Saturday, 14 September 2019

Cashing

Kembali lagi kita harus menggunakan jarak untuk menyebut diri kita sendiri. Bahwa ada disetiap manusia itu terdapat beberapa "casing" yang melekat dan digunakan sebagaimana posisinya berada. Bisa pula di dalam masyarakat Jawa telah mengenal istilah "empan papan" yang patut dijunjung tinggi keberadaannya.

Setiap "casing" mempunyai tugas dan perannya masing-masing. Ketika bekerja sebagai pemimpin perusahaan maka akan dibawanya sebuah kewenangan atas birokrasi atas bawah hierarki jabatan. Berbeda dengan waktu dan tempat lagi. Saat berada di rumah "casing" tersebut dilepas kemudian digantikan dengan jiwa kepemimpinan kepala keluarga di rumah.

Orang lain pun mengganggap batas kewajaran sebagai manusia yang lumrah. Apabila kesesuaian penggunaannya mempunyai ketepatan. Saat di tengah-tengah masyarakat "casing" sebagai warga sebaiknya disematkan sebagaimana rakyat biasa, bukan sebagai pemimpin perusahaan.

Gesekan-gesekan yang sering timbul dari sebuah pemaknaan "casing" adalah kurang memahami tingkat kepresisian waktu serta tempatnya.

Adakalanya rasa ketersinggungan sesuatu hal karena menganggap dirinya adalah subyek paling substansi. Misalnya menganggap bahwa segala langkahnya ketika terjun berada di tengah masyarakat adalah paling dihormati sebagaimana posisinya ketika di dalam perusahaan tempat bekerjanya. Ini sebuah fenomena yang kurang pas dalam kehidupan bermasyarakat dan perlu disadari bersama.

Telaten, Ngimpi karo Turu


Setelah sholat subuh, Lek Karyo tidak beranjak dari duduknya. Kepalanya menunduk hingga menjelang fajar. Kebiasaan itu membuatnya marah jika ada orang yang memberitahu bahwa sholat jamaah subuh telah selesai.
Maka sampai jam 6 pagi, ia dibiarkan duduk di masjid. Melihat Lek Karyo mulai tersadar bangun menuju teras mengambil sandal, Kang Drakim menghampirinya kemudian berseloroh.

"Wes tangi Lek Karyo?"
Mata Lek Karyo masih 5 Watt seakan nyawanya belum lengkap dari persinggahannya.
"Lha rumangsamu aku turu pok?"
"Lho kawit mau njagong karo metungkul anteng Lek?"
"Ohh....iku mau aku lagi ketemu bocah nom lagi takon masalah kerjaan"
"Sik...Sik...kok ampuh temen Lek,sampeyan?terusno ceritomu!"
"Bocah nom kuwi takon, piye carane dadi tukang buruh sing apik?"
"Banjur jawabanmu opo Lek?"
"Kowe kuwi nek takon koyo meh nagih utang, kesusu ora ono jeda ne!"

"Piye neh....penasaran kuwi karo ceritamu!"
"Tak terusno, lha kuwi bocah Kuwi takon masalah gawean. Yo aku tak jawab, bahwa kuncine kuwi ming andhap asor karo kudu telaten. Dadi aku mau ngomong sampeyan kudu ora usah sombong ben rezeki ilmu karo rezeki konco kareben melu. Banjur memang kudu telaten, ojo kakean sambat, kudu sabar lan jembar penggalih. Ojo gampang nesunan karo tersinggungan kadang Gusti kuwi maringi masalah kareben munggah derajate. Milo memang kudu telaten ngisor karo nduwur.

"Ohhh....bocahe piye Lek Karyo?"
"Nek wes ngunu bocahe sungkem karo aku. Terus aku ngomong maneh. Aku nerimo sungkemu kareben sampeyan ora kecewa wes berusaha ngurmati aku. Tapi sejatine aku ora duwe opo-opo biso ugo ujianmu luweh ampuh ketimbang ujianku dadi ora susah gumunan, nganggep aku wong sing paling ampuh. Aku karo sampeyan podo kabeh. Sing mbedakno amal bakti kanti ikhlase ing ndunyo".
"Nah kuwi mau bocahe numpak opo Lek Karyo?"
"Mau bocahe numpak motor matik jaketan ireng"

"Lha kok aku ora weruh Yo?"
"Kandangi owg, bocahe cepetan soale ameh mangkat kerjo"
"Tapi aku kawit mau neng kene ora weruh! tenan kuwi."
"Nah kuwi, teko karo lungane pas aku lagi metungkul karo njagong"
"Nah, Kuwi sampeyan lagi ngimpi Lek?"
"Lho....aku kan ora turu?"
"Piye tho? Nek ngimpi mesti turu kan?
"Yo durung mesti, aku ngimpi tapi sarungku ora teles, Drakim! Aku ora turu kan?"
Seketika itu Lek Karyo meninggalkan masjid. Kang Drakim masih berdiri bingung mikir istilah "ngimpi karo turu".

