Saturday, 19 October 2019

Ngglendengi


Celana kumal warna putih Lek Karyo kini tak berwarna. Kebiasaan berpakaian ini tak lepas dari hidupnya. Memang begitu, setiap membeli celana baru, mesti dilumpuri oli bekas yang ia minta dari bengkel Amin tetangga samping rumah.
Setelah dilumuri oli, biasanya sejenak ia rendam kemudian dikeringkan. Lek Lastri hanya geleng-geleng melihat kebiasaannya itu. Tapi biarlah, yang penting dia engga selingkuh, cukup membuatnya tenang, dalam hatinya ia berbicara begitu.
"Iya bu....mana ada, perempuan yang akan mau selingkuh dengan pakaian beginian?", jawab Lek Karyo.
Seketika itu Lek Lastri kaget.
"Lho Pak, emang dengar aku ngomong apa?"
Lek Karyo terkekeh mendengar respon istrinya. Melihat kelebihan bisa membaca gelagat bahasa tubuh pasangannya. Lek Lastri selalu berhati-hati. Ia tak pernah membicarakan aib suaminya meskipun hal terkecil, yaitu rasan-rasan dalam hati.

Rayahan


Sebelum meninggalkan tempat duduknya saya bersama Lek Karyo sempat ngobrol bareng dengan Kang Drakim.
"Sak benere sing dadekno wong podo rayahan kuwi mergo jumlahe sitik apa sing menarik menurutmu Kang?", tanya Lek Karyo.
"Walah....Yo biso loro-lorone kabeh Lek. Sing ngge rayahan wujude akeh. Tapi sing mesti sifat asline menungso kuwi serakah. Tegese senajan wis kaduman mekso njaluk maneh. Nek biso malah pengen nambah", tukas Kang Drakim.
"Yo mesti ya, nek manungso serakah jumlahe siji bae akeh gawe masalah. Apa maning sing serakah akeh banjur bareng-bareng. Pantes akhire pada kebyek tansoyo kebelinger, tukaran ngalahke ajining awake", jawab beliau sembari manggut-manggut
Saya hanya diam memahami percakapan mereka.

Pesan Sebutir Nasi


Saat istri Lek Karyo menyiapkan sarapannya. Ada peristiwa yang cukup mengesankan bagi saya. Setelah 2 centong nasi berpindah dari wakul ke piring Lek Karyo ternyata ada satu butir nasi yang telah jatuh di atas meja.
Waktu itu saya hanya duduk dan berusaha diam menunggu komentar yang nyletuk melalui mulut Lek Karyo.
"Kowe ngerti alasan, bojoku jupuk maneh sego sing tibo masio sak glintir?", tanya Lek Karyo tiba-tiba.
Saya menggelengkan kepala langsung dan berusaha tidak menerka bahkan mencari jawaban atas pertanyaan yang beliau berikan.
"Sing jenenge wujude rezeki kuwi barokahing Gusti. Biso mangan sego kuwi wis beruntung. Awake dewe durung reti wujuding barokah neng sego kuwi sing neng endi. Biso ugo sing ndadeke awake dewe berkah kuwi neng sego sing tibo mau. Makane bojoku ngregani wujuding upo masio jumlahe siji", tandas Lek Karyo.
Kembali kepala saya hanya tertunduk, meresapi nasihat Lek Karyo.

Menuso Golek Ono


Sehabis isya'an tadi, saat kaki Lek Karyo melangkah keluar dari masjid. Saat itu juga, beliau bergegas menghampiri sepeda onthel merek fongres menuju Warung Megono Kang Dullah.
Entah karena Lek Lastri istrinya hari ini tidak masak, beliau memesan 2 , nasi megono beserta tempe. Saat setelah duduk di warung, kemudian beliau berseloroh,
"Megonone 2 bungkus, Kang Dullah...bungkus! karo tempe", celetuk Kang Karyo.
"Oh walah....Lek Karyo, nembe teko mesjid Lek?" ,tanya Kang Dullah.

"Iyoo Iki Kang....lagi nggolek sangu megono",
"Gene, sangu megono?",tanya Kang Dullah penasaran.


"Owalah, megono kuwi tegese menungso golek ono Kang!"
"Ooh....ngoten Lek Karyo?kayake menarik iki jawabanmu?",tanya balik.

"Jaman biyen kuwi wong tuwo dewe wes nduweni sifat kanthi luhur. Sejatine megono kuwi menungso dikon nggolek ono. Tegese nggolek sangu kangge urip sak pungkase neng ndunyo", jawab Lek Karyo
Sembari nggoreng tempe, Kang Dullah menanggapi penjelasan dari Lek Karyo.
"Owalah aku nembe ngerti Lek, lha kok megono kuwi bahane seko gori Kuwi maksude kepriye Lek Karyo?"
"Hahaha....sampeyan kepo, Kang Dullah!"

