Wednesday, 10 August 2016

Pernyataan Pelayanan Konsumen

Produsen donat memproduksi donat original gula putih dg berbagai variasi warna dan variasi bahan toppingnya. Meises, kacang coklat, coklat putih dan lain sebagainya. Tentunya semakin banyak dan rumitnya variasi donat akan semakin mahal.

Setelah itu kepada khalayak umum berkata, "Saya tidak membedakan cara membuat donat yang beraneka ragam tersebut".

Pernyataan yang bias, dapat membingungkan publik. Sepatutnya mengatakan, "Saya tidak membedakan cara membuat donat yang beraneka ragam, namun harga donat bergantung dengan variasinya".



Kebijakan

Tidaklah menjadi rahasia umum apabila kebijakan dibuat untuk menghasilkan keuntungan. 
Dengan dalih kemajuan peradaban dan efisiensi konsumen peraturan demi peraturan kini ditegakkan.
Mereka pun sadar peraturan yg dibuat terkadang bertolak belakang dg peraturan lain.
Karena prinsipnya ada keuntungan yg menjanjikan dibalik pembuatan kebijakan. 

Adanya suatu permintaan masyarakat tinggi disitulah kebijakan dibuat. Penguasaan sektor terkecil pun diserahkan kepada perusahaan besar. Maka sangat pantaslah rakyat menjadi tulang punggung bagi pekerja birokratnya.

Sangatlah malu kepada anak-anak Pramuka Siaga dg menyuarakan Cinta Tanah air.

Namun ketika Ayahnya akan pergi keluar kota naik kereta api, ia harus rela membayar "tanah nya sendiri" dg tarif melebihi harga tarif parkir di daerahnya.

Ngapurancang

Adalah sikap dalam budaya Jawa dengan posisi berdiri tegak, kaki agak direnggangkan,kedua tangan berada dibawah pusar tangan kiri memegangi tangan kanan, dengan rasa kerendah hatian menghormati orang lain.

Ngapurancang sebagai tanda bahwa budaya Jawa menjadi sikap menghormati kebudayaan lain sebagai keanekaragam bangsa yang sejati. 

"Dedhalane guno lawan sekti"
"Kudu andhap asor"
"Wani ngalah, luhur wekasami"



Sisi Lain Pria Berkacamata

Berkacamata bukan pilihan untuk memakai atau tidak namun sebuah kebutuhan individu dalam menyikapi sebuah kekuarangan terkecil dari indera penglihatan. Tidak menyampingkan fungsi semua organ di tubuh manusia, sejatinya semua menjadi hal terpenting dan saling berkoordinasi satu sama lain. Mata berbentuk bulat oleh karenanya letak mata sebagian ada yang tampak dari luar tubuh dan sebagian lain berada didalam tulang mata. Kelainan mata bersifat bawaan dari lahir, penyakit ataupun kebiasaan menyebabkan terganggunya fungsi mata tersebut.


Banyaknya  seseorang yang penglihatannya terganggu mereka lebih memilih menggunakan alat bantu lensa yang bernama kacamata. Pada seorang laki-laki berkacamata pada mulanya terasa enggan menggunakannya meskipun kelainan mata telah mulai tampak seperti keburaman membaca tulisan,  masalah jangkauan penglihatan dan lain sebagainya. Merasa kurang bebas adanya alat bantu yang terus menempel di hidung dan telinga kemanapun berada harus memakainya, seakan keharusan dalam menjalankan aktifitas. Ada sisi lain dari pria berkaca mata diantaranya :

Kacamata menjadi alat bantu penglihatan paling nyaman
Kacamata hingga sekarang menjadi pilihan yang paling nyaman dibanding dengan softline yang ditempelkan langsung dengan bola mata. Selain harus bersinggungan langsung dengan mata alat bantu berjenis softline mempunyai masa expired dalam hitungan bulan sehingga penggunaannya terbatas waktu. Ada tindakan lain seperti tindakan kedokteran menggunakan sinar lasik pada umumnya dapat merogoh kocek yang sangat mahal. Kaca mata  dapat melengkapi dari kelemahan keduanya yaitu secara penggunaanya diluar mata dan relative harga kacamata lebih terjangkau dari semua kalangan.