Setor KTP


Atas kejadian di bank kemarin siang, Lek Karyo sampai ke rumah bergumam, mulutnya mecucu, komat kamit menahan misuh, pengen protes terhadap peraturan penunjukan KTP. Sifat Lek Karyo tidak sabar hanya ketika ada peraturan yang tidak lumrah. Termasuk keganjilan kemarin yang membuatnya sedikitnya meradang.

Bermula saat setelah mengantri 20 menit, Lek Karyo maju menuju arah teller. Setelah Mbak berwajah tirus bertubuh semplohay itu memanggil nomor antrian A-106. Mukanya menampakkan keramahan yang dipaksakan karena SOP membuat senyum Lek Karyo agak keki.

"Selamat siang bapak"
"Siang mbak"
"Dengan saya Painem, ada yang bisa di bantu?"
"Iya Mbak Inem, saya mau setor nabung ke rekening saya"
"Oiya bapak, maaf KTP nya ada?"
"Lho sekarang pake KTP tho?maksudnya apa? Apa kurang cukup hanya dengan buku tabungan?"
"Iya bapak, ini peraturan baru di kami. Nasabah harus menyerahkan bukti KTP"
"Terus pentingnya apa mbak bukti KTP? sementara ini saya ini mau setor uang 600 ribu buat bayar setoran gubuk saya. Kecuali kalau mau narik saya izinkan Mbak Inem melihat KTP saya, bagi saya itu privasi tidak sembarang mudah diperlihatkan". 

"Sebenarnya untuk otoritasi kepercayaan saja pak buat kami"
Bagi Lek Karyo masih jawaban simpel. Jawaban yang mewakili pihak bank belumlah cukup bagi dia.
"Sebentar....atas alasan otoritasi kepercayaan? selama ini saya sudah menjadi nasabah 10 tahun mbak. Ini tahun ke-11 saya. Angsuran saya rutin, kalaupun telat karena batas akhir pembayaran adalah tanggal merah. Kalau bukti buku tabungan itu tidak cukup membuat bank percaya dengan saya. Mending saya akan ganti bank mbak kalau gitu. Karena sebenarnya pinjam meminjam itu atas kerja sama saling menguntungkan dan dilandasi kepercayaan. Jika itu pihak bank sudah tidak mempercayai saya mengapa harus berlanjut?"
"Sabar pak....bukan berarti kami tidak percaya, tapi memang ini peraturan"

"Lho peraturan kan dibuat atas dasar yang konkrit mbak? begini lho....bank ini kan mengeluarkan buku tabungan sedang buku tabungan adalah hal privasi. Penunjukan KTP ini seharusnya bagi yang nasabah tidak sesuai dengan buku tabungan. Sedangkan jika nasabah buku tabungan sesuai dengan namanya tidaklah perlu harus menunjukan bukti diri"
"Nah itu pak agar bisa menyinkronkan pemilik buku dengan pemilik asli kami perlu bukti", jawab mbak teller tersebut. Lek Karyo mulai meradang.
"Saya tegaskan ya mbak...Saya ini mau setor lho mbak, jujur saya keberatan jika mbak memperlihatkan KTP saya. Kalau saya mau ambil uang, why not? Saya serahkan sebagai verivikasi. Lha ini saya mau setor kok ribet banget harus pake KTP segala. Saya baru kali ini menjumpai bank serewel ini lho mbak peraturannya".
"Nah itu pak, kalau bapak tidak bersedia menunjukan KTP ada alternatif lainnya pak. Yaitu model transfer, jadi tetep masuk saldo tapi tidak dicetak dibuku tabungan."

