Thursday, 5 December 2019

Main Catur


Setelah bermain karambol bosan, kembali Lek Karyo mencoba berinisiatif agar warganya tetap menghadiri tugas rutin malamnya. Di bawanya papan catur dari rumah kemudian digelar bersama Kang Drakim, Lek Supeno dan Rudin.
Sambil memegang hape Lek Supeno bertanya,
"Ganti maneh iki permainan e?"
"Iyo....oo...kareben rame pos kamlinge".
"Lek Karyo....Lek Karyo...tak ajak mikir utangku ben biso cepet lunas. Malah iki aku, ken mikiri kayu!"
"Lha...bisone?"
"Nah kuwi....ono pion, ono rojo, ono plencung, kuwi kan kayu kabeh. Aku kon mikiri ngunu...Sori kenceng, kukut gasik Lek!"
"Yo...wis ben...dari pada mikiri daging lempit malah akeh dosone".
"Hhahahahaa.....Jan semprul Kowe Lek Karyo!", tukas Lek Supeno.

Sarung dan Karung


Semenjak mulainya grumungan di pos kamling, Kang Drakim banyak diamnya. Bukannya apa, dia masih mikir. Bagaimana membalas joke candaannya Lek Karyo. Sampai waktunya pun ia bertanya ke Lek Karyo.
"Sampeyan aneh tho Lek Karyo?"
"Aneh piye?"
"Sarungmu bolong...kok pancet wae di enggo?"
"Iyo toh?Bojoku, gemati sarungku masio elek ora tau nyiapke sarung bolong"
"Tenane?"
"Nah...Kuwi sarungmu nek ora bolong ora keno dienggo Lek!"
"Owalah...Asemm....Iyo....iyoo....gobloke aku Yo, ora mikir tekan semunu!"
"Hahaha....tak bales guyonanmu Lek", seloroh Kang Drakim.
"Ngomong-ngomong sarung Kang, aku duwe pertanyaan".
"Opo Lek Karyo?"
"Bedane sarung karo karung opo Kang Drakim menurutmu?"
"Yo mesti bedo, bentuke karo bahane"
"Yo...sing kreatif jawabanmu Kang!"
"Opo Yo?....nyerah wis!
"Karung kuwi biasane ngge wadah opo bae tapi tetep kalah karo sarung"
"Lha...nek sarung piye Lek?"
"Nek sarung kuwi kanggo ngge wadah barang sing berharga sing ora ono gantine".
"Huaaaa...hahaaa...semprul....sampeyan Lek!...nyerah aku...hahahaa..."
Top of Form

Yuk Nyoblos Lurah Kauman


Hari ini Rabu (13/11), kampung saya mengadakan acara pemilihan kepala desa. Berada di halaman madrasah, pemungutan suara itu berlangsung penuh kebersamaan. Kesibukan Pak Hansip sudah bediri mengatur antrian. Begitu pula petugas pendaftaran yang tak pernah selesai menerima surat undangan pemungutan suara dari warga. Ada juga petugas yang memakai udeng Jawa bagi saya, ini pemandangan menarik diperhatikan. Secara umum, wajah panitia pemilihan kepala desa menyambut hangat dengan penuh senyuman.

Ada bedanya dari pesta demokrasi baik Pilkada ataupun Pilpres. Warga sekitar antusiasnya begitu dekat secara langsung kepada calon kepala desa. Momen ini secara pro-aktif warga berfoto ria layaknya jumpa fans kepada idolanya.

Kesibukan calon kepala desa juga jauh sebelum hari pemilihan, turut meramaikan semangat menuju pemilihan. Para calon kepala desa juga turut memohon doa restu, secara langsung ataupun melalui pesan foto MMT yang berjejer di setiap sudut jalan desa.

Semarak kebersamaan warga sangat menunjukkan bahwa mereka adalah kumpulan satu kesatuan rakyat yang singgah dalam satu desa. Mereka berduyun-duyun datang dengan mengenakan pakaian terbaik demi menyambut pesta demokrasi bersama. Senyum kebahagiaan mereka tercurah, karena sejatinya pemungutan suara adalah pesta layaknya sebuah hajatan besar di desa.

Semoga pesta demokrasi ini selalu mendatangkan senyum kebahagiaan, sejalan dari awal hingga akhir. Kemenangan kepala desa akan selalu menjadikan keberkahan bersama, serta siklus kerukunan hidup bermasyarakat tetap berjalan seiring sejalan berkembangnya pemerintahan 6 tahun ke depan. Amin amin