Penyebab utama gangguan mata bukan hanya dari aktifitas membaca
Menggunakan jarak aman antara mata dang tulisan sekitar 30 cm jangan terlalu dekat maupun jauh.
Menjadi salah satu usaha untuk menjaga kesehatan mata. Selain itu, posisi membaca harus benar-benar rileks, bukan berarti bisa sambil tiduran. Penyebab selanjutnya yaitu kecerahan layar monitor komputer dan handphone dapat menimbulkan kelelahan syaraf mata disaat berhadapan secara langsung.

Pengguna kacamata bisa menyebabkan candu atau ketergantungan
Berkacamata menjadikan semua aktivitas harus bersanding dengannya. Boleh dikatakan hanya disaat dikamar mandi dan akan menjelang tidur kacamata itu dilepas. Kebiasaan berkacamata menjadi rasa kurang nyaman apabila ditinggalkannya. Semakin sering memakai kacamata maka semakin besar pula kemungkinan terjadi ketergantungan dalam berkacamata.

Pria berkacamata akan merasa ribet saat bereksplor dengan kegiatan outdoor
Bagi pria yang hobi kegiatan outdoor seperti bertualang, besepeda, medaki dan lain sebagainya rawan dengan keadaan alam  seperti hujan, embun, atau rintangan semak-semak. Apabila hal itu terjadi rasa ketidaknyamanan pasti akan dirasakan meskipun harus berkali-kali menghidarinya.

Pria berkacamata akan susah disaat memasak
Tentunya seorang pria terkadang dihadapkan dengan pekerjaan yang biasanya perempuan lakukan yaitu memasak. Seorang laki-laki berkacamata terkadang masih menggunakan kacamata disaat memasak. Pada suatu saat ketika ia membuka tutup panci tak sengaja seluruh uap keluar menyapu seluruh wajahnya termasuk bagian kacamata yang tertutup uap air . Seketika itu pula seorang laki-laki harus mengusapnya.


Ada tambahan lagi monggo silakan!

Sunday, 7 August 2016

Blangkon Keluwesan Berbusana

Lek Naryo pagi itu sudah disuruh istrinya membeli nasi megono tepat di warung Lek Juminten yang terkenal dengan megono sangitnya. Sambil tergopoh-gopoh Lek Naryo berjalan seakan tidak ada spasinya meskipun menoleh kepala kesamping kiri maupun kanan. Belum sampai di warungnya tepat di depan KUD tiba-tiba Lek Pardi bertanya,

“Lek Naryo...”, sambil memanggil nada kencang.
“Kok sepertinya gugup sekali jalannya?”, tanya Lek Pardi yang sedang naik motor.
“Iya Lek Pardi mau beli megono di Warung Lek Juminten”,
“Kok buru-buru banget Lek Naryo”, Lek Pardi kembali bertanya.
 “Soalnya kalo gak cepat jalannya, nanti keburu ramai warungnya”, jawab Lek Naryo sembari menoleh ke arah Lek Pardi.
“Owalah...ayo ikut bareng saja kebetulan saya mau ke KUD sekalian”, pinta Lek Pardi yang kemudian disetujui oleh Lek Naryo.

Sesampainya di depan warung, Lek Pardi memakirkan motornya yang bersebelahan dengan sepeda Kang Wardoyo. Ternyata Kang Wardoyo sudah berada di warung lebih dahulu dibandingkan mereka. Lek Naryo merasa keget ternyata didalam warung sudah ada Kang Wardoyo.

“Lho...Kang War udah nyampe sini apa gak nyawah?”,
tanya Lek Naryo sembari melangkah duduk di kursi panjang.
“Udah Lek Naryo, hari ini masih nunggu kiriman air untuk tandur. Lha Lek Waryo sendiri kok tumben pagi-pagi betul sudah datang ke warung?” balas Kang Wardoyo.
“Anu Kang...istri mau ada acara arisan kebetulan yang ngunduh rumahnya jauh jadi berangkatnya lebih pagi...Lha sekarang saya disuruh beli sarapan megono”, ucap Lek Naryo sambil memilih tempe goreng nampan plastik di depannya.
“Ooo...begitu Lek Naryo?”
“Wah...hebat ya...istrimu bergaulnya dengan orang-orang kota arisan saja sampai harus berangkat pagi-pagi”, balas Kang Wardoyo menanggapi jawaban Lek Naryo.

