan tenda bongkar pasang sebagai tempat berdagangnya.

Sebenarnya ada benda khas yang terdapat di pedagang nasi goreng. Benda ini menurut saya hal esensi, dimana tidak dijumpai oleh pedagang lainnya. Bisa dibilang sudah ciri khasnya (trade mark). Yaitu lampu petromak yang dinyalakan berdekatan dengan tempat penggorengan beserta alat bunyi wajan yang diketuk berkali-kali.

Lampu petromak ini berwarna kuning terang. Sebagai bahan bakarnya berupa minyak tanah. Kemudian sebagai pengetahuan bahwa ternyata ada teknik khusus untuk menyalakannya. Yaitu dengan menggunakan cairan spiritus sebagai pemantik api pada lampu pijarnya. Agar nyalanya lebih terang dibantu dengan gas yang dipompa bersama bahan bakarnya. Menurut saya teknik ini perlu waktu mempelajari dan tidak semua orang bisa menyalakannya.

Penggunaan lampu petromak bagi pedagang nasi goreng keliling masih digunakan. Namun, keadaan ini tidak berlaku bagi pedagang yang mangkal. Mereka lebih praktis menggunakan lampu listrik yang disalurkan melalui tuan pemilik kiosnya.

Bagi saya ada keasyikan tersendiri menikmati nasi goreng keliling yang masih menggunakan lampu petromak. Sedikitnya ada nuansa jadul bahwa dahulu sebelum listrik menjangkau ke daerah, lampu petromak ini menjadi penerang nomor 1. Memang bagi para pedagang nasi goreng selain mempunyai kemampuan memasak yang diacungi jempol. Juga mereka dituntut harus mampu memecahkan masalah kecil, diantaranya apabila kain kasa lampu petromak tiba-tiba terbakar. Mereka harus lebih tanggap memperbaikinya. Tapi setahu saya hal demikian jarang terjadi. Saya percaya mereka lebih mahir dalam hal penerangan khususnya di lampu petromak. Tentunya masih menjaga ciri khasnya meski lampu LED kian merajalela.

Grup WA


Dunia nyata dan dunia maya erat kaitannya seperti permukaan sendok yang berada di atas dan di bawah. Lebih kongkritnya ruang di dunia maya berada di permukaan bawah sendok. Seseorang bisa berbicara tanpa raut muka, intonasi serta gestur yang dapat diketahui oleh lawan bicara. Sedang ketika seseorang berinteraksi langsung menggambarkan pertemuan realnya manusia saling bertatap, serta mengerti kapasitasnya.

Ada salah satu penggunaan aplikasi interaksi media sosial percakapan. Setelah penggunaan BlackBerry Massanger (BBM) surut, aplikasi tersebut telah digantikan dengan aplikasi WhatsApp Massanger (Pesan WA). Meski hal tersebut terdapat kekurangan yaitu tidak tersedianya notifikasi persetujuan dari pengguna untuk masuk ke dalam ruang grup diskusi. Jadi ketika ada orang lain mengundang nomor kita, bisa secara langsung masuk ke dalam grup tanpa adanya persetujuan diterima,dibiarkan atau ditolak.

Sepertinya hal tersebut sedikit menjadi penyebab "ewuh pakewuh" untuk tetap berada ataupun harus melipir keluar ketika nomor kita sudah masuk dalam arena diskusi. Ada yang memang mempunyai rasa antusias terhadap dibentuknya grup tersebut. Juga sebenarnya ada yang merasa keberatan dengan alasan berbagai hal. Dari mulai hape sudah terlalu sering menahan "nge-hang" karena kapasitas memori rendah sampai ketakutan sering salah kirim gambar berbau pornografi.

Semuanya ada pilihannya, tergantung dari pihak penggunanya. Ada yang lebih tegas ketika sudah dimasukan dalam grup langsung keluar tanpa ada pemberitahuan alasan sebelumnya. Tipikal seseorang yang selektif seringnya memilah. Keadaan ini lebih cenderung menyikapinya dengan melihat aktivitas grup dengan pertimbangan faedah ataupun un faedah dan sebagainya. Namun, yang lebih ditekankan adalah tetap berkomunikasi dengan alasan keluar dari grup dengan cara yang santun dalam beretika media sosial.

Saya memilih lebih sering menjaga perasaan seseorang. Patutnya kita lebih bersyukur. Karena ketika kita diundang ke dalam grup berarti kita sebagai tamu agar diajak berkomunikasi dan berdiskusi bersama. Sedang arahnya menyangkut berbagai hal diantaranya keluarga, pekerjaan, hobi, komunitas, alumni teman sekolah (bukan alumni 212 ya...hihihi) ataupun kepentingan lainnya. Meski gambaran ini menyebabkan jumlah grup dalam WA semakin menjamur dan dibiarkan beberapa suwung tanpa adanya aktivitas apapun.