"Lantas, buku tabungan ini tidak berarti ya mbak?"padahal saya mau setor nabung aja lho mbak. Saya kok geli campur pengen marah kok peraturan aneh ya? saya di bank ini jadi orang bego."
"Iya pak betul"
"Betul gimana?aneh ya?nasabah mau nabung sudah bawa buku tabungan. Masih saja pihak bank belum percaya atas kepemilikan buku itu. Selama 10 tahun saya dipercaya sebagai nasabah, angsuran saya rutin. Di tahun ke 11 ini saya mau setor nabung, hanya karena kurang KTP transaksi batal"

"Maaf pak ketidaknyamanan peraturan ini pak"
"Saya ini legowo mbak jika memang masuk akal. Misalnya menunjukkan KTP jika mau mengambil. Ini saya masih mentolerir. Lha ini saya mau nabung di buku tabungan saya. Kok pihak bank bersikeras. Apa jaminan bahwa KTP saya tidak disalahgunakan?"
(Mbaknya tellernya terdiam)
"Gini saja mbak, besok saya akan ganti bank yang lebih simpel dari bank yang tidak se rempong ini, makasih".
Lek Karyo meninggalkan bank, sebagian nasabah lain tercengang melihatnya.

Kebijakan Yang Dipesan


Jari kanannya Lek Karyo, terselip satu batang rokok, beliau duduk di emper pos ronda samping rumahnya. Kebetulan di seberangnya ada lapangan badminton sederhana. Setiap malam orang kampung sering mengadakan latihan di sana.
Malam ini, Lek Karyo masih malas latihan. Niatan itu bagi dia sebagai bukti empati miris atas kabar yang sedikit menyinggung hobinya, yaitu badminton. 

Kabar tersebut didengar saat rekan latihannya cerita, bahwa ada penonaktifan pihak sponsor beasiswa prestasi skala nasional tersebut berasal dari perusahaan rokok.

Lek Karyo memilih diam, tapi lantas diamnya beliau menjadi batu yang berpikir. Sebenarnya apa yang terjadi pernyataan tersebut bisa mencuat di permukaan publik. Tiba-tiba dari arah utara Bung Kusno mendatangi Lek Karyo kemudian menghampirinya,
"Ngopo Lek Karyo ngelamun wae?"
"Weruhmu aku Iki ijeh opo?rumangsamu kowe ora duwe mripat?"
"Wuih...erosi temen Lek Karyo, ojo nesunan tho, mundak cepet tuo keno struk!"

"Aku iki ora nesu ming gregetan, ngopo aku ora sugeh".
"Nek diganjar sugih, emange meh nadhar opo Lek Karyo?"
Sejenak, batang rokoknya dihisap dari tanganya. Tak lama kemudian....Bulll.....asap rokoknya membumbung tinggi keluar dari mulut, kemudian melanjutkan pembicaraannya.
"Nek aku sugih, bondoku meh tak kanggo ngenehi beasiswa atlit berprestasi, aku meh shodaqoh kanggo Indonesah".
"Kok serius men Lek Karyo?"

"Nah, lha Iyo semisal kekayaan pribadi kuwi kebijakane duwe otoritas dewe ora gumantung karo liyane".
"Menurut Lek Karyo kebijakan sing pernah resmi dadi peraturan itu mesti ono sing pesen Lek?"
"Pertanyaanmu iku polos nemen Kusno!"
"Aku ora wani eksekusi jawab masalah rokok karo beasiswa"
"Aku dituntun pasal hoax kowe wani tanggung jawab?"

"Lha terus?"
"Prinsipe ngene bahwa kebijakan enek hubungane instansi profit (menguntungkan) kuwi akeh sing bermain neng njerone."
"Walah aku tambah sansoyo ora mudeng Lek Karyo".
"Gampang ane ngene Kusno! Sampeyan pas servis motor neng bengkel resmi kuwi disaranke kareben nganggo part sing standar resmi tho?"

"Hooo....ooooh...."
"Nah kuwi, pihak mekanike melu ngeramekke pasaran part sing resmi kareben payu".
"Banjur hubungan opo Lek Karyo?"
"Kebijakan mekanik kuwi ono sing pesen seko pihak penjual part. Semakin part-e akeh payu pendapatan e semakin akeh"
"Ngunu?"