Seketika itu juga Mbah Roso datang dengan tubuh membungkuk membawa sebuah tongkat kira-kira panjangnya 80 sentimeter dari kayu rotan. Tanpa basa-basi Mbah Roso masuk warung kemudian memesan nasi megono kepada Lek Juminten.

”Jum...Nasi megono satu ya, jangan dikasih sambel”, pesan Mbah Roso kepada Lek Juminten.
“Iya Mbah sebentar ya...Tak bungkusin pesanan Lek Naryo dulu”, jawab juminten.

Keadaan berbalik arah percakapan antara Lek Naryo dengan Kang Wardoyo setelah Mbah Roso datang. Tapi tiba-tiba Kang Wardoyo ingat kejadian semalam melihat Lek Dharma memakai blangkon menuju acara selametan ditetangga desa. Kang Wardoyo langsung bertanya kepada Lek Naryo yang jarak rumahnya dengan Lek Dharma bersebelahan.

“Lek Naryo...Aku mau tanya sesuatu tentang Lek Dharma”, sembari mengerutkan keningnya.
“Tanya tentang apa ya Kang Dharma?”. Balas Lek Naryo dengan rasa penasaran.
“Semalam itu saya melihat Lek Dharma memakai blangkon hitam dan pakaiannya juga hitam sampai celananya pun warnanya hitam”,
“Apa Lek Dharma ikut aliran kejawen Lek Naryo?” tanya Kang Wardoyo dengan nada pelan.

Lek Naryo masih diam sambil menghabiskan tempe goreng yang ada dimulutnya. Seakan dia akan segera ingin menjawab dari pertanyaan Kang Wardoyo.

“Lha kok Kang Wardoyo bisa tau kalau Lek Dharma ikut aliran kejawen?”, balas Lek Naryo.
“Ya itu kan kira-kira saja Lek Naryo makanya saya tanya, kali aja tau dengan kebiasaan Lek Dharma”, jawab Lek Wardoyo dengan nada sedikit penyesalan atas prasangka dalih atas perkiraan.

Mbah Roso yang duduk bersebarangan dari mereka secara tidak sengaja mendengar yang dibicarakan keduanya. Namun beliau seakan tak menggubris percakapan seakan menimbulkan sebuah tanya tanya yang belum terjawabkan.

“Lha menurutmu aliran kejawen itu lebih seperti apa Kang Wardoyo?”, Lek Naryo menimpali pertanyaan yang ditujukan kepada Kang Wardoyo.
“Ya sepertinya lebih mementingkan budaya jawa daripada agamanya yang aku tahu seperti itu”, pungkas Kang Wardoyo.
“Ohhh...berarti kalau ada orang yang suka memakai blangkon berarti urusan agamanya dikesampingkan seperti itu Kang?”, tanya kembali Lek Naryo.
“Yaa...kurang lebihnya seperti itu Lek Naryo”, balas Kang Wardoyo dengan nada bimbang.
“Apa coba tanya Mbah Roso saja yang mengetahui makna blangkon yang sesungguhnya?”, usul Lek Naryo disela-sela percakapan itu.

Pembicaraan mereka terasa buntu dalam menyikapi fenomena tingkah laku Lek Dharma yang akhir-akhir ini memakai blangkon. Terasa belum ada yang bisa memberi arahan secara positif dari hikmah pemberitaan tersebut.

“Pripun Mbah Roso menurut simbah?”
“Lek Dharma kok akhir-akhir ini sering memakai blangkon apa beliau ikut aliran kejawen ya mbah?”, ucap Kang Wardoyo seakan masih penasaran terhadap kepastian jawabannya.
“Aku kok dari tadi mendengar kalian bercerita mau tertawa sendiri”, jawab Mbah Roso.
“Lha kok malah tertawa tho Mbah?”, ungkap Lek Naryo merasa keheranan.
Sementara Kang Wardoyo seakan buntu tak berkata apapun setelah Mbah Roso mulai angkat bicara.

“Gimana gak ketawa sendiri, kekurangan kalian itu menilai berdasarkan pakaian seseorang sedangkan pakaian itu terletak hanya diluarnya saja. Bisa pula penilaianmu sesuai dengan tingkah lakunya bisa juga tidak sama alias berbeda”, suasana terasa ada pencerahan dari pitutur simbah.

