Wednesday, 12 October 2016
Kopi Tempel bagi Pengguna Media Sosial
Saturday, 8 October 2016
Membeli Pupuk Kandang dibayar Emas
Friday, 7 October 2016
Kebanggaan dari Salaman (2)
Wednesday, 5 October 2016
Kebanggan dari Salaman (I)
Siang yang panas, polusi kendaraan jalur pantura menemani perjalanan menuju agen travel di jalan Jendral Sudirman Pekalongan. Rupanya ada tamu istimewa yang telah sampai di Pekalongan. Sering Saya panggil Dodok, hari ini menyempatkan bersilaturahmi dari rutinitas sehari-hari.
Kira-kira sudah 15 menit Dodok sudah menunggu, sebelumnya rencananya agar turun di daerah Bendan agar aksesnya lebih mudah. Ternyata kemacetan menjadi alasan travel tidak bisa memasuki area Kelurahan Bendan. Akhirnya Dodok memutuskan segera meminta jemputan melanjutkan perjalanan.
Sampai pukul 13.50 WIB akhirnya telah sampai di Kelurahan Bendan. Kejadian mendadak hingga tidak bisa menukar jadwal kerja pada akhirnya Saya tetap mengajak Dodok menungu hingga pekerjaan selesai.
Terasa sudah rasa kebersamaan kembali terukir bersama mengingat kembali kenangan sewaktu kuliah. Meski hanya Dodok yang sering komunikasi sudah merasa senang betapa berharga arti sebuah pertemanan.
Magrib berkumandang bergegaslah kembali mengingat-Nya pergi ke masjid. Saat setelah kewajiban ditunaikan, selanjutnya mencari sesuatu yang bisa disantap malam ini. Nasi goreng menjadi arah tujuan pertama, namun kenyataannya tidak berpihak karena penjualnya masih belum memai dagangannya. Pada akhirnya nasi rames pilihan terakhir bekal makan malam dengan dibungkus dan tempe goreng panas khas Bu Ndud Podosugih.
Menjelang pukul 21.00 segera bersiap pulang, namun kesempatan mencari titik keramaian masih ada. Pekan batik nusantara di GOR Jetayu Kota Pekalongan menjadi agenda tahunan yang pada malam itu ada even peragaan busana di depan Museum Batik Pekalongan.
Sebelum menuju rumah memang sengaja Saya mengajak Dodok mengintip acara pameran walaupun hanya sebentar agar rasa penasaran bisa terobati. Akhirnya telah sampai di samping venue peragaan busana yang semakin malam masih tetap ada pengunjungnya.
Rasa capek dan mengantuk sudah mulai terasa. Mulut terus menguap sebagai tanda tubuh mulai merasakan ingin direbahkan. Maka keputusan pulang ke rumah akan lebih nikmat agar segera beristirahat. Sesampainya di rumah Ibu dan kakak sudah menyambut kedatangan serasa capek dan kesemprawutan akibat perjalanan terasa lebih ringan.
Rambut Pirang
Kaos oblong masih dipakainya Dharma menunggu Yono saat itu akan menunaikan tugas ronda. Kepulan asap rokok keluar dari mulutnya, secangkir kopi hitam pekat menemani diatas meja bundar didepan rumah. Lalu benaknya merasa keheranan dengan tetangga rumah yang selalu meniru gaya-gaya orang kota.
Meski malam semakin dingin Dharma terus menerawang kegiatan siang hari. Pemandangan rambut pirang tak berani menyebut efek warna rambut atau memang benar-benar efek berlebihan terkena sinar matahari. Rasa heran semakin menjadi tatkala kebiasaan bermusik ria sekedar mendengarkan lagu namun tetangga kanan kiri turut merasakan dentuman bass tiap bait lirik lagunya.
Meniru sebuah identitas hidup diluar kewajaran manusia dipandang menjadi nilai lebih dimasyarakat. Disaat semua yang dilihat melalui tayangan atau jejaring sosial menjadi ukuran manusia biasa menjadi manusia yang dianggap mempunyai nilai lebih.