"Bahan megono kuwi seko gori, alias gogoh ri. Gogoh kuwi artine nggoleki utowo madosi. Nah, istilah ri kuwi balung iwak sing kadang biso ngelarani lan kudu dibuang. Mulo gogoh ri tegese nggoleki eleke awake dhewe. Nek dienggo neng bebrayan masyarakat gori kuwi ngakon uwong dikon nggoleki lepate awake dhewe ketimbang nggoleki lepate wong liya".
"Nah ...kok megono artine keren ngunu Lek Karyo?".

"Kandani...owg, mulo awake dhewe nek wis mangan megono, kudu sregep golek sangu lan usaha ojo tumindak olo. Sregep nggoleki ri awake dhewe, (utawa goleki lepate dhewe) kuwi tansah luweh becik tinimbang nggoleki salahe wong liya".

"Jebule mangan megono kuwi ngajak wong tumindak apik yo Lek?"
"Nah... Iyo, milo wong Pekalongan kuwi kadi mbiyen dikenal santri mergo, sifate kanti welas asih ngilangke roso sembrono", pungkas Lek Karyo.

Makna Pernikahan


Ada banyak seseorang yang terjebak dari makna mencintai lalu kemudian harus menikah.
Tuhan memberi kebahagiaan bagi pasangan yang menikah berdasarkan atas cinta keduanya. Namun, harus diyakini, bagi Tuhan sangat mudah memberi kebahagiaan pasangan menikah karena memang waktunya ia harus menikah.
Lalu pernahkah kita bertanya lebih bahagia mana dari skema proses keduanya?
Semuanya berpotensi menuju proses belajarnya. Cinta itu akan semakin tumbuh atau layu bahkan menjadi mati yang menumbuhkan kebencian.
Pada dasarnya cinta itu datangnya tiba-tiba, bisa sama-sama dibangun atau bahkan bisa lebih berpotensi merusak seperti perselingkuhan.
Cinta akan selalu akan datang setelah masa pernikahan. Bisa datang dari keduanya yang lebih mengharmoniskan ataupun orang lain yang mencoba merusaknya.

Tingkat Menyenangkan Hati


Bagi Lek Karyo, bersepeda merupakan hal paling memudahkan dibandingkan dengan jalan kaki. Begitu, saat dia mengharuskan jalan kaki maka dia akan selalu bersyukur bisa menikmati nikmat berjalan. Rumusnya untuk hidup bahagia itu baginya terlalu mudah.
Sampai Kang Drakim itu bertanya, "Bagimu, menjemput bahagia itu darimana Lek Karyo?"
"Owalah, kamu masih bisa bernafas saja sudah termasuk orang bahagia melebihi segalanya", sahut Lek Karyo.
"Lho..kok bisa?",sergah Kang Drakim.
"Manusia bernafas itu masih ada harapan kebaikan bagi dirinya. Kang!."
"Terus biar bahagianya itu langgeng bagaimana Lek?", tanya kembali Kang Drakim.
"Nah, pencapaian tertinggi manusia itu bisa menyenangkan orang lain. Dengan begitu egomu akan turun dan kamu akan lebih rendah hati. Percayalah kebahagiaan akan didatangkan dari hal apa saja", jawab Lek Karyo.
"Lalu bagaimana dengan seseorang yang serakah Lek Karyo?"
"Orang yang serakah itu masih dalam proses menuju kebaikan. Karena dari serakah itu masih ada potensi untuk menjadi orang dermawan. Itu hanya persoalan hati Kang. Biar Tuhan sendiri yang menggerakkan", pungkas Lek Karyo.

Perkelahian Pemuda


Di perempatan jalan desa Lek Karyo melerai 2 pemuda yang berkelahi yang konon merebutkan pujaan hatinya. Kemudian 2 pemuda tersebut akhirnya didudukan kemudian Lek Karyo memberikan sayembara.
"Kalau sampeyan benar-benar cinta kepada perempuan anak Pak Lebe, kira-kira bisa kah sampeyan menerima tawaran tantangan saya?"
"Oke Lek, aku terima", kata pemuda pertama. Pandangan Lek Karyo tertuju ke pemuda kedua, "Oke, siapa takut", sahut pemuda kedua.
"Baik lah, pemuda. Jika memang kalian sungguh mencintai perempuan itu kalian pulanglah belajar dari ibumu dan janganlah sekali-kali kamu menemuiku, sebelum benar-benar bisa membuat ibumu tersenyum. Antar kesini dan tunjukan senyum ibumu. Jika itu belum jangan berharap kamu mendapatkan perempuan itu", kata Lek Karyo.
Dua pemuda itu hanya diam lebih redam darah berkelahinya.