“Sedangkan masalah blangkon itu tidak hanya dipakai oleh aliran kejawen lha dulu walisongo pun menggunakan blangkon sebagai wujud kecintaan budaya jawa. Jadi kalau Lek Dharma menggunakan blangkon bukan berarti mengesampingkan agama, tapi melestarikan budaya jawa sebagaimana ia bangga lahir dan hidup bersama budayanya”, pungkas simbah memberikan penjelasannya.

“Ohh...begitu ya Mbah...Saya baru mudheng dan saya lebih mengerti tentang menilai seseorang”, jawab Kang Wardoyo.

“Lek Naryo...ini nasi megononya 3 bungkus dan tempe gorengnya sudah matang ada didalamnya”, ucap Lek Juminten sembari memberikan bungkusan plastik kepada Lek Naryo.

Percakapan diantara mereka telah usai setelah Lek Naryo membayar pesanan nasi bungkusnya dan membawa hikmah pelajaran untuk selalu berhati-hati menilai seseorang dari sebuah penampilan semata.

****

(tidak ada hubungan antara penokohan cerita dengan foto, hanya untuk memudahkan bentuk blangkon)




Thursday, 4 August 2016

Seratus

Pertengahan April 2016 menjadi awal mula saya menulis di blog dari sekedar ingin mengasah kembali ketrampilan hingga menjadi kesukaan hampir mengisi tiap waktu senggang. Kurun waktu 4 bulan lebih, tulisan tersebut saya kumpulkan hari demi hari hingga mencapai seratus judul dari berbagai macam jenis karangan, prosa, reportase, puisi dan narasi lainnya.

Menulis sebenarnya dari SMA sudah saya minati, bercermin atas keberhasilan guru Bahasa Indonesia bisa menyampaikan mata pelajaran seperti layaknya bermain serta mengasyikan. Layaknya bermain identik dengan banyak sisi humorisnya yang dikeluarkan dari sela-sela penyampaian ilmu kepada siswa.  Dari situlah bibit ketertarikan tentang Bahasa Indonesia sudah mulai ada. Puncaknya guru tersebut pernah menyarankan kepada saya untuk masuk ke perguruan tinggi lebih ke arah jurusan sastra Bahasa Indonesia. Keadaan berbanding terbalik ternyata peminat dari jurusan tersebut sangat banyak akhirnya saya mengurungkan niat tersebut. Pada akhirnya hobi itu muncul kembali dengan dukungan satu buah netbook dan media bloger sebagai fasilitas aktifitas menulis sehari-hari.

Motivasi paling utama kegiatan menulis adalah perbaikan hidup dalam diri agar menjadi pribadi yang baik. Menulis dapat mengajarkan kegiatan positif, merangsang otak bekerja denga mensinkronkan pemikiran dengan pemilihan tata bahasa yang diaplikasikan dalam sebuah tulisan. Sudah menjadi kebiasaan bagi saya apabila otak tidak biasa diperas kemampuannya maka kemampuannya bersifat stagnan tidak bisa menyalurkan ekspresi diri manusia. Oleh karenanya kegiatan menulis sangat cocok dijalani bagi siapapun dan saya termasuk orang yang paling lambat memanfaatkan aplikasi Blogger sebagai  wadah mengapresiasikan segala kemampuan manusia khususnya melalui karya sastra.

Manfaat dari kegiatan menulis lebih mengingat dari yang sudah terjadi serta mengambil sisi pelajaran hidup dari apapun disekitar kita. Lebih bisa berlatih memenuhi kewajiban harian menulis sesuatu di blog agar postingan lebih rutin bagaikan seorang wartawan harus menulis beritanya kemudian harus menyerahkan kepada editor surat kabar.

Tantangan menulis dikesehariannya lebih cenderung kepada keadaan fisik seperti kelelahan seringnya belum dapat memposting tulisan pada malam harinya. Keadaan seperti itu tidak dapat memenuhi target satu hari satu postingan, biasanya keesokan harinya tetap menulis untuk hari itu saja. Sehingga jumlah dalam satu bulan tidak sampai 30 postingan, namun tidak masalah yang terpenting masih mempunyai cita-cita yang lebih baik.