Mengenai keaktifan dalam grup saya lebih memilih hubungan jarak. Semakin saya lebih sering berinteraksi dalam kehidupan nyata maka akan lebih sering mengikuti perkembangannya. Jarak tersebut dapat diartikan dengan kedekatan emosional mengenai karakter yang sudah tahu sama tahu. Mengerti bahwa ada beberapa situasi dimana percakapan yang kita maksud hanyalah sebagai guyonan dan tidak dianggap serius. Kalaupun ada sedikit terjadi kesalahpahaman percakapan dalam grup maka akan lebih terurai dalam kondisi nyata. 

Komitmen grup adalah ruang gerak berinteraksi dan berkomunikasi. Ada sastrawan yang berprinsip bahwa manusia hidup ketika tangannya bergerak menulis. Bagi saya, mengaktifkan kembali jalinan komunikasi grup WA adalah pertanda bahwa diri kita masih bisa membuka hape minimal orang lain mengetahui bahwa nomor WA kita masih aktif. Seperti grup WA komunitas gowes saya misalnya, ketika tidak ada aktifitas pergowesan sebisa mungkin saya harus memulainya. Memulainya dengan nge-vlog ala kadarnya agar mereka juga bisa melihat ekspresi muka saya yang mlotrok keringetan....haha....hihi....

Batas


Palang rel menjadi batas antara pengendara dengan jangkauan laju jalan kereta. Teras rumah menjadi batas antara ruang tamu dengan halaman. Senja menjadi batas antara siang dan malam. Rendah hati menjadi batas antara kurang dan paling berlebih. Semua serba memerlukan batasan.

Hidup dan kehidupan terus berjalan. Sedang hidupnya manusia adalah deretan waktu bertambahnya jarum jam yang berputar. Berputarnya jarum menit dan jam hingga bergantinya tanggal demi tanggal. Semua adalah kumpulan kesempatan yang dimiliki manusia.

Ada saat dimensi itu tiba-tiba saja berhenti dimana hidupnya seseorang berganti dikehidupan lain sebagaimana menjalani proses kehidupan selanjutnya. Hidup manusia pun ada batasannya.

Kehidupan bersama semesta dan seisinya pun demikian berjalan berekosistem, berinteraksi, berkorelasi dan berkesinambungan menemani proses yang tumbuh. Proses dimana segalanya luluh lantak digantikan dengan kehidupan baru sesuai dengan takdir dan rencana-Nya. Ternyata dalam kehidupan itu sendiri mempunyai batasannya.

Sesuatu yang tampak namun tidak berarti nyata adalah hal yang bersifat maya. Segala sesuatunya dalam ukuran pajang dan lebar. Dunia maya bisa menjadi tanpa batasan jika sesuatunya sengaja tidak dibatasi. Sekalipun itu juga ada batasannya ternyata dimensi tersebut tidak patut bisa menjadi ukuran yang presisi. 

Sedangkan hal yang nyata adalah sesuatu yang tampak dalam ukuran dimensi yang sebenarnya. Dapat diukur melalui indera. Sebagaimana pilihan hidupnya seseorang dengan membatasi dan menghargai waktu dunia nyatanya ketimbang waktu di dunia mayanya.

Saturday, 14 September 2019

Mlosdrong


Awal kata "mlosdrong" ternyata sudah lama sekali mampir melewati telinga saya. Sejak Taman Kanak-kanak kata tersebut masuk melalui telinga kanan kemudian berlari-lari, jogging hingga ketiduran bahkan menetap di memori ingatan saya hingga sekarang.

Kata "mlosdrong" bagi saya berfungsi sebagai tanda kecemasan saat yang nantinya bisa terjadi. Perasaan cemas timbul dari kedua orang tua melilitkan sebuah ikat pinggang di sarung yang saya kenakan. 

Konon tujuan menggunakan ikat pinggang tersebut agar tidak melorot. Itu pun terkadang ada teman yang usilnya minta ampun dengan sengaja menarik sarung hingga sarungpun menjuntai turun ke bawah. Hingga terlihatlah sangkar burungnya. Kemudian teman yang lainnya tertawa terbahak-bahak.

Seiring bertambahnya waktu kata "mlosdrong" bagi saya mempunyai dimensi pemaknaan yang meluas. Apabila dilihat dari segi proses bahwa segala sesuatunya sudah terlanjur terjadi. Atau bisa juga dimaknai dengan keadaan tanpa kendali. Jadi seharusnya ada bagian yang fungsinya sebagai penahan, pengawas ataupun pengevaluasi ternyata hal itu tidak terjadi.

Juga bisa dimaknai dengan kelalaian jika kata "mlosdrong" terjadi dalam sebuah prosedur. Mungkin karena sesuatu hal ada beberapa stase atau tahapan yang harus dilalui ternyata terlewat dengan sendirinya. Atas terlewatinya itu menimbulkan sebuah kelailaian tentunya mempunyai dampak sesuai takarannya.
Dialek "mlosdrong" ini memang kaya pemaknaan. Saya memang harus banyak berterima kasih kepada Yai Ribut Achwandi atas hal yang bisa menghangatkan ingatan jaman dahulu agar kini bisa diingat kembali.