"Nah kuwi sebagian contohe sih neng lembaga standarisasi. Dadi pihak obyek pengawasan selepas disurvey, mesti ono hubungan transaksi berkelanjutan. Minimal matuhi saran kanggo tuku tambahan alat utowo sak piturute".
"Ngono tho Lek Karyo? Sampeyan ampuh tenan", sembari manggut-manggut.
"Begitupun kebijakan yang ada hubungannya dengan lembaga standarisasi. Ada resolusi rendah yang sulit dicapai masyarakat awam untuk melihat seberapa murni kebijakan itu dihasilkan".
"Tak mat-matke sampeyan koyo Pak Mario Lek Karyo"
"Soriiii kenceng....rambutku gondrong, Kusno!", Lek Karyo agak jengkel, Bung Kusno tertawa geli, di depan pos ronda.

Perokok Dalam Pergaulan


Perokok itu lebih luwes dalam pergaulan. Hal yang lumrah untuk membuka obrolan bagi yang baru pertama kali kenal yang ditawarkan bukan profilnya kepribadian. Melainkan sebungkus rokok yang barusan dibuka kemudian ditaruh di atas meja. Itu sudah bisa sebagai tolok figur karakteristik seseorang. Ini pembuktian bahwa kualitas laki-laki atas sisi keterbukaannya.

Sedang mereka yang tidak merokok terkesan kaku. Canggung mau bawa camilan kok terkesan kemaruk. Mau membawa permen seringnya kelupaan.

Ini tentang hal lain perokok dipandang dari kebiasaan etika bersosial kaum laki-laki. Beda lagi jika dipandang tentang efeknya. Saya kira bagi anti rokok tulen, tidak akan membuka ruang berpikir jika memang belenggu keluasan itu memang sedari sudah dibatasi.

Terakhir, ada yang anti rokok tapi tidak serta membenci perokok karena mereka mau belajar bahwa rokok bukan hanya asap, melainkan sederet kebijakan, otoritas, perizinan, peraturan, sponsor, komoditas, tenaga kerja, ciri khas dan kedaulatan seseorang. Kecendrungan model anti rokok ini, lebih bisa menempatkan diri bukan menuntut orang lain secara masif.

Conflict of Interest


Sepulang berdagang Lek Karyo makan di angkringan. Setelah satu bungkus nasi kucing dilahapnya. Mata Lek Karyo fokus membaca tulisan koran bekas dari bungkus nasi tersebut.
Yudi berawakan cungkring yang tak lain penjual angkringan mengamati tingkah polah bapak yang hobinya udud klempas-klempus itu.
"Samepeyan serius temen Lek?"
"Iyo aku Iki moco tentang conflict of interest kok menarik"
"Nama jajanan opo Lek? Kok istilahe angel temen?", sergah Yudi.
"Husssshh...Iki masalah birokrasi"
"Kemaki samepeyan Lek Karyo, ini opo tah?Indonesia iki wes akeh konflik mbok ojo ditambahi konflik maneh"
"Aku yo kadang keder Yud, golek istilah kadang hakikate bagi orang awam susah dipahami"
"Oh....penting ngunu Lek Karyo makna conflict of interest?Jan-jane opo tho?", dahi Yudi mulai berkernyit.
"Pokoke pertentangan kepentingan utowo konflik kepentingan. Kudune kepentingan kuwi ngulon lempeng biso dibeloke ngidul, ugo ngalor, biso mbalik ngetan, biso juga mubeng-mubeng ora tekan nggone"
"Nah kuwi biasane konflik kepentingan kejadiane ning ngendi?"
"Neng endi bae disemua lini tapi khususe sebagai pelayanan publik dan perusahaan negara utawa swasta"
"Aku dadi tertarik kadi omonganmu Lek Karyo, sampeyan sebagai wong awam kok susah memahami hakikate konflik kepentingan kenopo?"
"Nah kuwi, aku sebagai wong awam, kok bertanya-tanya penggunaan kata konflik kepentingan".
"Kok ambigu nek sebuah kantor tidak ada kepentingan. Setahuku berbagai kantor dan perusahaan mesti neng ruangan tertulis YANG TIDAK BERKEPENTINGAN DILARANG MASUK. Berarti sing neng Jero kantor utowo perusahaan pancet isine tetep wong berkepentingan kabeh"
"Nah kuwi Lek Karyo maksude tiap masing-masing karyawan ojo nganti ngutamake kepentingan pribadine kejobo kepentingan kantor", Yudi berseloroh.
"Ngunu tho Yud? Tumben pikiranmu mletik ora koyo biasane?"
"Iyo...aku yo nduwe konflik batin yang tak kunjung sembuh"
"Lha opo Yud?"
"Konflik tuna asmara Lek!"
"Dasar semprulll.....!!" Lek Karyo pamit sembari meninggalkan kedai angkringan.