Harapan terbaik agar bisa menjadi seseorang yang lebih bermanfaat sesuai dengan kemampuan disetiap keadaaan. Menulis sebagai ajang tukar pengalaman dari seseorang yang dapat dibagikan kepada orang lain. Bayangkan saja setiap pengguna media sosial tiap hari dapat memposting pengalaman atau pemikirannya maka oran lain dapat mengambil sesuatu yang dituliskannya tadi. Betapa sangat beruntungnya bisa membuat orang lain bisa tersenyum minimal bisa mengambil sisi positifnya dar kehidupan penulis. Semoga itu bisa terjadi disetiap postingan yang hampir tiap hari saya unggah dan setiap orang yang gemar membaca suatu saat pasti akan menyukai aktifitas menulis.

Wednesday, 3 August 2016

Titik 0 Cahaya Lentera

Dharma mulai menginjakkan kakinya di jalan, sudah seperempat jam lebih beristirahat di sebuah masjid. Sosok pemuda mengenakan baju putih dengan segala penat di wajahnya dengan sepeda kuning dibiarkan berada di samping tembok pagar. Lalu ia pun duduk diatas lantai menghadap selatan dibukanya sepatu seakan bergegas ke tempat wudhu.

Langkah kaki berjalan sembari sesekali tangan memastikan kedua saku celana membawa sebuah telepon genggam diraihnya keluar tak lama kemudian dimasukan kembali. Lagi-lagi ia mungkin teringat sebuah peringatan harus mematikan telepon gengam di dalam masjid. Wajahnya kembali segar setelah berjalan dari lorong belakang tempat wudhu, bergegasnya masuk melalui pintu pertama menuju shaf.

Dharma mengurungkan sebuah niatnya meninggalkan rasa nyaman beristirahat. Rasa kantuk belum selesai pergi dari sepoinya angin melelapkan serasa mulutnya berkali-kali menguap tak tertahankan.
Kaki Dharma lurus telentang setengah badannya bersandar disebuah tembok. Hilir mudik para jamaah lainnya tak menghiraukan pasrahnya keadaan mempersilakan semuanya melewati begitu saja.

“Permisi pak...”, laki-laki itu melewati kedua kakinya.
“Iya silakan...mas”, Dharma pun terus meneliti gerak geriknya.
“Sering datang ke masjid ini Pak?”, tanya pemuda kepada Dharma.
“Gak juga kok mas, kebetulan kali ini lewat sini sekalian dhuhuran aja”, jawab dharma seakan bahagia bisa berkomunikasi dengan pemuda yang dalam hati sangat penasaran.
“Mas sendiri sering mampir kesini ya?”, Dharma membalas bertanya.
“Kalo sering sih gak juga Pak, tapi kalau ada waktu luang, ya langsung kesini”,
 “Bapak dagang dimana kok bawaannya lumayan banyak ya?, pemuda itu antusias dengan percakapannya dengan Dharma.
“Iya hari ini pasaran mas, jadi bawa dagangannya rada banyak ”,balas dharma.
“Mas nya kerja dimana jam sekarang masih istirahat ya?”
“Kerja disebelah masjid sini Pak, kalau kerja ku gak ada istirahatnya jadi kalo kerjaan kosong baru bisa keluar ke masjid”, jawab pemuda sembari membetulkan celana yang dilipatnya.
“Ohh...begitu ya mas, tapi aku baru lihat mas anak muda yang mau naek sepeda, kerja kantoran lagi kok ya masih ada ya ternyata”, ucap Dharma merasa keheranan.
“Iya pak...sepeda ini hanya satu-satunya alat transportasi di rumah”,
“Kemaren aja sebelum aku lulus kuliah sepeda ini sering digunakan Ibu ku ke bank untuk mengirim uang, jadi kurang sopan jika aku tidak merasakan jerih payah ibu”, pemuda itu bercerita kepada Dharma.
“Emm....gak mengira ya mas, ternyata manusia perlu proses juga”,ujar Dharma mengambil hikmah dari cerita tersebut.
“Pak saya pamitan dulu ya, udah lama aku disini”, pemuda itu bersalaman dengan dharma.
“Iya mas silakan, aku juga mau kembali ke pasar, yuk sama-sama pulang”, jawab Dharma sambil mengambil sandal  jepitnya.

Sesegera pemuda mengambil sepatunya siang mulai berjalan terasa pertemuan harus segera berakhir. Pemuda itu pun berpamitan dan Dharma beranjak keluar membawa sepeda yang penuh barang dagangan. Percakapan mereka berakhir setelah mereka beranjak dari lantai masjid.