Tanpa Bawahan


Namanya Lek Karyo ada-ada saja akalnya. Memang karakternya uniknya dia engga banyak omong. Tingkahnya bagi orang yang melihatnya bikin aneh. Namun dibalik semua itu dia ingin sekali menyampaikan pelajaran.
Suatu ketika saat diundang di pesta pernikahan anaknya Pak Camat, tingkah Lek Karyo kembali menuai galak tawa hadirin yang datang. 

Saat semuanya datang dengan berbagai kostum resmi. Lek Karyo hanya menggunakan jas berwarna hitam dan celana kolornya ada cap tepung gandum segita biru. Tak ada yang tak tertawa melirik pakaian Lek Karyo. Ada yang malu-malu menahan senyum, tapi akhirnya terlepas juga tawanya terbahak-bahak.
Pihak EO acara tersebut melarangnya. Namun, karena pihak Pak Camat mengerti kebiasaan Lek Karyo beliau mengizinkannya masuk. EO pun menyerah, akhirnya Lek Karyo masuk ke dalam gedung tanpa pengawalan dari siapapun.

Sontak, disesi acara salaman seluruh tamu yang datang matanya tertuju ke hadapannya. Tanpa basa-basi Lek Karyo berjalan naik pelaminan, menyalami kedua mempelai pengantin tak lain adalah anak dari Pak Camat.
Respon Pak Camat sendiri tidaklah canggung, wong dia sudah kenal sekali dengan Lek Karyo. Tapi malah tiba-tiba Pak Camat menyetop pihak MC agar memberikan mikrofon kepada Lek Karyo memberikan ucapan selamat kepada mempelainya.
Setelah mikrofon diserahkan kemudian dari pojok kanan pelaminan Lek Karyo berkata,
"Selamat siang tamu undangan...."
Seluruh tamu menjawab sapaan dengan tertawa lepas
"Sungguh, tak ada kebahagian yang luar biasa yang Anda rasakan setelah melihat saya. Saya pun bergembira melihat Anda bisa tertawa lepas"

"Betul sekali, bahwa sengaja siang ini saya tidak memakai bawahan celana panjang. Agar Anda ini selalu tersadar bahwa menjadi bawahan itu bukan hal yang hina. Bahkan menjadi penyelamat dari potensi kehinaan itu sendiri".
Seketika itu suara tamu resepsi hening tak ada lagi tertawa sedikitpun dari hadirin yang datang.
"Saya kira pastinya Anda ini pernah membicarakan Pak Camat di belakangnya. Tanpa sepengetahuan Pak Camat Anda ini sering "ngglendengi" beliau. Anda sering su'udhon terhadap beliau. Bahkan ketika mendapatkan tugas dari Pak Camat, seringnya mengeluh, merasa hina menjadi bawahan".
Respon tamu bermacam-macam beberapa tamu yang tertunduk merasa bersalah.

"Sekarang Anda semua harus mengerti bahwa posisi Anda sebagai bawahan tidak sedangkal yang Anda pikirkan. Posisi Anda sangat vital dalam mencapai kesempurnaan kehormatan. Buang sifat rendah diri. Biasakan berkompromi dengan atasan dalam kadar kebaikan"
Suasana haru biru mendengar Lek Karyo terus memberikan nilai-nilai budi pekerti kepada staf bawahannya Pak Camat. Setelah mencapai puncak nasihat. Maka Lek Karyo bertanggung jawab mengembalikan momen nuansa acara kebahagiaan seperti semula. Di akhir pidatonya Lek Karyo kemudian berujar.

"Namun, semua ini sebenarnya bukan hal unsur kesengajaan. Kalau boleh saya bercerita bahwa tadi pas perjalan menuju gedung ini. Celana saya kecantol kawat keranjang bakul sayur. Akhirnya saya terpental, hingga celana saya robek hampir terbuka semuanya. Biar engga telat buru-buru saya lepas dan hanya celana pendek ini yang tersisa"
Suasana pesta kembali riuh. Semua hadirin bersorak tepuk tangan. Ada pula yang melempar botol air mineral ke kepala Lek Karyo.
"Dasar Lek Karyo, edan", ucap teman satu letingnya pas SMA.